JAYADRATA

08.00 Edit This 0 Comments »


Gambar Jayadrata diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Jayadrata

Jayadrata

Dalam wiracarita Mahabharata, Jayadrata (Sansekerta: जयद्रथ; Jayadratha) adalah seorang raja di Kerajaan Sindhu. Dia menikahiDursala, adik perempuan Korawa bersaudara. Jayadrata merupakan tokoh penting di balik pembunuhan Abimanyu. Ia menghadang para ksatria Pandawa saat mereka berusaha menyelamatkan Abimanyu. Atas kematian Abimanyu, Arjuna berusaha membunuh Jayadrata. Akhirnya pada Bharatayuddha hari keempat belas, Jayadrata gugur di tangan Arjuna.

Anugerah Siwa

Jayadrata menghina Dropadi, istri para Pandawa, karena berusaha menculik dan mengawininya. Setelah Arjuna memburu dan menangkapnya hidup-hidup, nyawanya diselamatkan oleh Yudistira, dan ia dijadikan budak. Kemudian Bima mencukur rambutnya sehingga Jayadrata botak. Karena dendam terhadap perlakuan tersebut, Jayadrata melakukan tapa ke hadapan Siwa. Ia memohon kekuatan untuk menaklukkan Pandawa, namun Siwa mengatakan bahwa itu hal yang mustahil – namun ia menganugerahkan Jayadrata agar mampu mengalahkan seluruh Pandawa bersaudara pada hari pertama – kecuali Arjuna. Maka, akhirnya Arjuna berhasil mengalahkan Jayadrata.

Perang di Kurukshetra

Raja Sindhu – Jayadrata – memihak Duryodana dalam perang di Kurukshetra. Pada hari ketiga belsa, Jayadrata menggunakan kekuatannya ketika menghentikan Pandawa di dekat formasi Cakrawyuha yang sulit ditembus, yang dimasuki oleh Abimanyu – putera Arjuna. Di dalam formasi tersebut, Abimanyu bertarung sendirian. Ia dikepung oleh para ksatria Korawa dan terdesak, sementara ksatria-ksatria Pandawa yang ingin menyelamatkan Abimanyu dihadang oleh Jayadrata. Saat terjebak dan kesusahan, Abimanyu dibunuh dengan curang.

Arjuna terkejut dan pingsan setelah mendengar kematian Abimanyu. Atas penjelasan para ksatria Pandawa, Abimanyu dikurung dalam formasi Cakrawyuha dan dibunuh dengan serangan serentak. Beberapa ksatria ingin membantu dan menyelamatkan Abimanyu, namun dihadang oleh Jayadrata. Mendengar hal itu, Arjuna bersumpah bahwa ia akan membakar dirinya sendiri pada akhir hari keempat belas apabila ia tidak berhasil membunuh Jayadrata.

Dendam Arjuna

Pada hari keempat belas, Arjuna berencana untuk membunuh Jayadrata. Namun ribuan ksatria dan prajurit dari pihak Korawa melindungi Jayadrata dan memisahkannya dengan Arjuna. Sampai hari menjelang sore, Arjuna belum berhasil menjangkau Jayadrata dan membunuhnya, dan apabila setelah malam tiba Arjuna belum berhasil membunuh Jayadrata maka ia akan membakar dirinya sendiri. Kresna yang melihat Arjuna dalam kesusahan mencoba membantunya dengan membuat gerhana matahari buatan. Saat suasana menjadi gelap, pihak yang bertarung merasa bahwa perang pada hari itu sudah berakhir karena malam sudah tiba. Pasukan Korawa yang melindungi Jayadrata pulang ke kemah mereka. Pada saat Jayadrata tak terlindungi, matahari muncul kembali dan ternyata hari belum malam. Pada kesempatan itu, Arjuna menyuruh Kresna agar menjangkau Jayadrata. Saat mendekat, ia melepaskan anak panahnya dan memutuskan leher Jayadrata.

