APRESIASI MASYARAKAT TERHADAP PERKEMBANGAN PENDIDIKAN SENI RUPA

22.55 Edit This 0 Comments »
Seni  rupa merupakan suatu bidang studi yang kompleks.  Bidang tersebut meliputi seni lukis, seni patung, seni grafis,  seni keramik, seni ukir, seni batik dan arsitektur. Berbagai cabang seni rupa tersebut telah dikenal masyarakat secara luas, walaupun kalau ditelusuri lebih jauh akan dapat diketahui sejauh mana pengetahuan masyarakat tentang cabang-cabang seni tersebut.
        Masyarakat sebagai penikmat seni kemungkinan besar hanya dapat mengerti sedikit saja tentang dunia seni rupa. Misalnya hanya mengenal proses kegiatan menggambar atau melukis saja, walaupun sebenarnya terdapat berbagai macam cabang kesenirupaan yang lain. Dari masyarakat sendiri diperlukan adanya kesadaran untuk mempelajari seni rupa, dalam arti belajar untuk lebih meningkatkan pengetahuan dan memahami seni rupa secara benar. Karya seni rupa dapat dipandang sebagai simbol yang dapat digunakan oleh manusia dalam berkomunikasi untuk hasrat manusia terhadap nilai-nilai estetik. Masyarakat dalam berkomunikasi estetik juga menggunakan simbol-simbol tertentu  yang disebut sebagai karya seni rupa. Setelah masyarakat belajar dan memahami kesenirupaan dengan benar, maka secara bertahap masyarakat tersebut akan dapat mengetahui simbol-simbol yang ada dalam seni rupa (Rohidi, 1993 : 1).
           Kondisi masyarakat disadari maupun tanpa disadari, selalu berhubungan dengan berbagai kegiatan yang ada sangkut pautnya dengan seni rupa. Seperti telah diketahui bahwa hampir semua benda-benda perabot rumah tangga dan berbagai kegiatan lainnya secara langsung maupun tidak langsung mempunyai kaitan erat dengan seni rupa. Kemungkinan besar masyarakat umum belum mengetahui atau belum mengenal nilai seni yang ada pada perlengkapan sehari-hari atau bahkan tidak mengetahui sama sekali bahwa karya-karya yang ada itu merupakan karya seni rupa yang bermutu.
           Sikap masyarakat terhadap seni rupa dapat dijadikan dasar patokan untuk mengukur tingkat kemampuan apresiasi masyarakat tersebut terhadap seni rupa. Apresiasi antara anggota masyarakat tertentu terhadap seni rupa tentu saja tidak sama antara individu yang satu dengan yang lainnya, apalagi antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya.
            Secara umum masyarakat  Indonesia terdiri dari masyarakat dengan keyakinan agama yang kompleks. Ditinjau dari agama terdiri atas pemeluk agama Islam, Katholik, Kristen, Hindu, Budha atau kemungkinan para penganut aliran kepercayaan tertentu. Masyarakat pemeluk agama Islam adalah yang paling banyak dan paling dominan, dalam arti sangat berpengaruh dalam tata cara kehidupan sehari-harinya, misalnya dalam kegiatan pertemuan/perkumpulan suatu organisasi, selamatan setelah kelahiran seorang bayi maupun selamatan sewaktu pemberian nama seorang anak menggunakan tata cara atau doa-doa secara Islami. Hal ini sangat dapat diterima karena mayoritas masyarakat Indonesia adalah beragama Islam.
            Pemeluk agama Islam tersebar di seluruh wilayah Indonesia, sedangkan pemeluk agama yang lain (non Islam) sebagian besar terdapat di daerah-daerah pusat kota atau wilayah Indonesia tertentu terutama bagian wilayah Indonesia bagian timur. Tempat peribadatan agama non Islam sebagai salah satu bentuk karya seni rupa pada umumnya terletak di wilayah pusat kota. Sedangkan tempat peribadatan agama Islam tersebar hamper di seluruh wilayah Indonesia.
            Apresiasi terhadap seni rupa ditentukan dalam berbagai aspek kehidupan yang ada, salah satunya ditentukan oleh aturan norma agama yang dianut oleh seseorang sebagai anggota masyarakat atau masyarakat dalam organsasi keagamaan yang dianutnya. Norma agama akan memberikan arah dan membina para pemeluknya dalam melakukan kegiatan kesenirupaan yang sesuai dengan tata aturan agama tersebut. Bahkan apresiasi para pemeluk agama terhadap karya seni rupa kemungkinan juga dapat berbeda karena berbagai factor yang mempengaruhinya, misalnya pendidikan ( pendidikan agama maupun non agama).
            Tingkat pendidikan masyarakat juga berpengaruh terhadap tingkat pemahaman apresiasi karya seni rupa. Tingkat pendidikan SD tentunya kualitas apresiasinya berbeda dengan tingkat apresiasi pendidikan diatasnya, misalnya dibandingkan dengan masyarakat yang berpendidikan SMP, SMA atau bahkan dibandingkan dengan yang berpendidikan Sarjana. Padahal pada umumnya masyarakat Indonesia masih dalam tataran tingkat pendidikan yang masih rendah. Hal ini sangat berpengaruh terhadap tingkat kemampuan apresiasi terhadap seni rupa yang masih rendah pula. Memang dilihat perkembangan dari tahun ke tahun terjadi peningkatan yang signifikan sejalan dengan semakin tinggi tingkat pendidikan yang ada dalam masyarakat Indonesia.
             Masyarakat yang lebih mendalami dunia kesenirupaan akan mempunyai kemampuan apresiasi lebih tinggi atau lebih baik dibandingkan dengan yang kurang mendalami dunia kesenirupaan. Masyarakat yang berkecimpung dan mendalami kesenirupaan lebih lanjut atau mungkin telah dapat dikatakan sebagai pakar seni rupa, tidak hanya sekedar berapresiasi, tetapi  juga dapat memberikan pandangan-pandangan dan kritik seni yang sangat berharga.
              Apresiasi masyarakat terhadap seni rupa juga dipengaruhi oleh letak geografisnya, misalnya letak tempat tinggalnya. Letak tempat tinggal dapat berpengaruh terhadap wawasan dan tinjauan seseorang terhadap hasil karya seni rupa. Menurut letak tempat tinggal ini dapat dibagi menjadi dua daerah, yaitu daerah pusat kota dan daerah pinggiran kota. Daerah kota mempunyai perlengkapan sarana dan prasarana seni rupa yang lebih lengkap dibandingkan dengan sarana prasarana yang terdapat di pinggiran kota. Sarana yang ada ini meliputi tempat/gedung yang dapat digunakan untuk kegiatan seni rupa, instansi-instansi yang dapat menunjang dan dapat membantu mempermudah kegiatan seni rupa dan tersedianya perlengkapan sebagai media untuk berkarya seni rupa. Hal tersebut tentu dapat mendorong kegiatan berkarya seni rupa di daerah/wilayah tersebut. Dengan meningkatnya kegiatan berkarya seni rupa akan dapat memberikan peningkatan pengetahuan, pendidikan dan pengalaman dalam berapresiasi seni rupa. Peningkatan pendidikan kegiatan seni rupa akan dapat muncul apabila ada dukungan dari lingkungan/tempat tinggalnya.

