KEINDAHAN SENI RUPA DALAM PERSPEKTIF ISLAM

13.38 Edit This 0 Comments »
 Contoh Arsitektur Islam

 Kaligrafi Islami

 Kaligrafi Islami

KEINDAHAN SENI RUPA DALAM PERSPEKTIF ISLAM
Oleh Eko Kimianto, S.Pd
 
           Manusia memang tidak bisa lepas  dengan keindahan hasil karya ciptanya sendiri. Hasil karya cipta  yang mempunyai unsur keindahan yang berasal dari nurani manusia ini yang disebut dengan seni.Seni merupakan ekspresi keindahan. Keindahan yang dihasilkan dari tangan kreatif manusia inilah yang dikategorikan seni, sedangkan keindahan di luar hasil karya cipta manusia tidak dapat dikatakan sebagai seni.Keindahan alam semesta bukan sebuah seni, karena bukan hasil karya manusia. Tetapi hal tersebut bisa menjadi bahan inspirasi untuk membuat suatu karya seni.
          Dalam Ensiklopedi Indonesia disebutkan bahwa seni adalah penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam jiwa manusia, yang dilahirkan dengan perantaraan alat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indera pendengar (seni suara), indera penglihatan (seni lukis), atau dilahirkan dengan perantaraan gerak (seni tari, drama). Dilihat dari ruh ajaran Islam dan kaedahnya Islam tidak melarang sesuatu yang baik, indah dan kenikmatan yang diterima akal sehat. Sebagaimana dalam Surah Al-Maidah ayat 4 "Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang dihalalkan Allah, katakanlah dihalalkan kepadamu segala yang baik-baik". 
           Alam semesta adalah karya agung dari Allah SWT yang mempunyai unsur keindahan yang luar biasa, semua itu bukanlah suatu karya seni. Kekaguman manusia atas keagungan Allah SWT dengan segala ciptaanNya tersebut, timbulah suatu inspirasi untuk berkreasi. Kreasi yang  timbul dari nurani manusia atas kekaguman terhadap segala yang ada di alam semesta ini terciptalah suatu karya seni melalui coretan, goresan, pewarnaan maupun pembentukan objek yang terampil dari manusia sebagai pencipta seni (seniman).
          Allah juga mengajak manusia untuk melihat dari perspektif keindahan, bagaimana buah-buahan yang menggantung di pohon dan bagaimana pula buah-buahan itu dimatangkan. Jika manusia memerhatikan dan menikmati dengan pandangan yang indah, saat arak-arakan binatang ternak saat masuk ke kandang, juga saat dilepaskan ke tempat penggembalaan, sesungguhnya pada peristiwa itu ada unsur keindahannya. Ajakan-ajakan kepada manusia tersebut menunjukkan, pada dasarnya manusia dianugerahi Allah potensi untuk menikmati dan mengekspresikan keindahan. Seni merupakan fitrah dan naluri alami manusia. Kemampuan ini yang membedakan manusia dengan makhluk yang lain. Karena itu, mustahil bila Allah melarang manusia untuk melakukan kegiatan berkesenian.
             Menurut Sayyid Quthb, pada masa Rosulullah, kaum muslim masih dalam tahap penghayatan nilai-nilai Islam dan memfokuskan pada pembersihan gagasan-gagasan jahiliyah yang sudah meresap dalam jiwa masyarakat sejak lama. Sedangkan sebuah karya seni lahir dari interaksi seseorang atau masyarakat dengan suatu gagasan, menghayati dengan sempurna sampai menyatu dengan jiwanya. Karena itu, belum banyak karya seni yang tercipta pada masa awal perkembangan Islam.
         Pembatasan-pembatasan terhadap seni rupa memang sangat dibutuhkan supaya manusia tidak takabur dan berlaku sombong dalam berkreasi seni. Hal ini untuk menghindari dari hasil karya seni yang dapat menjerumuskan manusia pada tingkah laku syirik yang dapat membawa kemudlaratan dan bencana bagi manusia sendiri.  Kehati-hatian itu dimaksudkan agar mereka tidak terjerumus kepada hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang menjadi titik perhatian utama dalam mengarungi bahtera kehidupan.  
         Atas dasar kehati-hatian ini pulalah hendaknya dipahami hadits-hadits yang melarang menggambar atau melukis dan memahat makhluk-makhluk hidup. Apabila seni membawa manfaat bagi manusia, memperindah hidup dan hiasannya yang dibenarkan agama, mengabadikan nilai-nilai luhur dan menyucikannya, serta mengembangkan serta memperhalus rasa keindahan dalam jiwa manusia, maka sunnah Nabi mendukung, tidak menentangnya.
           Kesenian Islam baru berkembang dan mencapai puncak kejayaan pada saat Islam sampai di daerah-daerah Afrika Utara, Asia Kecil, dan Eropa. Daerah-daerah tersebut didefinisikan sebagai Persia, Mesir, Moor, Spanyol, Bizantium, India, Mongolia, dan Seljuk. Di daerah-daerah tersebut, Islam membaur dengan kebudayaan setempat. Terjadilah pertukaran nilai-nilai Islam dengan budaya dan seni yang menghasilkan ragam seni yang baru, berbeda dengan karakter seni tempat asalnya.
          Seni yang didasarkan pada nilai-nilai Islam [agama/ketuhanan] inilah yang menjadi pembeda antara seni Islam dengan ragam seni yang lain. Titus Burckhardt, seorang peneliti berkebangsaan Swiss-Jerman mengatakan, “Seni Islam sepanjang ruang dan waktu, memiliki identitas dan esensi yang satu. Kesatuan ini bisa jelas disaksikan. Seni Islam memperoleh hakekat dan estetikanya dari suatu filosofi yang transendental.” Ia menambahkan, para seniman muslim meyakini bahwa hakekat keindahan bukan bersumber dari sang pencipta seni. Namun, keindahan karya seni diukur dari sejauh mana karya seni tersebut bisa harmonis dan serasi dengan alam semesta. Dengan begitu, para seniman muslim mempunyai makna dan tujuan seni yang luhur.
         Allah telah memberikan kepada manusia sebuah kemampuan dan kebebasan untuk berkarya, berpikir dan menciptakan suatu karya seni. Di sini, Islam mengakui bahwa seni merupakan hasil karya manusia. Sedang agama adalah pemberian Allah untuk kemaslahatan manusia itu sendiri. Suatu pemberian Allah kepada manusia untuk mengarahkan dan membimbing karya-karya manusia agar bermanfaat, berkemajuan, mempunyai nilai positif dan mengangkat harkat martabat manusia. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu beramal dan berkarya, untuk selalu menggunakan pikiran yang diberikan Allah untuk mengolah alam dunia ini menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kepentingan manusia.
        Islam pada prinsipnya telah membagi seni rupa menjadi tiga macam : Pertama, seni rupa  yang tidak bertentangan dengan Islam. Kedua, seni rupa yang sebagian unsurnya bertentangan dengan Islam , kemudian di “ rekonstruksi” sehingga menjadi Islami. Ketiga, seni rupa yang bertentangan dengan Islam. Dari ketiga prinsip tersebut tentunya yang pertama adalah yang paling baik, karena tidak bertentangan dengan dasar hukum Islam. Seni rupa yang jelas diperbolehkan contohnya, seni kaligrafi, arsitektur masjid atau seni bangun yang tidak melanggar prinsip islam, keramik untuk pemenuhan kebutuhan rumah tangga, seni mode pakaian islami, seni batik islami, lukisan tentang keindahan alam.
         Secara tekstual Nabi saw mengatakan: Sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung adalah Indah dan Dia menyukai keindahan, H.R. Ahmad dari ‘Uqbah bin Amir. Itulah sebabnya indah dalam pandangan Islam berlaku manakala sebuah karya seni dapat membawa kesadaran pencipta seni maupun penikmatnya kepada ide transendensi Ilahiah. Kalau Nabi saw mengatakan demikian, maka diyakini kebenarannya oleh umat Islam. Dalam sejarah Islam, para sufi dan sastrawan menghayati dan mencintai Tuhan dalam taraf cinta asketik dan mengungkapkannya Tuhan sebagai Yang Maha Indah.
          Tujuan Islam turun di muka bumi ini sebagai rahmat dan berkah bagi alam semesta,seperti yang tercantum dalam firmanNya: Dan tidak Aku utus engkau (Muhammad), kecuali untuk rahmat bagi alam semesta (Q.S. al-Anbiya/22 : 107), maka seni, sebagai bagian  integral dari Islam., harus juga sinergi dengan tujuan risalah ini. Seni dalam pandangan Islam adalah seni yang fungsionalis. Dalam firman Allah yang artinya: “Katakanlah :Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkannya untuk hamba-hamba-Nya (siapa pula yang mengharamkan) rezeki yang baik ? katakanlah semua itu bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat’ ( Q.S. al-A’raf/7 : 32). Yang dimaksud perhiasan adalah segala sesuatu yang mendatangkan keindahan. Perhiasan dengan demikian adalah karya seni, dan seni sebagaimana diisyaratkan dalam ayat itu adalah fungsionalisme, bukan hanya bagi atribut kehidupan orang beriman di dunia, melainkan hingga ke akhirat kelak.
          Begitulah keindahan seni rupa dalam perspektif Islam, Islam tidaklah kaku tetapi tegas dalam memberikan batasan seni rupa yang diperbolehkan dan karya seni rupa yang tidak diperbolehkan (dilarang). Karena prinsip utamanya adalah tidak merusak ketaukhitan dalam beragama, meng”ESA”kan Allah dan tidak menyekutukan Allah lewat karya seni yang dibuat oleh manusia. Melalui karya seni rupa diharapkan manusia akan lebih mendekatkan diri pada Allah dan menambah rasa syukur atas nikmat yang diberikanNya. Semoga bermanfaat, kurang lebihnya penulis mohon maaf jikalau ada kekurangan dalam menjabarkannya.

