WEKDAL

Kamis, 12 November 2009

BENTUK BENANGAN DALAM UKIR TRADISIONAL

Benangan merupakan bentuk unsur ukiran yang berfungsi memperindah motif ukiran secara keseluruhan. Benangan alurnya mengikuti ritme yang ada pada setiap motif ukiran. Alur ini sangat variatif sekali dengan bentuk kelenturan sesuai dengan karakter daun pokok yang diikutinya. Hampir setiap motif ukiran tradisional Jawa, benangan selalu hadir menyertainya. Benangan dapat dimulai dari pangkal (bagian bawah) daun pokok sampai dengan ujung atas dari daun pokok tersebut. Benangan dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu:
a. Benangan timbul yaitu benangan yang kelihatan timbul ke atas atau dengan kata lain bentuk itu lebih condong berbentuk cembung, seperti terlihat pada gambar yang diberi kode a.
b. Benangan garis yaitu bentuk benangan yang di bagian tengahnya lebih kelihatan berbentuk cekung. Kecekungan atau kecenderunganm menjorok ke dalam sangat terlihat jika dibandingkan dengan bagian disebelahnya yang termasuk dalam satu trap suatu dataran. Contoh benangan garis dapat dilihat pada gambar di atas dengan kode b.

Selasa, 10 November 2009

TRUBUSAN (TUNAS)

TRUBUSAN merupakan bentuk bagian dari motif ukiran, sama dengan bentuk-bentuk lainnya yang telah diulas di muka, seperti Daun Pokok, Ikal, Daun Patran dan Pecahan. Trubusan juga dapat disebut sebagai tunas. Hal ini karena bentuk trubusan merupakan tunas-tunas yang berkembang dan menjalar dari daun induknya. Dikatakan tunas karena merupakan bakal maupun calon pengganti daun utama atau daun induknya yang berbentuk lebih besar dan lebih tua. Trubusan ini terkait langsung pada induk, seperti halnya tanaman-tanaman yang sesungguhnya. Tumbuh dan menjalar melalui bagian-bagian tertentu pada daun pokok sebagai daun induknya. Bentuk ukiran daun yang tumbuh dari daun pokok ini dapat berada pada dua tempat tertentu. Dua tempat itu adalah:
a. Trubusan yang berada di tengah-tengah pangkal (bagian bawah) dari daun pokok.
b. Trubusan yang berada di atas daun pokok dengan bentuk ukuran daun yang sedang dan ukuran daun yang kecil.
Gambar di atas untuk memperlihatkan bentuk, letak dan tempat trubusan itu berada, sesuai jenis trubusannya sebagai tunas pangkal atau sebagai tunas yang berada di atas daun pokoknya.

BENTUK PECAHAN MOTIF UKIR TRADISIONAL JAWA

Pecahan merupakan nama dan bentuk pada bagian motif ukiran, baik yang berupa suatu pahatan berbentuk garis maupun bentuk pahatan yang menyobek tepi pahatan batas ukiran. Pecahan memang mempunyai arti memecah antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya dalam satu bentuk objek ukiran. Pecahan dalam istilah ukiran tradisional Jawa dapat dibagi menjadi 2 macam. Pecahan tersebut adalah:
  • PECAHAN GARIS, yaitu suatu pahatan yang berbentuk garis pada ukiran daun, bentuk dan alurnya mengikuti kemana arah ukiran daun tersebut menjalar.
  • PECAHAN CAWEN, yaitu bentuk pahatan yang menyobek tepi batas ukiran daun.
Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada gambar di atas, yang masing-masing menunjukkan bentuk pecahan garis dan pecahan cawen.

Senin, 09 November 2009

DAUN PATRAN

Daun Patran, sesuai dengan namanya merupakan pengembangan bentuk dari objek dasar dedaunan. Bentuk dasar ukiran ini menyerupai segitiga dengan pengembangan stilasi daun yang disesuaikan pada motif-motif ukiran tertentu. Hal ini disebabkan setiap motif yang ada mempunyai pengembangan bentuk daun patran yang berbeda-beda, walaupun bentuk dasarnya masih sama yaitu berbentuk segitiga. Pengertian daun patran yang tepat yaitu bentuk ukiran daun yang menyerupai segitiga. Daun Patran ini walaupun pada perkembangan berikutnya terdapat pada berbagai motif-motif ukiran yang ada di Nusantara pada umumnya atau di Jawa pada khususnya, tetapi sebenarnya daun patran ini paling banyak ditemukan pada MOTIF MATARAM. Pada gambar di atas adalah bentuk daun patran yang terdapat pada motif Mataram. Penegasan pemakaian bentuk daun patran ini secara original terdapat pada motif Mataram.

IKAL (ULIR, UKEL)

IKAL adalah bentuk UKIR dari motif tradisional Jawa, yang merupakan satu bagian dengan daun pokok. Daun pokok merupakan daun induk yang tumbuh melingkar merelung pada bentuk motif tradisional Jawa. Ikal mempunyai nama lain yaitu ulir atau ukel. Ikal ini merupakan bagian dari daun induk yang berada pada ujung penghabisan daun pokok. Dengan kata lain Ikal merupakan bentuk penghabisan dari setiap ukiran daun yang berbentuk spiral. Untuk lebih jelasnya bentuk ikal dapat dilihat pada gambar di atas. Bentuk ikal ini di beri tanda garis yang menuju pada penulisan ikal.

Minggu, 08 November 2009

DAUN POKOK PADA MOTIF UKIRAN TRADISIONAL JAWA


Motif ukiran Jawa merupakan sebuah motif ukiran yang berangkat dari budaya Jawa yang berkembang pesat selaras dengan perkembangan kerajaan pada saat itu. Kerajaan yang maju, hasil budayanyapun akan semakin maju. Kemajuan pada negara sangat erat hubungannya dengan keberadaan seni budayanya.
Mempelajari motif ukiran, perlu mengetahui terlebih dahulu mengenal nama, bentuk bagian dan ciri-ciri motif tersebut. Nama dan bentuk bagian motif perlu diperhatikan dengan sebaik-baiknya, karena pengetahuan ini merupakan pengetahuan dasar dalam seni ukir. Salah satu nama dan bentuk bagian motif ukiran tersebut adalah daun pokok. Daun pokok dibagi menjadi dua jenis yaitu daun pokok ikal (gambar a) dan daun pokok relung (gambar b).
Daun pokok ikal adalah daun induk yang tumbuh melingkar dengan bentuk lebih gemuk atau lebih tebal dibandingkan dengan daun pokok relung. Sedangkan daun pokok relung yaitu daun induk yang tumbuh melingkar merelung ke kanan dan ke kiri, seperti tanaman ketela rambat. Relung ini bentuknya seperti spiral, sambung menyambung berurutan. Itulah yang dinamakan DAUN POKOK baik yang ikal maupun yang relung.

Sabtu, 07 November 2009

STUDI RUPA, MENGGAMBAR TANGAN KARYA SISWA SMP NEGERI 3 WELERI


Studi menggambar tangan dibuat oleh RIRIS LAILATUL H siswa SMP Negeri 3 Weleri kelas 9A


Studi gambar tangan dibuat oleh RIZKY RIA ADI P, siswa SMP Negeri 3 Weleri kelas 9E


Studi gambar tangan yang dibuat oleh RIZKY RIA ADI P siswa SMP Negeri 3 Weleri kelas 9E

Studi gambar tangan dibuat oleh IRAMAYA YULIANI siswa SMP Negeri 3 Weleri kelas 9B