PAMERAN SENI RUPA SEBAGAI SARANA MENUNJUKKAN EKSISTENSI SISWA

22.46 Edit This 0 Comments »
Puncak dalam berkarya seni rupa adalah menunjukkan atau memamerkan hasil karya cipta yang telah dihasilkan oleh seorang pencipta seni. Pencipta seni dapat dikatakan mampu menghasilkan karya seni rupa apabila telah dapat memperlihatkan hasil karyanya yang berupa seni lukis, patung, keramik atau karya seni lainnya dalam suatu kegiatan pameran.
         Pameran merupakan suatu kegiatan mempertontonkan atau menunjukkan sesuatu kepada publik/khalayak agar mendapatkan suatu tanggapan. Tanggapan tersebut merupakan satu bentuk kepedulian khalayak dalam memberikan penghargaan dan penilaian terhadap karya cipta yang dipublikasikan tersebut. Perwujudan dari segala kegiatan akhir dalam berolah seni dengan menampilkan segala kelebihan dan kekurangan hasil karya cipta inilah yang disebut dengan pameran seni.
        Makna dari kata pameran memberikan pengertian bahwa sesuatu yang dipertontonkan bersifat diam (statis). Berbeda dengan arti dari kata pergelaran yang lebih bersifat dinamis (bergerak). Pameran lebih menekankan pada kegiatan memperlihatkan karya-karya seni yang tidak bergerak seperti seni rupa, sedangkan pergelaran yang dipertunjukkan cenderung berupa hasil karya seni yang selalu mobile seperti misalnya seni musik dan seni tari. Walaupun keduanya secara mendasar mempunyai arti yang sama yaitu mempertontonkan hasil karya cipta seni kepada khalayak pada umumnya dan penikmat seni pada khususnya agar mendapatkan suatu bentuk apresiasi.
        Pameran dalam pendidikan seni budaya mempunyai arti yang sangat penting. Hal ini terutama berkaitan dengan perkembangan kreativitas dan eksistensi siswa dalam menghasilkan suatu karya sebagai wujud ekspresi (perasaan) jiwanya dalam bentuk realitas. Realitas ini merupakan hasil nyata sebagai produk kreasi yang dapat langsung dinikmati dengan mata kepala para penikmat sendiri tanpa adanya penyambung lidah yang hanya sekedar kata-kata belaka.
       Wujud ekspresi jiwa seni dapat dipertontonkan secara nyata melalui kegiatan pameran. Kegiatan pameran inilah sebagai salah satu sarana untuk menunjukkan kemampuan diri (unjuk diri) bagi seorang siswa. Siswa dapat dikatakan bisa menciptakan dan menghasilkan suatu karya seni rupa apabila telah mampu memperlihatkan hasil karya ciptanya melalui kegiatan unjuk karya dengan penempatan dan penataan yang direncanakan dengan baik. Perencanaan yang terorganisir dengan baik dan matang dan disertai penyusunan langkah kerja yang rapi merupakan salah satu bentuk langkah awal terprogram dalam suatu pertunjukan karya seni yang lebih dikenal dengan sebutan pameran seni.
        Bentuk eksistensi siswa ini merupakan wujud kegiatan akhir dari berolah seni yang dipersembahkan kepada masyarakat umum. Masyarakat umum dalam kegiatan pameran seni rupa ini berfungsi sebagai penikmat seni. Penikmat seni inilah yang menikmati dan mengamati segala sesuatu yang ada pada hasil karya seni yang dipertontonkan dengan segala kelebihan dan kekurangan yang terdapat pada hasil karya cipta siswa tersebut.
       Masyarakat sebagai penikmat seni ini nantinya diharapkan dapat memberikan pengakuan atas eksistensi siswa dalam menghasilkan karya seni rupa. Pengakuan masyarakat/khalayak terasa amat penting untuk mengangkat kepercayaan diri siswa dalam menghasilkan kreasi seninya yang dibuktikan dengan kemampuan diri mempertontonkan hasil karya cipta seninya.  Masyarakat diharapkan juga dapat memberikan saran dan masukan yang bermanfaat sehingga eksistensi siswa ini dapat ditingkatkan lagi pada tataran yang lebih tinggi. Sehingga awal pengalaman ini merupakan sarana pembelajaran untuk membangun jati diri sebagai seorang seniman.
       Sarana pembelajaran ini bagi siswa dapat digunakan untuk menampilkan hasil kemampuan berkarya seni rupa sesuai dengan bentuk atau model karya yang disukainya. Mengembangkan karya berdasarkan kecenderungan siswa untuk menganut aliran seni yang sesuai dan yang  diminatinya. Siswa dalam kegiatan pameranpun dapat menampilkan hasil karya ciptanya ini disesuaikan dengan jenis dan bentuk karya yang dipamerkan. Jenis karya yang dipamerkan ini bisa bersifat homogen maupun heterogen. Pameran homogen berarti pameran yang diselenggarakan hanya menampilkan satu jenis karya saja, misalnya pameran yang hanya menampilkan  berbagai macam karya lukisan saja. Sedangkan pameran heterogen adalah pameran yang menampilkan berbagai macam karya seni yang digabungkan seperti seni lukis, patung, grafis dalam satu tempat/ruang pamerannya.
       Untuk menunjukkan eksistensi dirinya, siswa dapat menampilkan karyanya dengan cara memamerkan karya-karya pribadinya saja. Langkah ini dalam kegiatan pameran disebut sebagai pameran tunggal. Pameran tunggal ini merupakan suatu bentuk kegiatan pameran dengan menampilkan/mempertontonkan karya-karya dari seorang seniman (siswa) saja. Apabila siswa secara individu belum dapat memenuhi kuota jumlah karya yang dipamerkan secara pribadi, dapat pula pameran  ditempuh dengan jalan memamerkan hasil karya ciptanya bekerja sama  dengan hasil karya seni siswa yang lainnya. Karya gabungan dari beberapa siswa dalam satu kegiatan pameran ini disebut dengan kegiatan pameran kelompok. Penegasan pengertian pameran kelompok ini adalah suatu jenis pameran yang memamerkan karya seni dari beberapa orang seniman.
       Biasanya kendala yang dihadapi siswa dalam mengadakan kegiatan pameran yaitu dalam segi pemilihan tempat untuk pelaksanaannya. Pemilihan tempat ini menjadi sulit karena adanya kesulitan atau keterbatasan dalam beberapa hal, misalnya masalah pendanaan dan perijinannya. Masalah pendanaan bisa diatasi apabila adanya kerjasama antar penyelenggara pameran dalam hal keuangan atau adanya sponsor untuk mem”back-up” kegiatan pameran. Perijinanpun akan mudah didapat apabila adanya kejelasan dalam penyelenggaraannya dan juga dari pihak sekolah memberikan lampu hijau dalam pelaksanaan dengan memberikan berbagai solusi nyata untuk mempermudah mengatasi masalah tersebut.
        Pameran akan lebih mudah diselenggarakan oleh siswa, jika sekolah telah mempunyai tempat permanen seperti aula, gedung serba guna, atau show room. Pameran permanen inilah yang paling mudah dan paling ideal untuk siswa, walaupun hal ini tidak semua sekolah mempunyai sarana lengkap seperti yang diharapkan. Mengenai hal ini siswa bisa memilih alternatif yang lain, seperti misalnya dengan mengadakan pameran rutin atau pameran insidental. Pameran rutin maksudnya adalah pameran yang diadakan pada waktu tertentu sebagai kegiatan rutin, misalnya pameran di sekolah dengan menggunakan ruang kelas pada tiap-tiap akhir semester. Sedangkan pameran incidental adalah pameran yang diadakan untuk memeriahkan suatu kegiatan atau peringatan  tertentu, misalnya pameran diselenggarakan bertepatan dengan saat peringatan hari-hari besar tertentu. Hal ini akan dapat lebih mempermudah dalam penyelenggaran pameran seni bagi siswa dan dapat pula mendatangkan para penikmat seni yang jumlahnya lebih banyak.
        Pameran seni rupa sebagai bentuk eksistensi siswa ini akan memberikan beberapa dampak positif bagi perkembangannya, terutama dalam menampilkan jati dirinya yang kreatif. Hal-hal yang menguntungkan bagi siswa misalnya siswa dapat memperlihatkan kemampuan dirinya. Karya seni merupakan ekspresi dari seniman (siswa) pembuatnya. Melalui pameran, seorang siswa dapat menciptakan karya seni hasil ekspresi dirinya untuk kemudian diperlihatkan kepada orang lain.
       Pameran juga sebagai media komunikasi siswa. Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan kepada orang lain secara timbal balik sehingga ada kesamaan pemahaman antara pengirim pesan dan penerima pesan. Melalui pameran, siswa dapat menyampaikan pesan/idenya dalam bentuk karya seni rupa kepada para penikmat seni.
       Pameran merupakan sarana pengembang bakat bagi siswa. Bakat adalah kemampuan dasar manusia yang dimiliki semenjak lahir. Bakat tidak dapat berkembang dengan baik jika lingkungannya tidak memberikan kesempatan untuk berkembang. Salah satu pengembang bakat siswa dalam belajar berolah seni adalah dengan diadakannya kegiatan pameran.
        Pameran juga merupakan bentuk eksistensi siswa dalam kegiatan apresiasi. Apresiasi merupakan kemampuan seseorang untuk mengerti, memahami, menikmati, mengagumi dan selanjutnya memberikan penilaian terhadap karya seni yang dinikmati. Pameran seni rupa bagi siswa akan memberikan banyak kesempatan agar karya yang diciptakannya dapat dilihat, kemudian dinilai orang lain. Sehingga siswa akan lebih dapat memahami semua kekurangan dan kelebihan karyanya untuk kemudian dapat membuat suatu perbaikan pada karya-karya mendatang yang akan diciptakannya.
        Dengan demikian pameran seni rupa merupakan sarana untuk memperkenalkan dan berkomunikasi antara siswa sebagai seniman dan karyanya dengan para penikmat seni atau masyarakat umum, sehingga akan terjadi proses apresiasi dan selanjutnya untuk menambah wawasan seni baik untuk pelaku (pencipta, penyelenggara, panitia) maupun penikmat seni  serta pengamat seni. Pameran seni rupa merupakan visualisasi eksistensi siswa dalam hal berimajinasi, berkreasi serta bentuk unjuk diri melalui karya seni rupa yang dikomunikasikan secara langsung kepada masyarakat atau penikmat seni  di lingkungannya/penikmatnya untuk memberikan apresiasi atau penilaian.