SENI LUKIS MENINGKATKAN PERKEMBANGAN PSIKOMOTOR ANAK

13.29 Edit This 0 Comments »
 Lukisan Cat Air Karya Aryo Sunaryo

 Lukisan Cat Air Karya Aryo Sunaryo

 Lukisan Cat Air Karya Aryo Sunaryo

SENI LUKIS MENINGKATKAN PERKEMBANGAN PSIKOMOTOR ANAK
Oleh : Eko Kimianto,S.Pd
          Kemampuan  manusia pada dasarnya terbagi menjadi 3 ranah kemampuan. Menurut Benjamin S. Bloom tiga ranah kemampuan manusia (dalam hal ini seorang anak) tersebut meliputi kemampuan kognitif, kemampuan afektif dan kemampuan psikomotor.
         Kemampuan kognitif yaitu  kemampuan anak yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berfikir. Kemudian kemampuan afektif merupakan suatu kemampuan yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri. Sedangkan terakhir adalah kemampuan psikomotor yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, menggambar, melukis, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.
          Tiga kemampuan tersebut pada setiap anak tidak bisa disamaratakan. Artinya seseorang yang mahir pada ranah yang satu belum tentu mempunyai tingkat kemahiran yang sama dengan ranah yang lainnya. Tingkat kemampuan kognitif yang dimiliki seorang anak tidak bisa disamakan dengan tingkat kemampuan psikomotor yang dikuasainya, begitu pula untuk tingkat kemampuan afektifnya.
          Sudut pandang keliru tentang kemampuan ini sering ditemukan pada anggapan masyarakat umum atau bahkan pada masyarakat tertentu yang berkecimpung dalam pendidikan sekalipun. Hal ini memang terasa ironis sekali, tetapi begitulah kenyataannya. Contohnya seseorang yang pandai pada mata pelajaran Matematika, IPA maupun IPS, menurut pandangan masyarakat tertentu pastilah akan pandai di bidang Seni Budaya atau Penjasorkes. Pandangan tersebut tidaklah tepat, karena kemampuan intelegensi kognitif (Matematika, IPA, IPS) sangat berbeda dengan kemampuan intelegensi psikomotor (Seni Budaya, Penjasorkes). Hal ini tentunya tidaklah tepat.
          Dalam tema tulisan ini memang tidak mengungkap tentang perbedaan antara ranah yang satu dengan ranah yang lain. Tetapi hal tersebut untuk mendasari pengetahuan tentang perkembangan psikomotor anak. Bahwa seorang anak akan berkembang optimal apabila ketrampilan motoriknya secara rutinitas di latih dengan tepat. Salah satu latihan motorik tersebut adalah berlatih membuat suatu karya seni lukis.
          Perkembangan psikomotorik anak adalah perkembangan kepribadian anak yang berhubungan dengan gerakan jasmaniah dan fungsi otot akibat adanya dorongan dari pemikiran, perasaan dan kemauan dari dalam diri seseorang. Kekhasan dari keterampilan motorik adalah otomatisme, yaitu rangkaian gerak-gerik yang berlangsung secara teratur dan berjalan lancar tanpa dibutuhkan banyak refleksi atau berfikir terhadap apa yang harus dilakukan dan mengapa harus mengikuti suatu gerakan.