Riwayat selanjutnya

Setelah perang berakhir, Arjuna bertarung dengan pasukan Sindhu ketika mereka menolak untuk mengakui Yudistira sebagai Maharaja dunia. Ketika Dursala, istri Jayadrata, keluar untuk melindungi puteranya, yaitu raja muda penerus tahta Sindhu, Arjuna menghentikan pertarungan.

Jayadrata dalam pewayangan Jawa

Antara kisah Jayadrata dalam kitab Mahabharata dan pewayangan Jawa memiliki beberapa perbedaan, namun tidak terlalu besar karena inti ceritanya sama. Perbedaan-perbedaan tersebut antara lain disebabkan oleh proses Jawanisasi, yaitu membuat kisah wiracarita dari India bagaikan terjadi di pulau Jawa.

Riwayat

Jayadrata adalah seorang ksatria yang sangat sakti dari pihak Korawa. Misteri menyelubungi asal usulnya. Kisahnya bermula ketika Wrekudara lahir, ari-ari yang membungkusnya dibuang. Pertapa tua, yaitu Begawan Sempani, secara kebetulan memungutnya, mendoakannya, dan mengubahnya menjadi seorang bocah lelaki, yang tumbuh dewasa dengan nama Jayadrata. Dari pandangan sekilas saja tampak jelas kemiripan kekerabatan dengan Wrekudara dan putra Wrekudara, Raden Gatotkaca. Ketika Jayadrata beranjak dewasa, ia dibujuk untuk datang ke Hastina oleh Sengkuni yang cerdik, yang memandang perlu seorang sekutu yang seperti itu untuk melawan Pandawa. Di sana Jayadrata diberi suatu kedudukan yang tinggi dan dikawinkan dengan saudara perempuan Duryudana, Dewi Dursilawati. Hal ini mengikatnya dengan kuat pada pihak kiri. Dalam Perang Bharatayuddha, dialah yang membunuh satria muda Abimanyu, dan setelah itu pada gilirannya ia dibunuh oleh Arjuna yang kehilangan anaknya. Karakter Jayadrata adalah jujur, setia, dan terus terang bagaikan Gatotkaca di antara Kurawa. Ia mahir mempergunakan panah dan sangat ahli bermain gada. Oleh Resi Sempani ia diberi pusaka gada bernama Kyai Glinggang.

Jayadrata nama sesungguhnya adalah Arya Tirtanata atau Bambang Sagara. Arya Tirtanata kemudian dinobatkan sebagai raja negara Sindu, dan bergelar Prabu Sinduraja. Karena ingin memperdalam pengetahuannya dalam bidang tata pemerintahan dan tata kenegaraan, Prabu Sinduraja pergi ke negara Hastina untuk berguru pada Prabu Pandu Dewanata. Untuk menjaga kehormatan dan harga diri, ia menukar namanya dengan nama patihnya, Jayadrata. Di negara Hastina Jayadrata bertemu dengan keluarga Kurawa, dan akhirnya diambil menantu oleh Prabu Drestarastra, dikawinkan dengan Dewi Dursilawati dan diangkat sebagai Adipati Banakeling. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra bernama Arya Wirata dan Arya Surata.

Jayadrata gugur di tangan Arjuna di medan perang Bharatayuddha sebagai senapati perang Kurawa. Kepalanya terpangkas lepas dari badannya oleh panah sakti Pasopati. Jadi, walaupun sekuat apapun seorang satria itu, namun jika ia berada di pihak yang salah maka hancurlah kesaktian yang ia miliki itu.

(Artikel ini diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Jayadrata).

