ASWATAMA

09.02 Edit This 0 Comments »

Gambar wayang Aswatama dalam versi Jawa, diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Aswatama-kl.jpg

Aswatama

Dalam wiracarita Mahabharata, Aswatama (Sanskerta:, Aśvatthāmā) atau Ashwatthaman (Sanskerta: Aśvatthāman) adalah putra Drona dengan Krepi. Sebagai putra tunggal, Drona sangat menyayanginya. Ia juga merupakan salah satu dari tujuh Ciranjīwin, karena dikutuk untuk hidup selamanya tanpa memiliki rasa cinta. Saat perang di Kurukshetra berakhir, hanya ia bersama Kertawarma dan Krepa yang bertahan hidup. Oleh karena dipenuhi dendam atas kematian ayahnya, ia menyerbu kemah Pandawa saat tengah malam dan melakukan pembantaian membabi buta.

· Kemunculan tokoh Aswatama jarang muncul dalam kitab Mahabharata. Kisahnya yang terkenal adalah pembunuhan terhadap lima putera Pandawa dan janin yang dikandung oleh Utari, istri Abimanyu. Janin tersebut berhasil dihidupkan kembali oleh Kresna, namun lima putera Pandawa tidak terselamatkan nyawanya.

Masa muda dan pendidikan

Aswatama merupakan putera dari pasangan Bagawan Drona dengan Kripi, adik Krepa dari Hastinapura. Saat kecil keluarganya hidup misikin, namun mengalami perubahan setelah Drona diterima sebagai guru di istana Hastinapura. Ia mengenyam ilmu militer bersama dengan para pangeran Kuru, yaitu Korawa dan Pandawa. Kekuatannya hampir setara dengan Arjuna, terutama dalam ilmu memanah.

Pertempuran di Kurukshetra

Saat perang di antara Pandawa dan Korawa meletus, ia memihak kepada Korawa, sama dengan ayahnya, dan berteman dengan Duryodana. Untuk membangkitkan semangat pasukan Korawa setelah dipukul mundur, ia memanggil senjata Narayanastra yang dahsyat. Mengetahui hal tersebut, Kresna membuat sebuah taktik dan karenanya senjata itu berhasil diatasi. Ia juga memanggil senjata Agneyastra untuk menyerang Arjuna, namun berhasil ditumpas dengan senjata Brahmastra. Pertarungannya dengan Bima dalam Bharatayuddha berakhir secara "skakmat".

Kabar angin yang salah mengenai kematiannya dalam perang di Kurukshetra membuat ayahnya meninggal di tangan pangeran Drestadyumna dari kerajaan Panchala. Aswatama yang menaruh dendam mendapat izin dariDuryodana untuk membunuh Drestadyumna secara brutal setelah perang berakhir secara resmi. Saat akhir peperangan, Aswatama berjanji kepada Duryodana bahwa ia akan membunuh Pandawa, dan menyerang kemah Pandawa saat tengah malam, namun karena kesalahan ia membunuh lima putera Pandawa dengan Dropadi(Pancawala).

Pandawa yang marah dengan perbuatan tersebut memburu Aswatama dan akhirnya ia bertarung dengan Arjuna. Saat pertarungan, Aswatama memanggil senjata 'Brahmastra' yang sangat dahsyat, yang dulu ingin ditukar dengan cakra milik Kresna namun tidak berhasil. Dengan senjata itu ia menyerang Arjuna dan Arjuna membalasnya dengan mengeluarkan senjata yang sama. Takut akan kehancuran dunia, Bhagawan Byasa menyuruh agar kedua kesatria tersebut menarik senjatanya kembali. Sementara Arjuna berhasil melakukannya, Aswatama (yang mungkin kurang pintar) tidak bisa melakukannya dan diberi pilihan agar senjata menyerang target lain untuk dihancurkan. Dengan rasa dendam, Aswatama mengarahkan senjata menuju rahim para wanita di keluarga Pandawa. Di antara mereka adalah Utara, menantu Arjuna.

Kutukan bagi Aswatama

Setelah Aswatama mengarahkan Brahmastra menuju perut Utara yang sedang mengandung, senjata itu berhasil membakar janin Utara, namun Kresnamenghidupkannya lagi dan mengutuk Aswatama agar menderita kusta dan mengembara di bumi selama 6.000 tahun sebagai orang buangan tanpa rasa kasih sayang. Dalam versi lain, dipercaya bahwa ia dikutuk agar terus hidup sampai akhir zaman Kaliyuga. Legenda mengatakan bahwa Aswatama pergi mengembara ke daerah yang sekarang dikenal sebagai semenanjung Arab. Ada juga legenda yang mengatakan bahwa Aswatama masih mengembara di dunia dalam wujud badai dan angin topan. Sebuah benteng kuno di dekat Burhanpur, India, yang dikenal dengan Asirgarh memiliki kuil Siwa di puncaknya. Konon setiap subuh, Aswatama mengunjungi kuil tersebut untuk mempersembahkan bunga mawar merah. Masyarakat yang tinggal di sekitar benteng mencoba untuk menyaksikannya namun tidak pernah berhasil. Konon orang yang bisa menyaksikannya akan menjadi buta atau kehilangan suaranya. Di Gujarat, India, ada Taman Nasional Hutan Gir yang dipercaya sebagai tempat Aswatama mengembara dan konon ia masih hidup di sana sebagai seorang Chiranjiwin.