         Beberapa perkembangan psikomotorik anak dipaparkan oleh Hurlock (1996) sebagai berikut :
1.      Melalui ketrampilan motorik, anak dapat menghibur dirinya dan memperoleh perasaan senang. Seperti anak merasa senang memiliki ketrampilan membuat suatu gambar atau bentuk lukisan dasar yang sederhana.
2.      Melalui peningkatan potensi perkembangan psikomotorik anak dapat menyesuaikan dangan lingkungan sekolah. Pada masa pra sekolah atau pada masa awal sekolah dasar, anak sudah dapat dilatih menulis menggambar melukis dan baris berbaris.
3.      Melalui peningkatan potensi perkembangan psikomotorik yang normal memungkinkan anak dapat bermain dan bergaul dengan teman sebayanya, sedangkan yang tidak normal akan menghambat dalam bergaul dengan teman sebayanya, bahkan dia akan terkucilkan atau menjadi anak yang terpinggirkan.
4.      Peningkatan potensi perkembangan psikomotorik sangat penting bagi perkembangan self concept (kepribadian anak).

          Teknik yang bisa digunakan untuk mengembangkan potensi psikomotorik pada anak diantaranya adalah model permainan atau out bond, model meniru, model kelompok belajar dan bermain. Stimulasi untuk meningkatkan potensi psikomotorik dapat dilakukan diantaranya dengan cara : diberikan dasar dasar ketrampilan untuk menulis, menggambar, melukis, ketrampilan berolah raga atau menggunakan alat olah raga, gerakan-gerakan permainan, seperti melompat memanjat dan berlari, dan baris berbaris secara sederhana.

          Dalam paparan di atas menunjukkan begitu pentingnya perkembangan kemampuan psikomotor anak. Seni lukis merupakan salah satu untuk mengoptimalkan kemampuan psikomotor tersebut. Seni lukis pada dasarnya adalah sarana berimajinasi anak lewat kemampuan ketrampilan tangannya untuk diungkapkan dalam bentuk visual. Visualisasi ini tak dapat dinilai sekedar baik tidaknya suatu bentuk objek lukis tetapi lebih daripada itu. Yaitu bagaimana ide dan kreativitas anak dapat diungkapkan dengan bentuk-bentuk gambar sesuai dengan tingkat daya nalar mereka. Biarlah si anak mengungkapkannya dengan realitas imajinasi yang dimilikinya. Sehingga terkadang sangat bertentangan dengan wawasan dan pemikiran yang dimiliki oleh orang dewasa. Tetapi hal itu biarkanlah karena mereka mempunyai imajinasi realitas yang sesuai dengan tingkat penalarannya.
         
            Menurut Ensiklopedia bebas dari Wikipedia berbahasa Indonesia, dikatakan bahwa seni lukis adalah salah satu cabang dari seni rupa. Dengan dasar pengertian yang sama, seni lukis adalah sebuah pengembangan yang lebih utuh dari menggambar. Melukis adalah kegiatan mengolah medium dua dimensi atau permukaan dari objek tiga dimensi untuk mendapat kesan tertentu. Medium lukisan bisa berbentuk apa saja, seperti kanvas, kertas, papan, dan bahkan film di dalam fotografi bisa dianggap sebagai media lukisan. Alat yang digunakan juga bisa bermacam-macam, dengan syarat bisa memberikan imaji tertentu kepada media yang digunakan oleh kapur baros.

             Bagi seorang anak dengan adanya kebebasan di dalam mengolah berbagai alat maupun media yang ada dan menghasilkan bentuk sesuai dari nilai rasa seorang anak, tentunya membuat seorang anak senang. Anak merasa tidak tertekan dalam mengungkapkan perasaannya. Anak akan bebas dan seluas mungkin dalam berimajinasi dalam berkarya. Bentuk objekpun tidak terikat dengan bentuk yang telah dikenal seorang anak, malah mereka dapat sesuka hati untuk mengembangkannya ke arah bentuk sesuai tingkatan dan selera yang diinginkannya.

            Kebebasan yang tidak mengikat diri seorang anak membuat mereka secara tidak langsung akan selalu berlatih untuk mencoba dan mencoba lagi. Proses selalu mencoba yang mempunyai intensitas lebih inilah yang disebut proses pengembangan psikomotor anak melalui berkarya seni lukis. Proses berkembangnya  kemampuan psikomotor pada diri anak diusahakan untuk selalu mengesampingkan unsur bentuk dari lukisan. Teknik abstraksi yang berkembang pesat seiring merebaknya seni kontemporer saat ini berarti tindakan menghindari peniruan objek secara mentah. Hal ini anak akan lebih senang karena mereka tidak harus membuat sesuatu yang dituntut sama dan membutuhkan suatu ketrampilan yang mempersulit dirinya. Anak ingin lebih enjoy dalam mengungkapkan kesenangannya tanpa harus menuruti kriteria-kriteria yang mengikat. Hal inilah yang membuat mereka akan lebih berkembang kemampuannya terutama dalam ranah psikomotor.

            Secara prinsip memang lukis berbeda dengan gambar. Lukis lebih mengutamakan kemampuan anak untuk mengungkapkan segala isi hatinya dalam bidang dua dimensional secara bebas tanpa batas-batas aturan yang mengungkung dan menakuti anak untuk berlatih mengasah ketrampilannya. Sedangkan gambar akan lebih menekankan pada teknik yang harus dipelajarinya sehingga objek yang digambar dapat direalisasikan sesuai dengan kemiripan bentuk objek yang dicontoh tersebut. Anak biasanya lebih sulit untuk mengikutinya. Jiwa anak yang masih bebas inilah sebenarnya yang membuat anak akan lebih mudah mengikuti dan lebih senang untuk mencoba berlatih dan mengembangkan diri dalam seni lukis dibandingkan dengan menggambar. Menggambar bagi anak terlalu rumit dan terlalu banyak aturan.