SENI RUPA SUREALIS MENINGKATKAN PERKEMBANGAN KREATIFITAS ANAK

22.36 Edit This 0 Comments »
Surealisme adalah sebuah aliran seni yang mengembangkan kemampuan dalam menyelami alam impian.. Surealisme merupakan suatu bentuk kreatifitas yang mengarungi dan menjelajahi kehidupan di dalam alam mimpi. Surealis mengembangkan alam mimpi dan pikiran bawah sadar melalui penciptaan karya visual, puisi dan audio visual. Berimajinasi dalam alam mimpi inilah seorang anak akan berkreasi, berfikir dan menemukan hal-hal yang bersifat baru. Menemukan sesuatu yang baru adalah salah satu bentuk untuk menemukan daya kreasi. sehingga dapat dikatakan dengan surealisme gairah kreatifitas anak dapat ditingkatkan.
      Surealisme pertama kali di luncurkan secara resmi di Paris, Perancis, pada tahun 1924, pada saat itu seorang penulis Perancis bernama Andre Breton. menulis manifesto pertama surealisme, mengguratkan ambisi-anak  akan kelahiran gerakan baru.. Breton menuliskan dua lagi manifesto surealis pada than 1930 dan  19 1942. Gerakan tersebut segera menyebar ke wilayah lain, juga ke wilyah Amerika  Utara dan selatan. Diantara kondisi yang paling penting dari gerakan surealis adalah penemuan  teknik artistik baru yang terhubung ke alam pikiran bawah sadar seorang anak.