DURMUKA

07.20 Edit This 0 Comments »
Gambar Durmuka diambildari http://easycaptures.com/7846204595

DURMUKA

Durmuka adalah salah satu dari seratus Kurawa.
Durmuka dan Drestaketi adalah dua dari sekian banyak Kurawa, yang tidak melibatkan secara langsung terhadap kancah perang Baratayudha. Selama Baratayudha mereka juga tetap menjalani hidup di gubug itu melewatkan hari-hari mereka seperti biasa.
Baru ketika Baratayudha usai, dan Pandawa mengumumkan agar seluruh Kurawa yang tersisa menyerahkan diri, Durmuka dan Drestaketi secara sukarela menyerahkan diri ke istana Hastinapura yang sudah dikuasai kembali oleh Pandawa.
Hidup beberapa hari sebagai tawanan di istana Hastinapura. Ketika kemudian Prabu Yudhistira, sulung Pandawa, memberi ampunan kepada mereka, dan mereka diperbolehkan kembali ke gubug mereka. Durmuka dan Drestaketi pun kembali ke gubugnya itu, dan kembali menjalani hidup keseharian mereka. Sampai akhir hayat, Durmuka dan Drestaketi hidup di desa itu, meninggal dan dimakamkan seperti layaknya rakyat biasa. Mereka berdua tak beristri.

(Artikel ini diambil dari http://ads.masbuchin.com/search/baratayudha)

DURSILAWATI

06.48 Edit This 0 Comments »




DEWI DURSILAWATI adalah satu-satunya wanita dari 100 (seratus) orang putra Prabu Drestarasta, raja negara Astina dengan permaisuri Dewi Gandari, putri Prabu Gandara dengan Dewi Gandini dari negara Gandaradesa.Diantara 100 orang, keluarga Kurawa yang dikenal dalam pedalangan adalah; Duryudana (raja Negara Astina), Bogadatta (raja negara Turilaya), Bomawikata, Citraksa, Citraksi, Carucitra, Citrayuda, Citraboma, Dursasana (Adipati Banjar Jumut), Durmuka, Durmagati, Durgempo, Gardapati (raja negara Bukasapta), Gardapura, Kartamarma (raja negara Banyutinalang), Kartadenta, Surtayu, Surtayuda, Wikataboma, dan Widandini (raja negara Purantara).Dewi Dursilawati sangat dimanja oleh orang tuanya dan saudara-saudaranya.Hidupnya serba mewah, keinginanya selalu terlaksana.Dewi Dursilawati jarang sekali keluar dari lingkungan istana.Wataknya bersahaja, menarik hati, gaya dan kata-katanya serba menarik.Dewi Dursilawati menikah dengan Arya Sinduraja/Arya Tirtanata atau lebih dikenal dengan nama Arya Jayadrata, raja negara Sindu.Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra bernama Arya Wiruta dan Arya Surata.Setelah berakhirnya perang Bharatayuda dengan tewasnya suaminya, Arya Jayadrata dan seluruh saudaranya dimedan perang Kurusetra, Dewi Dursilawati tinggal dinegara Sindu bersama putranya, Arya Surata yang bertahta menjadi raja negara Sindu menggantikan ayahnya.Sesekali ia datang kenegara Astina untuk membangun dan melanggengkan keakraban hubungan kekeluarga dengan keluarga Pandawa dan keturunannya.

DURSALA

09.07 Edit This 0 Comments »



Dursala

Dursala (atau Dushala atau Dussala) adalah nama seorang tokoh dalam wiracarita Mahabharata sebagai adik dari Duryodana, pemimpin para Korawa. Ia merupakan satu-satunya perempuan di antara anak-anak Dretarastra dan Gandari.

Dalam pewayangan Jawa, tokoh Dursala merupakan seorang laki-laki, yaitu anak dari Dursasana. Adapun nama adik perempuan Duryudana versi Jawa adalahDursilawati

Silsilah Versi Mahabharata

dalam naskah Mahabharata, Dursala merupakan anak perempuan pasangan Dretarastra dan Gandari. Ia memiliki seratus orang kakak laki-laki, yang kesemuanya terkenal dengan sebutan para Korawa. Selain itu, Dursala juga memiliki saudara yang lahir dari selir bernama Yuyutsu.

Dursala menikah dengan Jayadrata raja Kerajaan Sindhu dan Kerajaan Sauwira. Dari perkawinan itu lahir seorang putra bernama Suratha. Jayadrata sendiri tewas dalam perang Baratayuda di tangan Arjuna. Beberapa tahun setelah perang berakhir, cucu Suratha sempat bertarung dengan Arjuna ketika Arjuna menarik upeti di Kerajaan Sindhu dalam rangka upacara Aswamedha yang diselenggarakan oleh Yudistira.