Menurut legenda, Aswatama menyerahkan batu permata berharga (Mani) yang terletak di dahinya, yaitu permata yang membuatnya tidak takut terhadap segala senjata, penyakit, atau rasa lapar, dan membuatnya tak takut terhadap para Dewa, danawa, dan naga.

Aswatama dalam pewayangan Jawa

Riwayat hidup Aswatama dalam pewayangan Jawa memiliki beberapa perbedaan dengan kisah aslinya dari kitabMahabharata yang berasal dari Tanah Hindu, yaitu India, dan berbahasa Sanskerta. Beberapa perbedaan tersebut meliputi nama tokoh, lokasi, dan kejadian. Namun perbedaan tersebut tidak terlalu besar sebab inti ceritanya sama.

Riwayat

Aswatama adalah putra Bhagawan Drona alias Resi Drona dengan Dewi Kripi, puteri Prabu Purungaji dari negara Tempuru. Ia berambut dan bertelapak kaki kuda karena ketika awal mengandung dirinya, Dewi Krepi sedang beralih rupa menjadi kuda sembrani, dalam upaya menolong Bambang Kumbayana (Resi Drona) terbang menyeberangi lautan. Aswatama berasal dari padepokan Sokalima dan seperti ayahnya, ia memihak para Korawa saat perang Bharatayuddha. Ketika ayahnya menjadi guru Keluarga Pandawa dan Korawa di Hastinapura, Aswatama ikut serta dalam mengikuti pendidikan ilmu olah keprajuritan. Ia memiliki sifat pemberani, cerdik dan pandai mempergunakan segala macam senjata. Dari ayahnya, Aswatama mendapat pusaka yang sangat sakti berupa panah bernama Panah Cundamanik.

Aswatama Gugat

Pada perang Bharatayuddha, Drona gugur karena terkena siasat oleh para Pandawa. Mereka berbohong bahwa Aswatama telah gugur, tetapi yang dimaksud bukan Aswatama manusia, melainkan seekor gajah yang bernama Hestitama (Hestiberarti "Gajah") namun terdengar seperti Aswatama. Lalu Drona menjadi putus asa setelah ia menanyakan kebenaran kabar tersebut kepada Yudistira yang dikenal tak pernah berbohong. Aswatama merasa kecewa dengan sikap Duryodanayang terlalu membela Salya yang dituduhnya sebagai penyebab gugurnya Karna. Aswatama memutuskan untuk mundur dari perang Bharatayudha. Setelah Perang Bharatayuda berakhir dan keluarga Pandawa pindah dari Amarta keHastinapura, secara bersembunyi Aswatama masuk menyelundup ke dalam istana Hastinapura. Ia berhasil membunuhDrestadyumna (pembunuh ayahnya), Pancawala (putera Puntadewa alias Yudistira), Banowati (Janda Duryodana) danSrikandi. Diceritakan bahwa akhirnya ia mati oleh Bima, karena badannya hancur dipukul Gada Rujakpala.

(Artikel ini diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Aswatama).

RADEN KARTAMARMA 2

09.58 Edit This 0 Comments »








KARTAMARMA adalah salah seorang diantara 100 orang keluarga Kurawa (Sata Kurawa) yang terkemuka.
Kartamarma putra Prabu Drestarasta raja negara Astina dengan permaisuri Dewi Gandari, putri Prabu Gandara dengan Dewi Gandini dari negara Gandaradesa.
Diantara saudaranya yang dikenal dalam pedalangan adalah; Duryudana (raja Negara Astina), Bogadatta (raja negara Turilaya), Bomawikata, Citraksa, Citraksi, Carucitra, Citrayuda, Citraboma, Dursasana (Adipati Banjarjungut), Durmuka, Durmagati, Durgempo, Gardapati (raja negara Bukasapta), Gardapura, Kartadenta, Surtayu, Surtayuda, Wikataboma, Widandini (raja negara Purantara) dan Dewi Dursilawati.
Kartamarma memliki perwatakan; keras hati, pandai bicara, cerdik, lincah, agak pengecut dan selalu ingin enaknya sendiri.
Kartamarma menikah dengan Dewi Karastri, putri raja Banyutinalang. Setelah mertuanya meninggal, Kartamarma dinobatkan menjadi raja di Banyutinalang.
Kartamarma tidak mati di medan perang Bharatayuda.
Kartamarma mati dibunuh oleh Bima setelah berakhirnya perang Bharatayuda, tatkala bersama Aswatama menyeludup masuk ke dalam istana negara Astina dengna niat menculik dan membunuh bayi Parikesit, putra Abimanyu dengan Dewi Utari.


RADEN KARTAMARMA

Raden Kartamarma putra Prabu Destarastra, raja negara Astina. Ia tergolong anggota kerabat Korawa pilihan dan bersemayam di Banyutinalang.