I. SEJARAH SUREALISME

      Awal mula timbulnya surealisme, merupakan kelanjutan dari gebrakan seni pendahulunya yang dikenal dengan aliran dadaisme, yang didirikan di tengah berkecamuknya Perang Dunia I yang berlangsung sekitar tahun 1914 – 1918. Karakteristik surealisme timbul adanya hentakan kemunculan aliran dada yang memprotes pada kenyataan kehancuran besar-besaran dan  begitu banyak nyawa yang melayang yang di akibatkan oleh perang.
      Timbulnya Surealis adalah untuk mengembangkan unsur-unsur positif yang hilang dari Dadais.  Surealis lebih banyak memberikan pandangan tentang kebaikan yang secara esensial mengubah pesan negative yang terdapat pada Dadais.
      Aliran Surealis secara mendasar dipengaruhi oleh pandangan Sigmund Freud, seorang pendiri psikoanalisis dari Austria. Pandangan Sigmund tentang pemisahan antara ego dan id-yaitu, antara naluri dan hasrat utama manusia (id) dan corak perilaku manusia yang lebih berdab dan rasional (ego) secara hebat mempengaruhi pandangan aliran surealis. Sejak tuntutan dan kebutuhan utama secara signifikan berjalan bersinggungan dengan harapan masyarakat, Freud memberikan kesimpulan bahwa pada diri manusia menekan hasrat dasarnya ke dalam bagian bawah sadar pikirannya. Bagi pribadi yang ingin menikmati kesehatan kejiwaan, nilai rasa, haruslah membawa hasrat itu kepikiran sadar, atau dengan kata lain, impian yang ada di bawah alam sadar ditampilkan pada kehidupan yang nyata melaui hasil karya seni yang mempunyai makna bagi kehidupan manusia.
    Keyakinan Freud bahwa mengesampingkan desakan tuntutan untuk menekan hasrat yang ada di bawah alam sadar tetap menampilkan dirinya, terutama ketika pikiran yang sadar melonggarkan cengkeramannya dalam mimpi, mitos, model perilaku ganjil, terpelesetnya lidah, ketidaksengajaan dan seni. Aliran surealis memang pada dasarnya menciptakan  bentuk dan teknik baru seni yang lebih radikal dalam pencariannya untuk mendapatkan akses ke alam pikiran .bawah sadar.

II. SUREALISME BENTUK KREATIFITAS VISUALISASASI SUATU MIMPI

    Bentuk kreatifitas dapat direalisasikan melalui mimpi-mimpi, mitos dan metamorfosis
yang belum dapat terwujud atau mungkin tidak akan terwujud dalam alam nyata ataupun alam sadar. Kreatifitas seni dapat menjangkau sesuatu yang belum terwujud, yang masih terpendam dalam alam di bawah sadar menjadi bentuk visual yang dapat  dinikmati dalam alam sadar yang nyata. Bentuk estetika yang hanya dalam angan bisa terwujud dan dinikmati keindahannya lewat mata telanjang, dan tidak hanya sekedar imajinasi saja.
    Para surealis dalam usaha untuk mengakses kinerja pikiran yang sebenarnya, banyak yang menggali, meraba dan mengambil kualitas mimpi yang tak masuk akal. Hal ini bisa kita lihat hasil karya para seniman surealisme dunia seperti misalnya: Salvador Dali (Spanyol), Rene Margrite dan Paul Delvaux (Belgia). Pengungkapan kualitas irasional alam mimpi yang secara bersamaan mengejutkan para penikmatnya menghasilksn suatu representasi yang realistis, tetapi meletakkan secara berdampingan objek-objek serta visualnya dengan cara irasional. Hal ini juga berlaku dalam eksperimen dalam film, yang menawarkan kemungkinan memotong, menindih, mencampur atau memanipulasi gambar untuk menciptakan keseimbangan dan keharmonisan gambar sedemikian rupa yang akhirnya dapat mengguncang para penikmatnya.
    Proses metamorfosis dari satu objek ke objek lainnya, memang bukanlah sesuatu yang aneh bagi para pencipta seni. Seperti halnya para pelukis dan pembuat film surealis, sama juga dengan perangkat yang digunakan oleh para pemahat surealis, para penikmat di bawa untuk membayangkan sensasi yang membingungkan dengan berbagai macam hasil kreasi yang siap dinikmati secara estetis.
    Banyak surealis yang menjadi terpesona dengan mitos. Menurut Freud, mitos-mitos banyak mengungkapkan tentang belenggu kejiwaan yang tersembunyi dalam setiap manusia. Karl Jung, psikolog dari Swiss melanjutkan suatu argument bahwa mitos dapat menunjukkan persamaan yang patut diperhatikan dengan mengesampingkan tempat asal dan waktu terjadinya. Jung menjelaskan persamaan tersebut melalui keberadaan yang disebut dengan  “ketidaksadaran kolektif”, lapisan kejiwaan yang bagaimanapun juga dimiliki oleh setiap manusia. Seperti halnya dengan mimpi yang menampilkan gambaran-gambaran irasional yang mengungkap kejiwaan semua insane di dunia ini.
    Mitos-mitos juga menarik bagi para surealis disebabkan peran pentingnya bagi budaya-budaya Asia dan kelompok bangsa sejenisnya. Para pengikut Freud mempunyai pandangan bahwa peradaban Barat berada dalam bahaya karena memisahkan antara kemanusiaan dan sifat alaminya. Secara luas diyakini bahwa budaya-budaya Asia, Indian dan Afrika lebih selaras dengan sifat dan dorongan alami yang diekspresikan melalui mitos-mitos dan hasil kebudayaan tersebut. Seorang surealis yang memnijam dari kesenian Afrika untuk karyanya adalah pemahat Swiss Alberto Giacometti. Hasil karya yang diberi judul “Spoon Woman”(1926, Museum of Modern art, New York City), yang mana di dalamnya terdapat sendok dan centong-centongnya  juga menyerupai manusia, hingga hasilnya bermakna mitos bernaluri mistis.

