TRAGEDI TRAGIS RADEN SUKRASANA

04.12 Edit This 0 Comments »

Tragedi Tragis Raden Sukasrana

Raden Sukasrana putera dari Resi Suwandagni dan merupakan adik dari Raden Sumantri.

Berujud raksasa bajang (kerdil). tetapi mempunyai kesaktian yang luar biasa.dan sangat sayang kepada kakaknya. Begitu juga Raden Sumantri juga sangat sayang kepada adiknya meskipun buruk rupa. Jasa sang Sukasrana kepada kakaknya sangat besar disaat Raden Sumantri disuruh Prabu Harjuna Sasrabahu raja Keraton Mahespati untuk memindahkan Taman Sriwedari yang ada di kahyangan Uttarasagara tempat bertatahnya sang dewa Wisnu. Atas bantuan raden Sukasrana inilah taman Sriwedari bisa dipindah. dari kahyangan ke keraton Mahespati. Apa balas budinya dari raden Sumantri? kakaknya tega membunuh adiknya sendiri meskipun tidak disengaja.apa penyebab kejadian itu ?

Setelah taman Sriwedari berada di keratin Mahespati,permaisuri raja Mahespati ketakutan melihat sosok raksasa kecil yang tidak lain adalah raden Sukasrana….sang dewi kemudian melapor pada Parabu Harjuna Sasrabahu untuk membunuh sosok yang menakutkan itu yang berada di taman.sang raja kemudian menyuruh raden Sumantri untuk mencari dan membunuhnya. Sumantri tahu bahwa itu ulah dari adiknya, maka ditemuinya dan ditanya. Raden Sukasrana raksasa yang jujur .dan mengakui semua perbuatannya. Pada awalnya raden Sumantri tak tega dan hanya menyuruh pulang, tetapi sang Sukasrana tetap ikut kepada kakaknya yang dicintainya. Raden Sumantri mengambil anak panah yang intinya hanya untuk menakuti sang adik, karena tangisan dari sang adik membuat tangan Sumantri yang sedang memegang busur dan anak panah gemetaran dan tanpa disengaja anak panah melesat dan menancap ke dada Raden Sukasrana. Matilah sang Sukasrana.dan arwah sang adik akan menuntut balas nanti disaat keraton Mahespati diserang pasukan dari Keraton Alengka dibawah pimpinan Dasamuka/Rahwana.dan Raden Sumantri mati ditangan Prabu Dasamuka.

Artikel ini diambil dari http:// maharaniart.blogspot.com

PRABU SALYA

05.43 Edit This 0 Comments »
Prabu Salya diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Salya

SALYA

Asal-Usul

Menurut versi Mahabharata, raja Kerajaan Madra semula bernama Artayana, yang memiliki dua orang anak bernama Salya dan Madri. Setelah Artayana meninggal, Salya menggantikannya sebagai raja, sedangkan Madri menjadi istri kedua Pandu raja Hastinapura, yang kemudian melahirkan Nakula dan Sahadewa. Merujuk pada nama ayahnya, Salya dalam Mahabharata sering pula disebut Artayani.

Secara garis besar, versi pewayangan Jawa tidak berbeda dengan versi Mahabharata. Dalam versi ini raja Kerajaan Mandaraka semula bernama Mandrapati yang memiliki dua orang anak bernama Narasoma dan Madrim. Narasoma kemudian menjadi raja bergelar Salya, sedangkan Madrim menjadi istri kedua Pandu.

Silsilah Keluarga

Versi Mahabharata menyebut Salya memiliki dua orang putra bernama Rukmarata dan Rukmanggada. Namun siapa nama istrinya atau ibu dari kedua anak tersebut tidak diketahui dengan jelas.

Versi Bharatayuddha, yaitu sebuah naskah berbahasa Jawa Kuno menyebut nama istri Salya adalah Satyawati. Dari perkawinan itu kemudian lahir Rukmarata.

Versi pewayangan Jawa menyebut perkawinan Salya dan Setyawati melahirkan lima orang anak. Yang pertama adalah Erawati istri Baladewa. Yang kedua adalah Surtikanti istri Karna. Yang ketiga adalah Banowati istri Duryudana. Yang keempat adalah Burisrawa, sedangkan yang terakhir adalah Rukmarata.

Tokoh Burisrawa dalam Mahabharata dan Bharatayuddha merupakan putra Somadatta. Dalam pewayangan, Somadatta dieja dengan sebutan Somadenta, dan dianggap sama dengan Salya. Maka, Burisrawa versi Jawa pun dianggap sebagai putra Salya.