           Seni lukis sesuai jiwa dan ekspresi anak merupakan unsur yang dianggap mampu memberikan sensasi keberadaan objek. Rasa suka ini semakin diperkuat untuk menggantikan unsur bentuk yang dikurangi porsinya. Abstraksi atau kebebasan bentuk ini disebut juga sebagai salah satu pendorong anak-anak untuk lebih suka mencoba berlatih seni lukis.

            Kesukaan anak ini memang sebagai salah satu penyebab utama untuk mengembangkan ketrampilan motorik yang dimilikinya. Kemampuan yang baik dimulai dari rasa suka terlebih dahulu. Rasa suka maupun hobi ini akan meningkatkan kemauan untuk mencoba membuat dan mencoba untuk secara tidak langsung berlatih dengan rutinitas yang optimal. Dengan selalu mencoba berarti akan semakin banyak dan sering untuk mengasah ketrampilan yang dimilikinya. Dan semakin lama akan semakin meningkat pula kualitas kemampuan psikomotornya dalam hal ini meningkatkan pula di dalam berkarya seni lukis.

           Seni lukis untuk anak memang berbeda dengan seni untuk orang dewasa karena karakter fisik dan mentalnya berbeda. Anak akan mudah tersanjung dengan memberikan pujian terhadap hasil kemampuannya dan sesuatu yang disuka itu juga mendapatkan dukungan dari lingkungannya. Begitu pula sebaliknya, anak akan mudah patah semangat apabila kesukaannya itu direndahkan atau dicaci maki. Oleh karena itu dalam mengembangkan kemampuan psikomotor anak, seharusnya juga disertai penghargaan hasil karya yang telah di selesaikannya. Untuk itu seni lukis yang telah dapat dibuatnya, juga perlu diberikan sanjungan setimpal.

            Dengan demikian, apabila semua unsur yang mendukung di atas itu bisa dilakukan, seni lukis akan benar-benar dapat meningkatkan perkembangan kemampuan psikomotor anak secara optimal. Tinggal kendala penghambatnya itu dapat diminimalisir atau tidak. Jikalau kendala tersebut juga dapat diatasi semua secara teoritis peningkatan kemampuan ketrampilan motorik anak akan benar-benar dapat berkembang secara optimal secara realita kehidupan dilapangan.

KARYA SENIRUPA SEBAGAI SARANA AMAR MA'RUF NAHI MUNKAR

13.23 Edit This 0 Comments »
 Hewan Untuk Manusia karya Abdul Aziz Akhmad, 2012

                                             Lukisan Kaligrafi Karya Abdul Aziz Akhmad

KARYA SENI RUPA SEBAGAI SARANA AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR
Oleh : Eko Kimianto, S.Pd
       Seni rupa memang bukanlah dunia hingar bingar  layaknya kehidupan selebritas. Seni rupa juga bukan dunia hitam yang penuh kemuraman dan kepedihan hidup. Seni rupa seakan tak ada andil dalam berbagai sudut kehidupan. Seni rupa seakan tak begitu penting dalam kancah perekonomian, perpolitikan, sosial dan keagamaan. Tetapi seni rupa pada realitanya selalu menyertai dalam berbagai segi kehidupan tersebut, tidak terkecuali bidang ekonomi, politik, sosial maupun agama. Sejarah telah membuktikan peran seni rupa yang begitu penting dalam segala unsur kehidupan manusia.
      Seni rupa telah melebur dalam segala bentuk kehidupan pada diri manusia. Seni rupa memberikan gambaran akan corak budaya yang telah tertanam dalam tatanan kehidupan sosial kemasyarakatan. Sehingga dengan karya seni rupa inilah tercermin gambaran kehidupan sebenarnya yang ada dalam masyarakat tersebut. Masyarakat akan terlihat modern, maju, tertinggal, tertekan dan terjajah bisa terlihat dari visualisasi kehidupan seninya.
      Mungkin pemahaman tersebut terlihat agak sulit dimengerti. Tetapi sebenarnya mudah untuk dipahami. Ambil contoh misalnya, dalam menata arsitektur rumah tinggal, memilih perabotan rumah tangga, televisi, kulkas, otomotif, sampai kepada pembelian piring, sendok, garpu, dan segala macam barang yang kita gunakan di kota, akan berbeda pula dengan kehidupan di desa. Begitu pula hampir semua benda yang dibutuhkan baik yang memiliki kaitan dengan rasa keindahan dan seni, seperti kain tenun, keris, batik, ornamen, busana, keramik, perhiasan, alat musik, dan banyak lagi. Hal ini menggambarkan seni rupa telah menyatu dalam pola tatanan kehidupan yang ada dimasyarakat kota maupun desa.
       Seni rupa yang selalu menyertai dalam segala segi kehidupan inilah, menjadi satu bentuk nyata bahwa karya seni rupa merupakan salah satu sarana untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar. Lewat karya seni rupa ini manusia, bisa mengeluarkan segala isi hatinya untuk berbuat baik dan menjauhkan diri dari perbuatan yang tercela. Pada dasarnya manusia mempunyai nurani untuk selalu berbuat baik bagi dirinya maupun orang lain. Nurani manusia akan menghindari sekiranya sesuatu yang dilakukannyaitu tidak baik buat dirinya dan orang lain.
      Setiap manusia dianugerahi oleh Allah perasaan keindahan, sadar atau tidak manusia menerapkan rasa keindahan ini dalam kehidupan sehari-hari. Dalam aktivitas kesenirupaan, baik dalam proses penciptaan, pengkajian, dan penyajiannya senantiasa dipandu oleh rasa keindahan yang sifatnya esensial dalam seni. Pada hakikatnya pengalaman menikmati rasa keindahan itu memberikan kebahagiaan spiritual bagi manusia. Oleh sebab itu sudah selayaknya manusia mensyukuri anugerah Allah itu, dan memuliakan NamaNYA. Rasa syukur dalam aktivitas kehidupan kesenirupaan kesehariannya akan berujud pada perilaku untuk beramar ma’ruf nahi munkar.
      Sekilas akan dijabarkan mengenai pengertian sebenarnya tentang “Amar Ma’ruf Nahi Munkar”. Menurut ilmu bahasa, arti amar ma’ruf nahi munkar ialah menyuruh kapada kebaikan ,mencegah kejahatan. Amar = menyuruh, ma’ruf = kebaikan, nahi = mencegah,  munkar = kejahatan. Amar ma'ruf nahi munkar (al`amru bil-ma'ruf wannahyu'anil-mun'kar) adalah sebuah frasa dalam bahasa Arab yang maksudnya sebuah perintah untuk mengajak atau menganjurkan hal-hal yang baik dan mencegah hal-hal yang buruk bagi masyarakat. Frasa ini dalam syariat Islam hukumnya adalah wajib.
       Dalil tentang Amar Ma’ruf Nahi Munkar seperti yang tercantum dalam Al-Quran surah Luqman ayat 17 yang berbunyi sebagai berikut: 
            يَابُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاَةَ وَأمُر بِالمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ المُنكَرِ وَاصبِر عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِن عَزمِ الأُمُورِ(17)
    