III. PENGUASAAN TEKNIK SUREALIS

     Penciptaan suatu karya seni tidak akan pernah lepas dari cara dan langkah yang benar dalam mendapatkan hasil yang maksimal. Langkah itu di tempuh melalui  ujicoba  dan pengalaman di lapangan pada saat penciptaan bentuk maupun objek dasarnya. Sebuah strategi dibutuhkan pada setiap langkah berkreasi seni. Sebuah strategi yang digunakan para surealis untuk berkarya cipta tidak jauh berbeda dengan berkarya seni yang lainnya.
     Strategi berkarya seni bagi para surealis adalah untuk mengangkat gambaran visual dari bawah alam sadar yang disebut “Exquisite Corpse”. Bentuk seni kolaborasi ini, seperti halnya sehelai kertas yang dilipat menjadi empat bagian lipatan, dan empat seniman berbeda memberi kontribusi berupa representasi visualisasinya tanpa melihat kontribusi seniman lainnya. Pertama menggambar kepala, melipat lagi kertasnya, lalu menyerahkannya kepada seniman lainnya, yang menggambarkan bagian atas tubuh, yang ketiga menggambar kedua kaki dan yang keempat, menggambar bagian bawah tubuh. Para seniman lalu membuka lipatan kertas untuk mempelajari dan menginterpretasikan  kombinasi gambar tersebut.
      Ada beberapa teknik lain yang menggunakan beberapa kemungkinan dan ketidaksengajaan: frottage (menggosok). Dengan menempatkan kepingan-kepingan kayu atau logam yang kasar di bawah kanvas dan selanjutnya melukis atau menggambar dengan pensil di atasnya, pencipta seni mentransfer motif kasar dari permukaan tersebut ke dalam karya yang telah finish (selesai).
     Teknik yang paling penting di gunakan dalam surealis adalah bagaimana mengangkat alam bawah sadar secara otomatis, atau secara spontan dalam visualisasinya.. Otomatis dalam bentuk aliran atau yang disebut automatisme dapat dihasilkan dengan membiarkan ketrampilan tangan menjelajahi permukaan kanvas tanpa adanya campur tangan dari pikiran alam sadar. Tanda-tanda yang dihasilkan, seniman mengolah daya pikir, tidak asal atau secara acak saja, tetapi akan dibimbing setiap titiknya dengan memberikan fungsi pemikiran alam bawah sadar sang seniman. Pembimbingan ini bukan dari pikiran rasional atau pelatihan keartistikan, tetapi dapat diperoleh melalui pengembangan naluri di bawah alam sadar tadi.
      Teknik otomatis ini menggunakan tanda-tanda yang telah diimprovisasi sebagai dasar untuk penguraiannya. Betapapun mengada-ada penyerupaannya dengan objek nyata (wajah atau bagian tubuh lainnya), usaha untuk memperbaiki  hubungan antar unsurnya tampak lebih jelas, tidak harus menentukan sesuatu yang menjadi subjek lukisannya. Para surealis mengklaim bahwa  uraian-uraiannya selanjutnya dimotivasi secara murni oleh keadaan emosionalnya selama penciptaan karya seni tersebut.
      Teknik Automatisme juga ada yang menggunakan zat warna secara acak dalam menuangkan  objek di atas kanvas dan membiarkan lukisannya melaju melintasi permukaannya melalui gravitasi, menciptakan serentetan hasil yang tak bisa diprediksi ke depannya. Sejalan dengan itu, langkah dalam karya lukisan lain ada yang dibuat secara sengaja melalui perencanaan dan perhitungan yang matang. Seniman melalui perenungan warna yang akan dituangkan di atas kanvas untuk beberapa lama, kemudian terinspirasi oleh bentuk-bentuk dan makna-makna yang dianjurkan, menambahkan beberapa lekukan, bentuk-bentuk abstrak yang memunculkan wujud-wujud yang hidup sebagai representasi lahirnya kesadaran melalui penciptaan lukisan.
     Beberapa  surealis, menggunakan beberapa kombinasi teknik-teknik untuk menyiratkan keadaan alam mimpi atau untuk menghasilkan perbendaharaan abstrak dari bentuk-bentuk yang nyata. Memang untuk sesudahnya kesulitan untuk menyimpan ke dalam suatu kategori. Objek-objek karya seni tersebut, bagaimanapun juga, sangat ambigu (bermakna ganda) sehingga penyimaknya bisa melihat dengan berbagai cara dan menyimpulkan interpretasi mereka sendiri-sendiri terhadap lukisan tersebut.

IV. PENGARUH SUREALISME DALAM MENINGKATKAN KREATIFITAS ANAK

     Surealisme dinilai sebagai salah satu dari gerakan-gerakan seni yang paling penting dan berpengaruh pada paruh abad 20. Perkembangan berikutnya di awal abad 21 ini , dialihfungsikan sebagai salah satu wahana dalam meningkatkan kreatifitas anak. Seperti yang telah diketahui bahwa surealis menekankan pada objek-objek di bawah alam sadar, menekankan sesuatu yang terdapat dalam alam mimpi, atau dengan kata lain memvisualkan berbagai impian manusia yang mungkin juga dapat terlaksana di dalam realita kehidupan. Angan-angan ini menumbuhkan suatu keinginan kuat untuk berandai-andai sehingga dapat memunculkan sesuatu yang baru yang kemungkinan  belum pernah dibayangkan oleh khalayak secara umum.
     Sesuatu yang belum terlaksana,  masih dalam angan-angan ataupun baru berupa impian inilah yang perlu dikembangkan pada tataran pemikiran seorang anak. Anak sebisa mungkin di beri peluang untuk selalu mengembangkan imajinasi, menemukan impian yang diidamkan serta diberikan peluang untuk menemukan langkah-langkah mengatasi, melaksanakan dan meraihnya. Tanamkan pada diri anak bahwa sesuatu yang dimpikan suatu saat akan bisa diraihnya. Paling tidak diberikan pengertian bahwa usaha untuk meraih sesuatu yang diidamkan atau impian seorang anak adalah tindakan positif yang bernilai tinggi bagi perkembangan moral dan mental seorang anak. Walaupun pada akhirnya usaha itu tak dapat  meraih asa yang diinginkan, tetaplah harus dinilai positif dan diberikan pengertian untuk menerima hasil apapun jugadengan hati lapang. Yang terpenting adalah bentuk usahanya, gigihnya dalam meraih tujuan, hasil adalah nilai tambahan saja. Tetapi apapun hasil yang diraih haruslah tetap dihargai, sehingga tidak akan mematikan kreatifitas anak dalam meraih sesuatu yang menjadi impiannya.
     Surealis memang memandang suatu impian hanyalah bentuk ungkapan alam bawah sadar yang diwujudkan pada suatu karya yang dapat dinikmati di dalam dunia nyata atau alam sadar manusia. Tetapi dengan surealis inilah ditemukan angan, impian dan asa yang dibutuhkan seorang anak dalam fase perkembangannya. Anak membutuhkan dorongan yang sangat kuat menciptakan sesuatu yang diinginkannya yang berawal dari angan dan impian yang tertanam dalam daya imajinasinya. Impian-impian itu dapat dimunculkan secara kreatif apabila anak dilatih untuk selalu menemukan bentuk impian yang baru. Surealis inilah salah satu wahana untuk selalu dapat menemukan dan mengembangkan impiannya sehingga anak akan dapat berlatih berkreasi sesuai tataran pemikiran masa anak-anak.
     Surealisme secara bertahap sangat berpengaruh pada peningkatan kreatifitas anak. Kemampuan berkreasi anak akan berkembang ke arah yang lebih baik. Nilai positif tersebut akan dapat di rasakan dengan adanya latihan, didikan dan bimbingan untuk selalu menemukan hal-hal yang baru dalam bentuk impian, angan dan asa yang selalu menggelitik muncul dalam alam pemikiran seorang anak. Kreatifitas anak inilah yang sangat berarti dalam menemukan jati diri menuju suatu perkembangan yang optimal menghadapi kerasnya persaingan dalam mencapai cita-cita kehidupannya.