Kisah Perkawinan

Kisah perkawinan Salya dan Setyawati terdapat dalam versi pewayangan Jawa. Salya yang sewaktu muda bernama Narasoma pergi berkelana karena menolak dijodohkan oleh ayahnya. Di tengah jalan ia bertemu seorang brahmana raksasa bernama Resi Bagaspati yang ingin menjadikannya sebagai menantu.

Bagaspati mengaku memiliki putri cantik bernama Pujawati yang mimpi bertemu Narasoma dan jatuh hati kepadanya. Narasoma menolak lamaran Bagaspati karena yakin Pujawati pasti juga berparas raksasa. Keduanya pun bertarung. Narasoma kalah dan dibawa Bagaspati ke tempat tinggalnya di Pertapaan Argabelah.

Sesampainya di Argabelah, Narasoma terkejut mengetahui bahwa Pujawati ternyata benar-benar cantik. Ia pun berubah pikiran dan bersedia menikahi putri Bagaspati tersebut.

Ilmu Candabirawa

Narasoma yang sombong merasa jijik memiliki mertua seorang raksasa. Pujawati yang lugu menyampaikan hal itu kepada Bagaspati. Bagaspati menyuruh putrinya itu memilih antara ayah atau suami. Ternyata Pujawati memilih suami. Bagaspati bangga mendengarnya dan mengganti nama Pujawati menjadi Setyawati.

Setyawati menyampaikan kepada Narasoma bahwa ayahnya siap mati daripada mengganggu keharmonisan rumah tangga mereka. Bagaspati rela dibunuh asalkan Setyawati jangan sampai dimadu. Narasoma bersedia. Ia kemudian menusuk Bagaspati namun tidak mempan. Bagaspati sadar kalau memiliki ilmu kesaktian bernama Candabirawa. Ia pun mewariskan ilmu tersebut kepada Narasoma terlebih dulu.

Narasoma kemudian menusuk siku Bagaspati, yaitu tempat titik kelemahannya. Kali ini Bagaspati tewas seketika. Narasoma kemudian membawa Setyawati pulang ke Mandaraka.

Dikalahkan Pandu

Mandrapati menyambut kedatangan Narasoma dan Setyawati dengan gembira. Namun ia berubah menjadi sedih begitu mendengar kematian Bagaspati yang ternyata merupakan sahabat baiknya. Mandrapati pun marah dan mengusir Narasoma pergi dari istana. Madrim yang masih rindu segera menyusul kepergian kakaknya itu.

Narasoma dan Madrim tiba di Kerajaan Mandura di mana sedang diadakan sayembara untuk mendapatkan putri negeri tersebut yang bernama Kunti. Dengan mengerahkan Candabirawa, Salya berhasil mengalahkan semua pelamar dan memenangkan Kunti.

Pandu pangeran dari Hastina datang terlambat dan memutuskan untuk pulang. Narasoma mencegah dan menantangnya. Namun Pandu tidak mau melayani tantangan itu karena Narasoma sudah ditetapkan sebagai pemenang. Narasoma yang sombong terus memaksa, bahkan menyerahkan Kunti dan Madrim sekaligus jika Pandu mampu mengalahkan dirinya.

Pandu terpaksa melayani tantangan Narasoma. Narasoma pun mengerahkan ilmu Candabirawa. Dari jarinya muncul raksasa kerdil tapi ganas, yang jika dilukai jumlahnya justru bertambah banyak. Pandu sempat terdesak. Atas nasihat pembantunya yang bernama Semar, ia pun mengheningkan cipta menyerahkan diri kepada Tuhan. Anehnya, dengan cara tersebut Candabirawa justru lumpuh dengan sendirinya.

Narasoma menyerah kalah. Tujuannya ikut sayembara bukan karena menginginkan Kunti, namun hanya sekadar untuk mencoba keampuhan Candabirawa saja. Sesuai perjanjian, Kunti dan Madrim pun diserahkan kepada Pandu.

Sebagai Raja Mandaraka

Narasoma kemudian kembali ke Mandaraka dan dikejutkan oleh kematian ayahnya yang serba mendadak. Konon, Mandrapati sangat sedih atas kematian Bagaspati yang tewas dibunuh Narasoma. Ia merasa telah gagal menjadi ayah yang baik dan memutuskan untuk bunuh diri menyusul sahabatnya itu. Narasoma kemudian menggantikan kedudukan Mandrapati sebagai raja, bergelar Salya. Pemerintahannya didampingi Tuhayata sebagai patih.