Silsilah Dursilawati

Dalam versi pewayangan Jawa, adik perempuan para Korawa yang menikah dengan Jayadrata bernama Dursilawati. Ia memiliki tabiat buruk yaitu suka menggoda pria-pria tampan, antara lain Arjuna, sepupunya sendiri.

Semula Jayadrata datang ke Kerajaan Hastina untuk berguru ilmu pemerintahan kepada Pandu, ayah para Pandawa. Namun karena Pandu sudah meninggal, Sangkuniberusaha menarik Jayadrata untuk menjadi sekutu Korawa. Antara lain ia menggunakan kecantikan Dursilawati untuk memikat Jayadrata.

Jayadrata tertarik dan bersedia menikahi Dursilawati. Namun menjelang hari perkawinan, Dursilawati hilang diculik seekor gajah putih. Arjuna membantu Jayadrata menemukan Dursilawati dan membunuh gajah tersebut.

Perkawinan Jayadrata dan Dursilawati melahirkan dua orang putra bernama Kartiwindu dan Antisura. Kartiwindu sejak kecil diadopsi sebagai anak angkat Sangkuni. Dalam perang Baratayuda Kartiwindu melarikan diri ketika jumlah kekuatan pihak Korawa semakin menipis.

Sementara itu Antisura masih kecil ketika perang terjadi. ia mendapatkan amnesti dan diterima sebagai perwira Kerajaan Hastina pada masa pemerintahan Parikesit cucu Arjuna. Antisura terkenal sombong dan suka membanggakan diri. Akibatnya, hubungan pergaulannya dengan para perwira lainnya yang masih keturunan Pandawa kurang baik.

Kedua anak Dursilawati, yaitu Kartiwindu dan Antisura menjadi pengacau dalam pemerintahan Parikesit. Kartiwindu merusak ketentraman Hastina dari luar, sedangkan Antisura dari dalam istana.

Dursilawati sendiri meninggal dunia ketika perang Baratayuda terjadi karena nyawanya dicabut oleh Batara Kala sebagai tumbal untuk kemenangan pihak Korawa, khususnya Jayadrata. Sebagai bukti ialah keberhasilan Korawa pada hari ke-13 membunuh Abimanyu putra Arjuna.

Dursala Versi Jawa

Dalam pewayangan Jawa, tokoh Dursala adalah nama seorang laki-laki, yaitu anak dari Dursasana, Korawa nomor dua. Dengan kata lain, Dursala versi Jawa adalah keponakan Dursilawati.

Di antara anak-anak Korawa, Dursala adalah yang paling sakti. Ia memiliki Aji Pengabaran yang membuatnya mampu melumpuhkan kesaktian lawan. Dursala kemudian memimpin serangan untuk merebut Kerajaan Amarta dan membunuh para Pandawa. Dalam serangan itu, ia berhasil mengalahkan Gatutkaca putra Bimasena, Pandawa nomor dua.

Gatutkaca akhirnya berhasil mengalahkan Dursala setelah ia mendapatkan ilmu kesaktian baru bernama Aji Narantaka yang diperolehnya dari Arya Seta, pangeranKerajaan Wirata. Dalam perang tanding tersebut, Dursala akhirnya tewas di tangan Gatutkaca.

(Artikel ini diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Dursala).


DURSASANA

07.46 Edit This 0 Comments »

Adegan gambar ini diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Dursasana

Gambar Dursasana diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Dursasana

Dursasana

Dursasana atau Duhsasana (ejaan Sansekerta: Duśśāsana) adalah nama seorang tokoh antagonis penting dalamwiracarita Mahabharata. Ia merupakan adik nomor dua dari Duryudana, pemimpin para Kurawa, atau putra RajaDrestarasta dengan Dewi Gendari. Dursasana memiliki tubuh yang gagah, mulutnya lebar dan mempunyai sifat sombong, suka bertindak sewenang-wenang, menggoda wanita dan senang menghina orang lain.

Dalam pewayangan Jawa, Dursasana memiliki seorang istri bernama Dewi Saltani, dan seorang putra yang kesaktiannya melebihi dirinya, bernama Dursala.