GRAFFITI : KARYA SENI YANG SEDANG NGETREND DIKALANGAN SISWA

22.31 Edit This 0 Comments »
            Siswa sebagai kawula muda merupakan salah satu kelompok umur yang sedang bergejolak. Bergejolak dalam perkembangan untuk mencari jati diri. Siswa ingin menunjukkan siapa dirinya dalam lingkungan kehidupannya. Menunjukkan ego, menunjukkan kemampuan yang dimiliki, ingin menonjolkan dirinya dan ingin diakui keberadaan dirinya. Hal ini wajar dalam psikologi perkembangan mental dan fisiknya  yang mengalami perubahan yang luar biasa. Fisiknya mengalami perubahan dari bentuk tubuh anak-anak menjadi remaja, sedangkan  mentalnya juga berubah drastis dari masa bermain anak menjadi masa remaja dengan berbagai dinamikanya.
       Siswa mulai timbul ketertarikan pada sesuatu bentuk untuk menampilkan dirinya dengan penilaian yang lebih tinggi. Siswa ingin dirinya mempunyai kelebihan yang ditonjolkan supaya  dikenal di kalangannya atau masyarakat dimana ia berada. Hal ini menimbulkan sesuatu yang disukai dan diminati oleh sekelompok kalangan muda. Sehingga semua yang merasa berjiwa muda ingin meniru dan melakukan sesuai dengan yang dilihat, disukai dan dipandang menarik untuk ditirunya.
          Dari segala tingkah polah kawula muda yang diminati secara kolektif inilah maka dikenal dengan perkataan ngetrend. Istilah nge”TREND” dalam kehidupan sehari-hari sering digunakan untuk mengungkapkan keadaan dimana suatu hal sedang digemari atau sedang menjadi perhatian kebanyakan orang. Selain berhubungan dengan bentuk yang dipakai seperti misalnya fashion, trend pun memiliki kaitan erat dengan berbagai bentuk karya seni rupa  lainnya, misalnya seperti seni lukis, seni bangun , seni batik atau seni lainnya. Hal diatas menunjukkan betapa pentingnya pemahaman akan trend ini.
          Ketika mendapati keadaan dimana suatu hal sedang menjadi trend (istilahnya sedang trendy), kebanyakan orang akan berlomba-lomba untuk memilikinya. Bukan semata-mata untuk mencapai kebutuhan yang diinginkan siswa, tapi kita akan tahu dengan sendirinya, keinginan mereka supaya hal ini tidak dibilang ketinggalan zaman atau dikatakan katrok. Para siswa tidak perlu munafik untuk mengakuinya, sehingga  tidak dibilang katrok. Tentang hal ini makanya para siswa seakan wajib mengikuti trend yang sedang merebak dan minati secara umum oleh kawula muda.
           Salah satu kecenderungan siswa (hal ini sebagai kawula muda) adalah keinginannya untuk mengungkapkan kebebasan hasrat hatinya lewat corat-coret pada tempat-tempat tertentu. Corat-coret ini bisa diartikan secara positif dan bisa juga diartikan secara negatif. Secara positif: berarti siswa ini telah dapat mencurahkan isi hatinya tanpa terkendala pada sesuatu yang mengakibatkan  memberatkan dirinya. Sedangkan segi negatifnya adalah corat-coret ini cenderung kurang beraturan dilampiaskan pada tempat umum sehingga dapat mengganggu kenyamanan khalayak yang menggunakan atau sekedar lewat pada tempat tersebut. Memang seharusnya hal ini disikapi dengan arif dan bijaksana, jangan sekedar memvonis memberikan hukuman atau sangsi pada mereka. Berikan kesempatan pada siswa untuk berkreasi sesuai yang sedang disukai dan merebak dikalangan anak muda.
           Saat ini kegiatan corat-coret siswa yang sedang ngetrend adalah berkarya cipta seni yang dikenal  dengan nama karya GRAFFITI. Graffiti bagi anak muda sudah tidak asing lagi. Mereka sudah cukup familier dengan sebutan istilah ini. Graffiti (juga dieja graffity atau grafiti) adalah salah satu karya seni rupa yang berbentuk coretan-coretan pada dinding yang menggunakan komposisi warna, garis, bentuk dan volume untuk menuliskan suatu kata, simbol atau susunan kalimat tertentu. Media yang digunakan sebenarnya bebas tidak tergantung pada alat-alat rupa tertentu saja. Tetapi kecenderungan saat ini alat yang digunakan biasanya berupa cat semprot kaleng. Tetapi ada juga yang menggunakan semacam cat tembok atau cat kayu yang dilapisi dengan pelapis yang transparan atau berwarna netral. Memang sebelum cat semprot dikenal dan tersedia, graffiti pada umumnya dibuat dengan sapuan cat menggunakan kuas atau kapur.
SEJARAH GRAFFITI
            Manusia pra sejarah atau disebut pula manusia primitif pada zaman dahulu mempunyai kebiasaan melakukan kegiatan corat-coret pada dinding-dinding goa. Penggambaran ini disesuaikan dengan kegiaan yang berlangsung pada saat itu, misalnya suasana berburu atau suasana mencari makanan mereka. Kegiatan ini serasa sangat penting untuk menggambarkan kehidupan mereka, disamping juga untuk menggambarkan keyakinan yang dipercaya pada saat itu.
            Kebiasaan melukis di dinding bagi manusia primitif adalah sebagai salah satu sarana cara mengkomunikasikan kegiatan perburuan. Pada masa primitif ini, pembuatan graffiti  digunakan sebagai sarana mistisme dan spiritual untuk memberikan semangat membangkitkan kekuatan di dalam berburu. Berburu adalah kegiatan mereka, berburu adalah salah satu cara untuk mempertahankan kehidupannya.