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (Luqman 17)
       Jika kita tidak mau melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, maka Allah akan menyiksa kita dengan pemimpin yang zhalim dan menindas kita dan tidak mengabulkan segala doa kita:
“Hendaklah kamu beramar ma’ruf (menyuruh berbuat baik) dan bernahi mungkar (melarang berbuat jahat). Kalau tidak, maka Allah akan menguasakan atasmu orang-orang yang paling jahat di antara kamu, kemudian orang-orang yang baik-baik di antara kamu berdo’a dan tidak dikabulkan (do’a mereka)”. (HR. Abu Dzar)
      Dipandang dari sudut syariah perkataan amar ma’ruf nahi munkar itu telah menjadi istilah yang merupakan ajaran (doktrin) pokok agama islam, malah menjadi tujuan yang utama. Mengenai hal ini abul a’la al-maududi menjelaskan bahwa tujuan yang utama dari syariat ialah untuk membangun kehidupan manusia diatas dasar ma’rufat (kebaikan- kebaikan ) dan membersihkannya dari hal-hal yang munkarat (kejahatan-kejahatan). Lebih jauh, beliau memberikan definisi sbb : ” istilah amar ma’ruf nahi munkar itu menunjukan semua kebaikan-kebaikan dan sifat-sifat yang baik, yang sepanjang massa diterima oleh hati nurani manusia sebagai sesuatu yang baik.
      Sebaliknya istilah munkarat ( jamak dari munkar ) menunjukan semua dosa dan kejahatan – kejahatan yang sepanjang masa telah di kutuk oleh watak manusia sebagai satu hal yang jahat. Walhasil, ma’ruf menjadi hal yang sesuai dengan watak manusia pada umumnya dan kebutuhan-kebutuhannya, sedangkan munkarat ialah kebalikannya.
      Syariat memberikan satu pandangan yang jelas tentang ma’rufat dan munkarat tersebut dan menyatakannya sebagai norma-norma  yang segala sesuatu harus di sesuaikan dengannya, baik itu perilaku seseorang ataupun masyarakat”
      Amar ma'ruf nahi munkar dilakukan sesuai kemampuan, yaitu dengan tangan (kekuasaan) jika dia adalah penguasa/punya jabatan, dengan lisan atau minimal membencinya dalam hati atas kemungkaran yang ada, dikatakan bahwa ini adalah selemah-lemahnya iman seorang mukmin.
      Kewajiban ber-amar ma’ruf nahi munkar dapat dituangkan dalam berbagai bentuk karya seni rupa. Dengan kata lain seni rupa merupakan penuangan ide maupun langkah nyata untuk dapat ber-amar ma’ruf nahi munkar. Berbagai hal yang berkaitan langsung maupun tak langsung dengan seni rupa bisa sebagai sarana untuk berbuat baik dan mendorong menjauhi perbuatan kurang baik, mungkar atau tercela.
     Seni rupa yang  dikatakan ma'ruf  adalah seni rupa yang tercipta karena fitrah yang bersih dan akal yang sehat sehingga dapat mengenalnya dan menyaksikan kebaikannya. Jadi pengertian seni rupa amar ma'ruf ( menyuruh kepada yang ma'ruf ) adalah seni rupa yang dapat mengajak dan memberikan dorongan kepada orang untuk melaksanakannya, menyiapkan sebab-sebab dan sarana-sarananya dalam bentuk mengokohkan pilar-pilar serta menjadikannya sebagai ciri umum bagi seluruh kehidupan.
      Contoh karya seni rupa amar ma’ruf misalnya, pembuatan keindahan bentuk dan unsur-unsur seni rupa yang terdapat dalam arsitektur masjid, poster dan baliho yang berisi tentang dakwah dan perjuangan menegakkan agama, gambar-gambar ilustrasi untuk memperjelas dan mempermudah pelaksanaan syariat agama maupun pendidikan, gambar anatomi untuk menunjang pendidikan di bidang biologi maupun kedokteran. Kemudian termasuk juga seni rupa sebagai sarana prasarana untuk menunjang kelancaran dalam menjalankan ibadah seperti keindahan bentuk mode mukena, jilbab, sajadah, meja untuk tadarus, mimbar khotbah dan lain-lainnya yang masih banyak lagi dan tak mungkin disebutkan satu persatu.
      Sedangkan seni rupa yang munkar (kemungkaran) adalah karya seni rupa yang mencakup semua yang dibenci dan tidak diridhai Allah, baik masih berupa ide maupun perbuatan lahir yang telah berupa bentuk karya seni rupa dan ungkapan batin/perasaan untuk tujuan yang tidak sesuai dengan syariat. Jadi seni rupa munkar (kemungkaran) mencakup karya seni rupa yang berupa kemusyrikan dengan segala bentuknya, mencakup segala ide untuk visualisasi penyakit hati seperti riya', hiqd (dengki), hasad (iri), permusuhan, kebencian dan semacamnya. Mencakup juga karya seni rupa yang menyia-nyiakan ibadah seperti shalat, zakat, shaum, haji dan semacamnya. Mencakup juga visualisai tentang perbuatan-perbuatan keji seperti zina, mencuri, minum khamar (minuman keras), menuduh berzina, merampok, berbuat aniaya dan semacamnya. Juga mencakup karya seni rupa yang bertujuan untuk  dusta, zalim, khianat, perbuatan hina, pengecut dan semacamnya.
       Contoh seni rupa munkar yang perlu dihindari adalah pembuatan karya patung untuk melakukan perbuatan syirik, reklame untuk propaganda menyudutkan dan menjelek-jelekkan seseorang atau pihak lain untuk tujuan-tujuan tertentu, pembuatan gambar-gambar yang berbau pornografi, gambar visual tentang prostitusi, pembuatan keramik untuk tempat dupa dan sesaji perbuatan syirik, membuat berbagai gambar, fotografi dan arsitektur untuk tujuan peribadatan yang tidak sesuai dengan syariat agama. Contoh seni rupa munkar ini juga tidak kalah banyaknya dengan karya seni rupa amar ma’ruf, tinggal bagaimana niat kita untuk menyalurkan hasrat berkarya seni sesuai dengan nurani dan tuntunan agama yang kita yakini.
       Pada prinsipnya telah tersedia sekian banyak ide berkarya seni rupa yang dapat dijadikan sarana untuk “Amar Ma’ruf Nahi Munkar”, terserah pada setiap pribadi yang ingin berkarya. Niat utama dalam berkarya seni rupa seseorang dalam lubuk hati yang terdalam seharusnya adalah sesuatu yang bermanfaat dan bermakna kebaikan untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Seni rupa pada dasarnya adalah suatu keindahan yang diciptakan manusia bernilai mulia dan pemanfaatannya untuk segala kemaslahatan umat.

MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN MELUKIS DI ATAS AIR PADA MEDIA KANVAS

20.02 Edit This 0 Comments »


MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN MELUKIS DI ATAS AIR PADA MEDIA KANVAS




               Pada dasarnya manusia ingin meningkatkan kemampuan pribadinya. Kemampuan untuk memperlihatkan bahwa dirinya bisa berbuat sesuatu tidak kalah dengan yang lainnya. Sehingga manusia ini  membuat sesuatu yang tidak sama dan mungkin tidak dapat disamai oleh insan yang lain. Manusia menginginkan mempunyai kemampuan yang lebih baik untuk meningkatkan martabat dirinya. Egoisme ini tak dapat dipungkiri adalah pembawaan dasar manusia yang menginginkan kemampuan dirinya lebih baik dan ingin menonjolkan kepentingan pribadi yang berbeda dan mempunyai tingkatan yang lebih tinggi.  Kemampuan dasar inilah yang disebut dengan istilah kreativitas insani.
               Kreativitas insani ini akan terlihat nyata dalam kancah mengolah dan mencipta suatu karya dalam dunia kesenian. Produktivitas seni memperlihatkan betapa ketatnya untuk menampilkan karya-karya yang baru yang bersifat sangat individualistis. Seniman menciptakan karya seni sangat menonjolkan kemampuan individu dan bersaing untuk membuat sesuatu yang terbaik. Sesuatu yang baik ini tentu sangat berbeda dengan karya-karya yang telah ada. Menciptakan karya baru dengan nuansa baru dari hasil pengembangan imajinasi seorang seniman. Seniman sangat egois sekali tatkala berkarya. Mereka tak ingin disamai dalam berkarya dan mencipta. Kepribadian dirinya sangat dominan dalam bentuk egoisme suatu karya. Apalagi sampai karya kebanggaannya dijiplak begitu saja. Seorang seniman takkan rela apabila karya seninya diduakan apalagi ditiru tanpa pengembangan dan modifikasi dengan karya aslinya. Menjiplak atau copy paste begitu saja, apalagi mengakui karya orang lain sebagai karyanya.
               Nuansa baru dalam berkarya seni rupa sekarang mulai bermunculan dalam perkembangan seni rupa modern dan kontemporer. Mulailah melukis dengan memadukan realitas yang sebenarnya, misalnya melukis suatu objek air terjun dengan menggunakan air yang nyata. Melukis dengan menggunakan bahan asli yang sesuai dengan objek yang digambarnya, misalnya menggambar burung dengan bulu-bulu burung tersebut. Kemudian berkembang pula melukis dengan menggunakan media yang bertentangan, misalnya menggunakan air dan minyak sebagai perantara membentuk objek pada bidang gambarnya.
               Melukis diatas air itulah salah satu contoh berkarya seni rupa dengan memakai media yang bertentangan. Teknik melukis ini merupakan sesuatu yang baru di kenal di Indonesia. Banyak dari masyarakat kita yang belum tahu dalam menggunakan teknik yang satu ini. Mereka sebagian besar hanya mengetahui teknik melukis menggunakan berbagai cat, tinta maupun pena yang langsung ditorehkan atau dikuaskan pada kertas maupun kanvas. Tetapi sebenarnya melukis di atas air bukanlah hal yang baru. Melukis di atas air ini telah lama dikenal oleh masyarakat Jepang. Seniman Jepang sudah tidak asing lagi dengan menggunakan teknik yang satu ini.
              Melukis di atas air di Jepang dikenal dengan nama “SUMINAGASHI”. Suminagashi berkembang di Jepang pada awal abad ke-12 merupakan teknik kuno yang digunakan untuk melukis diatas air yang menghasilkan marbleized ( tekstur seperti marmer ) di atas kertas. Secara harafiah Suminagashi berarti “ink-floating” atau “tinta mengambang” yang mengacu pada tinta sumi-e yang awalnya digunakan dalam teknik ini.
                 Secara sederhana “SUMINAGASHI” adalah menuangkan cat yang berminyak dengan berbagai warna yang ada di atas air dengan pola atau desain sesuai tema. Pola dari teknik ini adalah hasil warna yang tadinya mengapung di air biasa atau larutan kental, dan kemudian dengan hati-hati dipindahkan ke permukaan penyerap. Permukaan penyerap yang dimaksud misalnya seperti kertas, kain atau kanvas. Sekarang, para seniman Jepang menggunakan kedua tinta tradisional dan cat akrilik (biasanya encer bawah/pola) untuk menciptakan karya seni rupa yang sangat cantik ini.
             Melukis di atas air juga telah dikenal oleh masyarakat Turki sebagai salah satu bentuk karya seni dan kebudayaan mereka. Bangsa Turki mengenalnya dengan nama “EBRU”. Ebru, kata dalam bahasa Turki yang artinya “awan” atau “berawan”, berasal dari kata “ebre”, bahasa Asia Tengah, yang artinya bahan berbarik-barik atau kertas. Seni tersebut bisa jadi berhulu di China karena suatu tulisan di zaman dinasti Tang di China (618-907 masehi) menyebut tentang proses mewarnai kertas lewat air dengan lima warna.