Arti nama

Nama Duhsasana terdiri dari dua kata Sansekerta, yaitu duh dan śāsana. Secara harfiah, kata Dusśāsana memiliki arti "sulit untuk dikuasai" atau "sulit untuk diatasi".

Kelahiran

Dursasana lahir dari kandungan Gandari dalam keadaan tidak wajar. Saat itu Gandari iri kepada Kunti istri Panduyang telah melahirkan seorang putra bernama Yudistira. Gandari pun memukul-mukul kandungannya sehingga lahir segumpal daging berwarna keabu-abuan. Daging tersebut kemudian membelah diri sampai berjumlah seratus potongan.

Resi Wyasa datang menolong Gandari. Ia menanam daging-daging tersebut pada sebuah pot di dalam tanah. Setahun kemudian salah satu potongan daging berubah menjadi bayi yang diberi nama Duryodana, bersamaan waktunya dengan kelahiran putra kedua Kunti yang bernama Bimasena.

Beberapa waktu kemudian, ada satu lagi potongan daging putra Gandari yang berubah menjadi bayi, yang diberi nama Dursasana. Kemunculan Dursasana ini bersamaan dengan kelahiran Arjuna, putra ketiga Kunti.

Daging-daging sisanya sebanyak 98 potongan kemudian menyusul berubah menjadi bayi normal, bersamaan dengan kelahiran Nakula dan Sahadewa, putra kembar Madri, istri kedua Pandu.

Sebanyak 100 orang putra Dretarsatra dan Gandari kemudian dikenal dengan sebutan Korawa, sedangkan kelima putra Pandu disebut Pandawa. Meskipun bersaudara sepupu, namun Korawa selalu memusuhi Pandawa akibat hasutan paman mereka, yaitu Sangkuni, saudara Gandari.

Pelecehan Dropadi

Dalam permainan dadu, Dursasana mencoba menelanjangi Dropadi. Namun kain yang dipakai putri itu hanya terulur-ulur terus tiada habis-habisnya berkat bantuan gaib dari Sri Kresna

Kecemburuan para Korawa terhadap Pandawa semakin memuncak ketika kelima sepupu mereka itu berhasil membangun sebuah istana yang sangat indah bernama Indraprastha. Berkat bantuan licik Sangkuni, para Korawa berhasil merebut Indraprastha melalui sebuah permainan dadu.

Saat Yudistira dan keempat adiknya kehilangan kemerdekaan, ia masih tetap dipaksa oleh Duryodana untuk mempertaruhkan Dropadi. Dropadi adalah putri Kerajaan Pancala yang dinikahi para Pandawa secara bersama-sama. Setelah Dropadi jatuh ke tangan Korawa, Duryodana pun menyuruh Dursasana untuk menyeret wanita itu dari kamarnya.

Dengan cara kasar, Dursasana menjambak Dropadi dan menyeretnya dari kamar menuju tempat perjudian. Duryodana kemudian memerintahkan agar Dursasana menelanjangi Dropadi di depan umum. Tidak seorang pun yang kuasa menolong Dropadi. Dalam keadaan tertekan, Dropadi berdoa memohon bantuan Tuhan. Sri Kresna pun mengirimkan bantuan gaib sehingga pakaian yang dikenakan Dropadi seolah-olah tidak ada habisnya, meskipun terus-menerus ditarik Dursasana. Akhirnya Dursasana sendiri yang jatuh kelelahan.

Setelah peristiwa itu, Dropadi bersumpah tidak akan menyanggul rambutnya sebelum keramas darah Dursasana, begitu jugaBimasena (Pandawa nomor dua) bersumpah akan memotong lengan Dursasana dan meminum darahnya.

Kematian

Puncak permusuhan Pandawa dan Korawa meletus dalam sebuah pertempuran besar di Kurukshetra. Pada hari keenam belas, Dursasana bertarung melawan Bimasena. Dalam perkelahian tersebut Bimasena berhasil menarik lengan Dursasana sampai putus, kemudian merobek dada dan meminum darah sepupunya itu.