           Perkembangan berikutnya pada kehidupan kesenian di zaman Mesir Kuno juga memperlihatkan aktivitas melukis di dinding-dinding Piramida, Mastaba atau karya seni bangun yang lainnya. Lukisan pada zaman ini berfungsi sebagai sarana untuk mengkomunikasikan kehidupan masyarakat yang berhubungan dengan alam lain. Bentuk komunikasi ini adalah bentuk alam lain yang akan ditemui oleh seorang Pharaoh (Firaun) setelah dimumikan.
           Kegiatan  Graffiti sebagai sarana untuk menunjukkan ketidakpuasan, baru dimulai pada zaman Romawi dengan bukti adanya lukisan tentang sindiran terhadap pemerintahan di dinding-dinding bangunan. Salah satu lukisan yang bertemakan tentang sindiran dapat ditemukan di reruntuhan kota Pompeii. Sementara di Roma sendiri dipakai sebagai alat propaganda untuk mendiskreditkan pemeluk agama yang dianut masyarakat pada zaman itu yang mendapatkan larangan dari Kaisar.
GRAFFITI DI ZAMAN MODERN
           Pada zaman modern ini timbul adanya kelas-kelas sosial yang terpisah terlalu jauh. Pemisahan kelas sosial ini berakibat menimbulkan kesulitan bagi masyarakat golongan tertentu untuk melampiaskan hasrat nurani seninya. Kegiatan mengekspresikan naluri seni ini terasa tersumbat bagi golongan tertentu yang merasa di bawah tekanan. Akibatnya beberapa individu menggunakan sarana  yang hamper tersedia di setiap belahan sudut-sudut kota. Sarana yang tersedia dan bebas penggunaannya menurut mereka adalah dinding.
            Penyebab lainnya adalah pendidikan yang berkaitan dengan kesenian  sangat kurang. Hal ini menyebabkan objek yang sering muncul dalam karya graffiti berupa tulisan-tulisan, sandi atau simbol yang hanya dipahami oleh golongan tertentu saja. Biasanya karya ini menunjukkan  ketidakpuasan terhadap keadaan sosial yang mereka alami.
             Meskipun  pada awal perkembangan zaman modern bersifat merusak dan menyebabkan tingginya biaya pengeluaran pemeliharaan kebersihan kota, namun graffiti tetap merupakan bentuk ekspresi seni yang patut dihargai. Bisa kita jumpai banyak sekali seniman terkenal yang mengawali kariernya dari  kegiatan mengungkapkan rasa lewat graffiti.
            Pada perkembangan selanjutnya, disekitar tahun tujuhpuluhan graffiti di Amerika dan Eropa, akhirnya merambah ke wilayah urban sebagai jati diri kelompok yang menjamur di perkotaan. Saat itu karena citranya kurang bagus, graffiti terlanjur menjadi momok bagi keamanan kota.  Alasannya adalah karena dianggap memprovokasi perang antar kelompok atau gang. Graffiti  pada saat ini memang tidak sekedar melakukan kegiatan seni pada dinding kosong saja, tetapi sering dibuat juga pada dinding kereta api.
            Di Amerika Serikat sendiri saat ini, setiap negara bagian sudah memiliki peraturan sendiri untuk meredam graffiti. San Diego, California, New York telah memiliki undang-undang yang menetapkan bahwa graffiti adalah kegiatan yang bersifat illegal. Untuk mengidentifikasi pola pembuatannya graffiti dibagi menjadi dua jenis yaitu Gang Graffiti dan Tagging Graffiti.
             Gang Graffiti yaitu graffiti yang berfungsi sebagai identifikasi daerah kekuasaan lewat tulisan nama gang, gang gabungan, para anggota gang atau tulisan tentang apa yang terjadi di dalam gang itu. Sedangkan Tagging Graffiti adalah jenis graffiti yang sering dipakai untuk ketenaran seseorang atau kelompok. Semakin banyak graffiti jenis ini bertebaran, maka makin terkenallah nama pembuatnya. Graffiti jenis ini memerlukan tagging atau tanda tangan dari pembuat atau bombernya, hal ini semacam tanggung jawab pembuatnya.
           Fungsi dari graffiti adalah sebagai bahasa rahasia kelompok tertentu, sebagai sarana ekspresi ketidakpuasan terhadap keadaan sosial, sarana pemberontakan dan ekspresi  ketakutan terhadap kondisi politik dan sosial.
           Maka dari itu mudah bagi kita memahami bagaimana kawula muda dan siswa ini begitu antusias untuk mengungkapkan rasa pribadi maupun kelompoknya pada karya seni graffiti ini. Siswa adalah anak-anak muda yang sedang mengalami perkembangan perubahan jiwa menuju pada tataran kedewasaannya. Mereka adalah pribadi yang sedang memberontak untuk mencari jatidirinya. Salah satu pelampiasan emosionalnya yang paling cocok yaitu dengan corat-coret pada tempat-tempat tertentu untuk membentuk suatu karya Graffiti. Hal ini mempermudah dan mempercepat gejala trend dalam bentuk graffiti pada para siswa.
           Langkah-langkah yang paling positif adalah membuatkan sarana beradu cipta graffiti pada tempat-tempat tertentu yang dianggap pantas dan dapat menambah keindahan lingkungan yang dijadikan sarana berekspresi karya tersebut. Bisa juga siswa diberi kesempatan untuk menyalurkan hasratnya ini dengan mengadakan lomba-lomba yang berhubungan dengan graffiti, lomba ini tidak diadakan hanya sekedar gebyar sesaat saja tetapi bisa berkelanjutan dan mempunyai intensitas yang dapat lebih diperbanyak lagi. Sehingga gaya trend para siswa ini dapat disalurkan pada kegiatan yang membawa hasil  yang positif dan lebih baik dalam kehidupannya sekarang dan masa yang akan dating.
mplate Entry