             Jalan Sutra membuat seni tersebut menjalar ke Iran dan dinamai “Ebru”. Seni lukis itu digunakan untuk mewarnai sampul naskah maupun kitab dan menyebar ke Anatolia, Turki bagian Asia. Sejak pertengahan abad ke-15 Ebru dikenal sebagai seni Turki, yaitu membuat corak pada kertas. Teknik Ebru pada masa awalnya adalah mencipratkan cat, yang mengandung empedu sapi, ke permukaan air yang sudah dicampur “kitre” (getah tragacanth). Kertas diletakkan ke permukaan cairan sehingga corak warna di permukaan cairan menempel ke kertas.
            Menurut catatan sejarah yang lain menyebutkan bahwa teknik melukis dalam air sebenarnya sudah ditemukan semenjak 15 abad yang lalu, mereka adalah para seniman arab yang ahli dalam membuat kaligrafi. Seniman Arab tidak mengenal melukis secara realis atau nyata, tetapi visualisasinya menggunakan huruf indah atau bentuk-bentuk lain selain fauna dan manusia yang nyata dalam pemilihan objek lukisnya. Mereka menstilasi bentuk-bentuk daun atau bentuk huruf yang diperindah dengan daya imajinasi seninya.
             Pada awalnya untuk melukis di atas air cukup menggunakan alat-alat khusus yang tidak begitu rumit. Caranya sangatlah sederhana yakni dengan menggunakan alat halus dan juga nafta( sejenis bahan kimia). Melukis segala macam bentuk yang aduhai di permukaan air, tetapi air tidaklah sebagai kanvas nyata yang sebenarnya. Setelah mendesain lukisan, kita  bisa menempatkan selembar kertas/kain yang  menyerap cat dari permukaan air, sehingga menjadi sebuah lukisan biasa tanpa tersentuh oleh peralatan melukis.
               Bagaimanapun juga teknik seperti ini membuat penasaran bagi yang belum pernah mencobanya. Hal ini perlu adanya pembelajaran yang menjelaskan tentang teknik melukis dengan media yang masih asing bagi sementara orang. Sehingga akan mengembangkan kemampuan seseorang dalam melukis di atas air terutama yang dituangkan pada media kanvas. Secara ringkas dan sederhana untuk melukis di atas air adalah dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1.       Siapkan ember, nampan ataupun bak, plastik, air, cat minyak/cat kayu, kuas, pipet, palet, lidi, lembaran kain kanvas.
2.       Langkah awal adalah menyediakan bak air/ember yang dilapisi oleh plastik supaya bagian dalam ember tidak kotor, kemudian diisi dengan air.
3.       Langkah berikutnya adalah membuka cat kayu atau cat minyak, kemudian kita tuang pada palet dan campurkan dengan berbagai warna cat yang ada dan kita dikehendaki dengan menggunakan kuas. Aduk terus menerus supaya cat tidak menggumpal dan pencampurannya menjadi baik dan sesuai.
4.       Setelah pencampurannya sesuai dengan pola atau desain yang dirancang, kemudian tuangkan pencampuran cat tersebut di atas air secara perlahan dengan kuas/pipet.
5.       Langkah berikutnya adalah jangan menuangkan cat secara keseluruhan, namun diteteskan sedikit demi sedikit dengan pola melingkar atau sesuai desain/rancangan yang diinginkan.
6.       Kemudian dengan menggunakan lidi, goreskan dengan pola-pola tertentu untuk supaya bentuknya secara terperinci sesuai dengan rancangan bentuk yang telah dibuat/yang terperinci dalam imajinasi kita.
7.       Langkah selanjutnya setelah gambar yang diinginkan terbentuk, ambil kertas (lembaran kain kanvas) ditempelkan secara perlahan-lahan ke permukaan air.
8.       Langkah setelah itu adalah menunggu beberapa saat, lalu kertas atau lembaran kain kanvas tersebut kita angkat untuk melepaskan dari permukaan air yang ada di ember atau bak air.
9.       Langkah terakhir adalah menjemur hasil lukisan tersebut di terik matahari atau paling tidak terkena sinar matahari supaya dengan cepat bisa kering.
               Pemakaian cat disarankan menggunakan jenis cat kayu, cat minyak atau cat akrilik. Hal tersebut karena cat tadi telah dilengkapi dengan kandungan minyak di dalamnya yang sesuai dengan takaran. Sehingga tinggal mengaduk saja dalam pencampuran antara cat dan minyaknya. Penuangan antara cat yang digunakan dengan air juga akan mudah terpisah dan mengambang di atasnya sehinggapembuatan pola atau desain gambarnya akan lebih mudah terbentuk sesuai rancangan atau keinginan si pembuatnya.
                Pengembangan berbagai bentuk melukis di atas air dapat dilatih dengan intensitas yang berulang-ulang sehingga kita dapat lebih mengenal dan menguasai media yang ada tersebut. Sehingga ungkapan yang dulu untuk mengibaratkan sesuatu yang mustahil terjadi dapat kita lakukan. Pernahkan kalian mendengar ungkapan, ''Ibarat melukis di atas air''?, yang artinya sesuatu itu mustahil dilakukan. Jika dibayangkan saja, memang kelihatannya mustahil. Tapi, jangan berkecil hati dulu! Karena zaman sudah mulai berubah, hal yang tadinya mustahil kini menjadi tidak mustahil, alias bisa dibuktikan.