Bimasena kemudian menyisakan segenggam darah Dursasana untuk diusapkannya ke rambut Dropadi yang menunggu di tenda. Dendam istri Pandawa itu pun terbayar sudah.

Versi pewayangan Jawa

Dalam pewayangan Jawa, Dursasana memiliki tempat tinggal bernama Kasatriyan Banjarjunut. Istrinya bernama Dewi Saltani, yang darinya lahir seorang putra sakti bernama Dursala. Namun Dursala tewas sebelum meletusnya perang Baratayuda di tangan Gatotkaca putra Wrekudara.

Kisah kematian Dursasana dalam pewayangan lebih didramatisir lagi. Dikisahkan setelah kematian putra Duryudana yang bernama Lesmana Mandrakumara pada hari ketiga belas, Dursasana diangkat sebagai putra mahkota yang baru. Namun Duryudana melarangnya ikut perang dan menyuruhnya pulang ke Hastina dengan alasan menjaga Dewi Banowati, istrinya.

Banowati merasa risih atas kedatangan Dursasana. Ia menghina adik iparnya itu sebagai seorang pengecut yang takut mati. Dursasana ganti membongkar perselingkuhan Banowati dengan Arjuna. Ia menuduh Banowati sebagai mata-mata Pandawa. Buktinya, Banowati lebih menyesali kematian Abimanyu putra Arjuna daripada kematian Lesmana, anaknya sendiri.

Karena terus-menerus dihina sebagai pengecut, Dursasana pun kembali ke medan perang dan bertempur melawan Bima. Dalam perkelahian itu ia kalah dan melarikan diri bersembunyi di dalam sungai Cingcing Gumuling. Bima hendak turut mencebur namun dicegah Kresna (penasihat Pandawa) karena sungai itu telah diberi mantra olehResi Drona. Jika Pandawa mencebur ke dalamnya pasti akan bernasib sial.

Dursasana kembali ke daratan dan mengejek nama Pandu. Bima marah dan mengejarnya lagi. Namun Dursasana kembali mencebur ke dalam sungai. Hal ini berlangsung selama berkali-kali. Sampai akhirnya muncul arwah dua orang tukang perahu bernama Tarka dan Sarka yang dulu dibunuh Dursasana sebagai tumbal kemenanganKurawa.

Ketika Dursasana kembali ke daratan untuk mengejek nama Pandu sekali lagi, Tarka dan Sarka mulai beraksi. Ketika Dursasana hendak mencebur karena dikejar Bima, mereka pun menjegal kakinya sehingga Kurawa nomor dua itu gagal mencapai sungai. Bima pun segera menjambak rambut Dursasana dan menyeretnya menjauhi sungai Cingcing Gumuling.

Melihat adiknya tersiksa, Duryudana muncul memohon agar Bima mengampuni Dursasana. Duryudana bahkan menjanjikan perang berakhir hari itu juga dengan Pandawa sebagai pemenang. Ia juga merelakan Kerajaan Hastina dan Indraprastha asalkan Dursasana dibebaskan.

Bima mulai bimbang. Namun Kresna mendesaknya supaya Dursasana jangan diampuni. Menurutnya, Pandawa sudah jelas menang tanpa harus membebaskan Dursasana. Kresna mengingatkan kembali kekejaman para Kerawa membuat emosi Bima bangkit kembali. Bima pun menendang Duryudana hingga terpental jauh. Kemudian ia memutus kedua lengan Dursasana secara paksa.

Dalam keadaan buntung, tubuh Dursasana dirobek-robek dan diminum darahnya sampai habis oleh Bima. Belum puas juga, Bima menghancurkan mayat Dursasana dalam potongan-potongan kecil.

Pada saat itulah Dewi Drupadi muncul diantarkan Yudistira untuk menagih janji darah Dursasana. Bima pun memeras kumis dan janggutnya yang masih basah oleh darah musuhnya itu dan diusapkannya ke rambut Dropadi.

Setelah Korawa tertumpas habis, Kerajaan Hastina pun jatuh ke tangan para Pandawa. Bima menempati istana Dursasana, yaitu Banjarjunut sebagai tempat tinggalnya.

(Artikel ini diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Dursasana).