SENI LUKIS SEBAGAI SARANA PENGENALAN PENDIDIKAN DAN TERAPI PADA ANAK USIA DINI

16.01 Edit This 0 Comments »


 Lukis sebagai sarana kreatifitas anak, diambil anaktangguh.wordpress.com

Membentuk keberanian berkreasi anak, diambil kimianto@gmail.com 
SENI LUKIS SEBAGAI SARANA PENGENALAN PENDIDIKAN DAN TERAPI PADA ANAK USIA DINI
Seni lukis adalah salah satu cabang dari seni rupa. Dengan dasar pengertian yang sama, seni lukis adalah sebuah pengembangan yang lebih utuh dari menggambar. Menurut Bastomi (1992:50) dalam artikel Fungsi Seni Lukis Bali Modern Anak Agung Gede Sobrat, fungsi seni pada umumnya dapat dibedakan atas seni sakral,yaitu seni yng berfungsi untuk kepentingan hal-hal yang berhubungan dengan agama dan kepercayaan. Seni yang lahir untuk kepentingan agama bernilai tinggi sebab terciptanya seni tersebut atas dasar rasa pengabdian kepada yang dipujanya. Selanjutnya, seni sekuler adalah seni yang berfungsi untuk hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan duniawi. Dalam hal ini seni sebagai alat atau objek. Oleh karena itu, maka muncullah berbagai fungsi seni, yaitu seni untuk perdagangan, penerangan, komunikasi, pendidikan, apresiasi, rekreasi, dan terapi.
Dari uraian di atas seharusnya seni lukis dapat menjadi wawasan yang penting bagi masyarakat akan tetapi pada kenyataannya seni lukis masih sering kali disepelekan dan dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat. Muncul suatu anggapan kalau seni lukis hanya sebuah kegiatan yang sekadar menuangkan hasil pikiran ke dalam lembaran kertas dan tidak penting untuk perkembangan kejiwaan anak. Sebenarnya seni memiliki hubungan erat dengan ilmu psikologi. Umumnya apa yang terdapat dalam seni, psikologi hadir di dalamnya. Para ilmuwan banyak mengaitkan seni dalam psikologi. Seni dimaknai sebagai ekspresi jiwa, seni sebagai pikiran dan perasaan, seni sebagai emosi, seni sebagai kreativitas, seni sebagai proses, seni sebagai kebebasan berpikir, dan seni sebagai simbolis,dll ( Fudin Pang, Akp, S.Psi, M.Psi, http://curhatcenter-tanyapsikolog.blogspot.com).
Apabila ditinjau lebih mendalam, seni lukis sebenarnya mempunyai peran penting bagi kecerdasan emosional anak.Tidak hanya sekadar sarana menuangkan pikiran ke dalam bentuk lukisan saja, tetapi seni lukis dapat juga digunakan sebagai sarana pengenalan benda riil sekaligus terapi bagi anak usia dini. Seni memiliki potensi untuk mengubah kehidupan dan seringkali dalam cara yang mendalam. Cathy Malchiodi dalam artikelnya yang berjudul What is Art Therapy? Mengemukakan pendapatnya bahwa When words are not enough, we turn to images and symbols to tell our stories. Ketika kata-kata tidak cukup, kita beralih ke gambar dan simbol untuk menceritakan cerita kita. And in telling our stories through art, we can find a path to health and wellness, emotional reparation, recovery, and ultimately, transformation. Dan dalam menceritakan kisah-kisah kita melalui seni, kita dapat menemukan jalan menuju kesehatan dan kebugaran, emosional reparasi, pemulihan, dan akhirnya, transformasi. (sumber : http://www.cathymalchiodi.com).
Pengenalan benda riil pada anak usia dini adalah salah satu contoh yang akan dibahas dalam paper ini. Pengenalan benda riil pada anak usia dini dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain dengan observasi langsung disertai penjelasan. Hal ini sesuai dengan teori belajar kognitif yang dikemukakan oleh Piaget bahwa perkembangan kognitif pada anak sesuai dengan perkembangan usia. Piaget mengemukakan bahwa dalam suatu kegiatan pembelajaran seorang guru harus mengerti alam pikiran anak dan tradisinya dari tingkatan-tingkatan perkembangan intelektualnya. Langkah dalam teori belajar ini adalah, pertama bahwa guru harus mengetahui hubungan antara tingkat perkembangan konseptual anak dengan bahan pelajaran yang kompleks. Kedua, guru harus memperhatikan bahan apa yang akan diajarkan dan bagaimana mengajarkannya. Langkah tersebut akan menjadi lebih baik lagi apabila ada proses penambahan dan pemanfaatan sarana atau media pembelajaran. Salah satu sarana atau media pembelajaran yang cukup efektif untuk pengenalan benda riil bagi anak adalah melalui seni lukis. Dengan media tersebut, seorang anak tidak hanya dituntun untuk tahu dan hafal saja, tetapi lebih ditekankan untuk memahami apa yang sebenarnya sedang mereka pelajari. Misalnya: mengenalkan gajah pada seorang anak, seorang pembimbing dapat mengajak anak yang bersangkutan berkunjung ke kebun binatang untuk melakukan pengamatan secara langsung disertai pemberian penjelasan. Supaya proses pembelajaran menjadi lebih menarik dan berkesan, observasi dan penjelasan tersebut perlu diintegrasikan dengan mengajak sekaligus membimbing anak untuk melukis gajah yang sedang diamati. Dengan pengintegrasian metode tersebut, proses pemahaman anak tentang gajah dapat dimaksimalkan. Gajah yang berbelalai panjang, bermata sipit, bertelinga lebar, dipadu dengan cerita tentang gajah yang hidup di alam bebas, akan lebih mudah melekat dalam ingatan anak ketika ide tersebut dituangkan dalam bentuk lukisan. Dari hasil lukisan, maka seorang pembimbing dapat mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman anak tentang gajah yang sedang dipelajari. Hasil lukisan kemudian dievaluasi untuk diberi penjelasan lanjutan. Apabila pemahaman anak ternyata belum tepat, penjelasan yang benar dan logis harus diberikan demi keberhasilan pembelajaran.
Selain sebagai sarana pengenalan benda riil, seni lukis juga dapat digunakan sebagai sarana terapi bagi anak usia dini yang mengalami ketakutan terhadap sesuatu. Misalnya saja pada seorang anak yang takut pada seekor kucing. Seorang pembimbing/guru sudah seharusnya mencari tahu penyebab ketakutan tersebut. Selanjutnya, anak yang bersangkutan diberi pemahaman baru yang positif tentang kucing melalui terapi lukis. Anak dibimbing untuk melukis kucing dengan karakter lucu dan menyenangkan bagi si anak yang bersangkutan. Dengan begitu, ketakutan anak terhadap kucing akan berkurang bahkan hilang.
Seni sebagai sarana terapi didasarkan pada keyakinan bahwa proses kreatif yang terlibat dalam artistik ekspresi diri membantu orang untuk menyelesaikan konflik dan masalah, mengembangkan keterampilan interpersonal, mengelola perilaku, mengurangi stres, meningkatkan harga diri dan kesadaran diri, dan mencapai pemahaman. Kasus ketakutan atau traumatik anak pada hewan tertentu seperti kasus di atas yaitu pada kucing, dapat diatasi dengan menggunakan seni lukis.
Begitu pentingnya pendidikan bagi anak usia dini, maka berbagai macam inovasi pembelajaran mutlak dilaksanakan. Seni lukis dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif inovasi yang efektif dan efisien untuk meningkatkan kecerdasan intelektual sekaligus emosional anak. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk memandang seni lukis dengan sebelah mata. Ternyata, seni lukis bagi anak usia dini sangat berdaya guna.