Pada saat-saat penting Kartamarma terpilih sebagai pahlawan terkemuka.
Dalam perang Bratayuda, Kartamarma selalu jaya dalam perangnya. Hingga habis perang Baratayuda, Kartamarma masih memimpin secara tersembunyi sisa sisa tentara Astina.

Ketika sehabis perang Baratayuda, Aswatama bertekad untuk membunuh kerabat Pendawa, Kartamarma ikut serta, tetapi sesudah Aswatama mati, dia melarikan diri, benjumpa dengan Wrekodara dan mati dibunuh oleh ksatria ini.

Dalam riwayat diterangkan, bahwa halusnya (sukma) Kartamarma menjelma menjadi brengkutis (sebangsa serangga) yang selalu mengerumuni kotoran.

Kartamarma bermata kedondongan putih, berhidung dempak. Berjamang dengan garuda besar membelakang. Bersunting kembang kluwih. Berkalung ulur-ulur, bergelang, berpontoh, dan berkeroncong. Berkain kerajaan lengkap.


Sumber : Sejarah Wayang Purwa - Hardjowirogo - PN Balai Pustaka – 1982

(Artikel ini diambil dari http://ki-demang.com/gambar_wayang/index.php?option=com_content&view=article&id=916:20-kartamarma-solo&catid=86:isi-wayang-k&Itemid=916).

RADEN KARTAMARMA 1

08.49 Edit This 0 Comments »

RADEN KARTAMARMA

Raden Kartamarma adalah putra Prabu Destarasta dan merupakan salah satu Kurawa yang terpilih bersemayam di Banyutinalang. Ia juga merupakan kesatria dari pihak Kurawa yang terkemuka.
Dalam perang Baratayudha Kartamarma selalu menang dalam perangnya, hingga habis perang Kartamarma masih memimpin sisa tentara Hastinapura dengan bergeriIya. Waktu Aswatama akan membunuh kerabat Pandawa, sehabis perang Baratayudha, Kartamarma mengikuti, tetapi setelah Aswatama tewas, Kartamarma melarikan diri, namun kemudian bertemu dengan Bima dan akhirnya tewas ditangan Bima.
Dalam riwayat diterangkan’, bahwa sukma Kartamarma menjelma berupa binatang kecil bernama brengkutis (kumbang keciI), yaitu serangga yang mengerumuni kotoran.

BENTUK WAYANG

Kartamarma bermata kedondongan putih, hidung dempak. Berjamang dengan garuda membelakang besar. Bersunting, bentuk sekar kluwih. Berpraba. Berkalung ulur-ulur, bergelang, berpontoh dan berkeroncong. Berkain kerajaan lengkap.

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.

(Artikel ini diambil dari http://wayangku.wordpress.com/2009/01/04/raden-kartamarma/).

CITRAKSI

08.52 Edit This 0 Comments »


Citraksi

Citraksi adalah seorang tokoh dari wiracarita Mahabharata. Ia merupakan salah satu Korawa. Dalam versi pewayangan Jawa, ia sering terlihat bersama-sama dengan dua saudaranya yang lain, yaitu Citraksa dan Durmagati. (http://id.wikipedia.org/wiki/Citraksi).CIC

ITRAKCITRAKSI adalah salah seorang dari 100 (seratus) anak Kurawa, putra Prabu Drestarasta, raja negara Astina dengan permaisuri Dewi Gandari, putri Prabu Gandara dengan Dewi Gandini dari negara Gandaradesa. Diantaranya saudara-saudaranya yang dikenal dalam pedalangan adalah ; Duryudana (raja negara Astina), Bogadatta (raja negara Turilaya), Bomawikata, Wikataboma, Citraksa, Citraboma, Citrayuda, Carucitra, Dursasana (Adipati Banjarjumut), Durmuka, Durmagati, Durgempo, Gardapati (raja negara Bukasapta), Gardapura, Kartamarma (raja negara Banyutinalang), Kartadenta, Surtayu, Surtayuda, Windandini (raja negara Purantara) dan Dewi Dursilawati.

Citraksi mempunyai sifat dan perwatakan ; cerdik, pandai, congkak dan keras hati. Sayang kalau bicara gagap (tersendat-sendat) membuat orang tidak sabar mendengarnya. Sebagai murid Resi Drona, ia juga mahir dalam olah keprajuritan, khususnya mempermainkan senjata gada dan trisula.

Ketika berlangsungnya perang Bharatayuda, Citraksi tampil memimpin pasukan balatentara Kurawa di bawah komando senapati perang, Prabu Salya raja negara Mandaraka. Citraksi bersama - sama dengan lima orang saudaranya yaitu; Adityaketu, Bimarata, Bimawega, Halayuda dan Jalasuma, tewas dalam peperangan melawan Arya Utara, senapati perang Pandawa, putra Prabu Matswapati dari negara Wirata. (http://sudarjanto.multiply.com/journal/item/11810/Citraksi_).

SI

BERBAGAI GAMBAR CITRAKSA

05.10 Edit This 0 Comments »
Saudara kembar Citraksa (Citraksa) sedang membawa Gada, diambil dari http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/4/41/Citraksi-kl.jpg/275px-Cit