APRESIASI MASYARAKAT TERHADAP PERKEMBANGAN PENDIDIKAN SENI RUPA

22.55 Edit This 0 Comments »
Seni  rupa merupakan suatu bidang studi yang kompleks.  Bidang tersebut meliputi seni lukis, seni patung, seni grafis,  seni keramik, seni ukir, seni batik dan arsitektur. Berbagai cabang seni rupa tersebut telah dikenal masyarakat secara luas, walaupun kalau ditelusuri lebih jauh akan dapat diketahui sejauh mana pengetahuan masyarakat tentang cabang-cabang seni tersebut.
        Masyarakat sebagai penikmat seni kemungkinan besar hanya dapat mengerti sedikit saja tentang dunia seni rupa. Misalnya hanya mengenal proses kegiatan menggambar atau melukis saja, walaupun sebenarnya terdapat berbagai macam cabang kesenirupaan yang lain. Dari masyarakat sendiri diperlukan adanya kesadaran untuk mempelajari seni rupa, dalam arti belajar untuk lebih meningkatkan pengetahuan dan memahami seni rupa secara benar. Karya seni rupa dapat dipandang sebagai simbol yang dapat digunakan oleh manusia dalam berkomunikasi untuk hasrat manusia terhadap nilai-nilai estetik. Masyarakat dalam berkomunikasi estetik juga menggunakan simbol-simbol tertentu  yang disebut sebagai karya seni rupa. Setelah masyarakat belajar dan memahami kesenirupaan dengan benar, maka secara bertahap masyarakat tersebut akan dapat mengetahui simbol-simbol yang ada dalam seni rupa (Rohidi, 1993 : 1).
           Kondisi masyarakat disadari maupun tanpa disadari, selalu berhubungan dengan berbagai kegiatan yang ada sangkut pautnya dengan seni rupa. Seperti telah diketahui bahwa hampir semua benda-benda perabot rumah tangga dan berbagai kegiatan lainnya secara langsung maupun tidak langsung mempunyai kaitan erat dengan seni rupa. Kemungkinan besar masyarakat umum belum mengetahui atau belum mengenal nilai seni yang ada pada perlengkapan sehari-hari atau bahkan tidak mengetahui sama sekali bahwa karya-karya yang ada itu merupakan karya seni rupa yang bermutu.
           Sikap masyarakat terhadap seni rupa dapat dijadikan dasar patokan untuk mengukur tingkat kemampuan apresiasi masyarakat tersebut terhadap seni rupa. Apresiasi antara anggota masyarakat tertentu terhadap seni rupa tentu saja tidak sama antara individu yang satu dengan yang lainnya, apalagi antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya.
            Secara umum masyarakat  Indonesia terdiri dari masyarakat dengan keyakinan agama yang kompleks. Ditinjau dari agama terdiri atas pemeluk agama Islam, Katholik, Kristen, Hindu, Budha atau kemungkinan para penganut aliran kepercayaan tertentu. Masyarakat pemeluk agama Islam adalah yang paling banyak dan paling dominan, dalam arti sangat berpengaruh dalam tata cara kehidupan sehari-harinya, misalnya dalam kegiatan pertemuan/perkumpulan suatu organisasi, selamatan setelah kelahiran seorang bayi maupun selamatan sewaktu pemberian nama seorang anak menggunakan tata cara atau doa-doa secara Islami. Hal ini sangat dapat diterima karena mayoritas masyarakat Indonesia adalah beragama Islam.
            Pemeluk agama Islam tersebar di seluruh wilayah Indonesia, sedangkan pemeluk agama yang lain (non Islam) sebagian besar terdapat di daerah-daerah pusat kota atau wilayah Indonesia tertentu terutama bagian wilayah Indonesia bagian timur. Tempat peribadatan agama non Islam sebagai salah satu bentuk karya seni rupa pada umumnya terletak di wilayah pusat kota. Sedangkan tempat peribadatan agama Islam tersebar hamper di seluruh wilayah Indonesia.
            Apresiasi terhadap seni rupa ditentukan dalam berbagai aspek kehidupan yang ada, salah satunya ditentukan oleh aturan norma agama yang dianut oleh seseorang sebagai anggota masyarakat atau masyarakat dalam organsasi keagamaan yang dianutnya. Norma agama akan memberikan arah dan membina para pemeluknya dalam melakukan kegiatan kesenirupaan yang sesuai dengan tata aturan agama tersebut. Bahkan apresiasi para pemeluk agama terhadap karya seni rupa kemungkinan juga dapat berbeda karena berbagai factor yang mempengaruhinya, misalnya pendidikan ( pendidikan agama maupun non agama).
            Tingkat pendidikan masyarakat juga berpengaruh terhadap tingkat pemahaman apresiasi karya seni rupa. Tingkat pendidikan SD tentunya kualitas apresiasinya berbeda dengan tingkat apresiasi pendidikan diatasnya, misalnya dibandingkan dengan masyarakat yang berpendidikan SMP, SMA atau bahkan dibandingkan dengan yang berpendidikan Sarjana. Padahal pada umumnya masyarakat Indonesia masih dalam tataran tingkat pendidikan yang masih rendah. Hal ini sangat berpengaruh terhadap tingkat kemampuan apresiasi terhadap seni rupa yang masih rendah pula. Memang dilihat perkembangan dari tahun ke tahun terjadi peningkatan yang signifikan sejalan dengan semakin tinggi tingkat pendidikan yang ada dalam masyarakat Indonesia.
             Masyarakat yang lebih mendalami dunia kesenirupaan akan mempunyai kemampuan apresiasi lebih tinggi atau lebih baik dibandingkan dengan yang kurang mendalami dunia kesenirupaan. Masyarakat yang berkecimpung dan mendalami kesenirupaan lebih lanjut atau mungkin telah dapat dikatakan sebagai pakar seni rupa, tidak hanya sekedar berapresiasi, tetapi  juga dapat memberikan pandangan-pandangan dan kritik seni yang sangat berharga.
              Apresiasi masyarakat terhadap seni rupa juga dipengaruhi oleh letak geografisnya, misalnya letak tempat tinggalnya. Letak tempat tinggal dapat berpengaruh terhadap wawasan dan tinjauan seseorang terhadap hasil karya seni rupa. Menurut letak tempat tinggal ini dapat dibagi menjadi dua daerah, yaitu daerah pusat kota dan daerah pinggiran kota. Daerah kota mempunyai perlengkapan sarana dan prasarana seni rupa yang lebih lengkap dibandingkan dengan sarana prasarana yang terdapat di pinggiran kota. Sarana yang ada ini meliputi tempat/gedung yang dapat digunakan untuk kegiatan seni rupa, instansi-instansi yang dapat menunjang dan dapat membantu mempermudah kegiatan seni rupa dan tersedianya perlengkapan sebagai media untuk berkarya seni rupa. Hal tersebut tentu dapat mendorong kegiatan berkarya seni rupa di daerah/wilayah tersebut. Dengan meningkatnya kegiatan berkarya seni rupa akan dapat memberikan peningkatan pengetahuan, pendidikan dan pengalaman dalam berapresiasi seni rupa. Peningkatan pendidikan kegiatan seni rupa akan dapat muncul apabila ada dukungan dari lingkungan/tempat tinggalnya.