Meskipun sudah menjadi raja, Salya tetap bersifat sombong. Ia langsung menerima lamaran Duryudana raja Hastina yang merupakan raja terkaya di dunia saat itu untuk menikahi Erawati, putri sulungnya. Namun, Erawati kemudian hilang diculik orang. Erawati berhasil diselamatkan oleh Baladewa yang saat itu menyamar sebagai pendeta muda.

Menurut perjanjian, seharusnya Erawati diserahkan kepada Baladewa. Namun hal itu ditunda-tunda karena Salya lebih suka memiliki menantu seorang raja. Baru setelah ia tahu kalau Baladewa ternyata raja Kerajaan Mandura, Erawati pun diserahkan kepadanya.

Salya kembali menerima lamaran Duryudana untuk Surtikanti. Namun putri keduanya itu diculik dan dinikahi Karna. Duryudana merelakannya karena Karna banyak berjasa kepadanya. Ia kemudian menikahi putri Salya yang lain, yaitu Banowati.

Tipu Muslihat Korawa

Mahabharata bagian kelima atau Udyogaparwa mengisahkan Salya membawa pasukan besar menuju Upaplawya untuk menyatakan dukungan terhadap Pandawa menjelang meletusnya perang besar di Kurukshetra atau Baratayuda. Di tengah jalan rombongannya singgah beristirahat dalam sebuah perkemahan lengkap dengan segala jenis hidangan.

Salya menikmati jamuan itu karena mengira semuanya berasal dari pihak Pandawa. Tiba-tiba para Korawa yang dipimpin Duryodana muncul dan mengaku sebagai pemilik perkemahan tersebut beserta isinya. Duryodana meminta Salya bergabung dengan pihak Korawa untuk membalas jasa. Sebagai seorang raja yang harus berlaku adil, Salya pun bersedia memenuhi permintaan itu.

Salya kemudian menemui para keponakannya, yaitu Pandawa Lima untuk memberi tahu bahwa dalam perang kelak, dirinya harus berada di pihak musuh. Para Pandawa terkejut dan sedih mendengarnya. Namun Salya menghibur dengan memberikan restu kemenangan untuk mereka.

Baratayuda Hari Pertama

Pada hari yang telah ditentukan, perang Baratayuda pun meletus. Mahabharata bagian keenam atau Bhismaparwa mengisahkan Salya bertempur di pihak Korawa dengan gagah berani. Pada hari pertama ia menewaskan Utara putra Wirata, salah satu sekutu utama Pandawa.

Saudara Utara yang bernama Sweta berusaha keras menyerang Salya. Salya terdesak namun berhasil diselamatkan oleh Kretawarma. Rukmarata putra Salya mencoba melindungi ayahnya. Namun ia segera tumbang tak sadarkan diri terkena senjata Sweta. Sementara itu menurut versi Kakawin Bharatayuddha, Rukmarata tidak sekadar pingsan tetapi tewas di tangan Sweta.

Menjadi Kusir Karna

Mahabharata bagian kedelapan atau Karnaparwa mengisahkan Karna diangkat sebagai panglima pasukan Korawa. Musuh besar Karna adalah Arjuna yang mengendarai kereta dengan Kresna sebagai kusirnya. Untuk mengimbangi, Karna meminta Salya bertindak sebagai kusir keretanya.

Salya memenuhi permintaan Karna namun diam-diam ia juga membantu Arjuna. Ketika Karna membidik leher Arjuna dengan panah pusakanya, Salya memberi isyarat kepada Kresna supaya menggerakkan kereta. Akibatnya, panah Karna pun meleset dari sasaran utamanya.

Kisah Kematian

Setelah Karna tewas di tangan Arjuna pada hari ke-17, Salya pun diangkat sebagai panglima baru pihak Korawa. Kisah kematiannya terdapat dalam Mahabharata bagian kesembilan atau Salyaparwa. Ia dikisahkan mati di tangan pemimpin para Pandawa, yaitu Yudistira.

Kematian Salya diuraikan pula dalam Kakawin Bharatayuddha. Ketika ia diangkat sebagai panglima, Aswatama yang menjadi saksi kematian Karna mengajukan keberatan karena Salya telah berkhianat, yaitu diam-diam membantu Arjuna. Namun, Duryodana justru menuduh Aswatama bersikap lancang dan segera mengusirnya.

Salya maju perang menggunakan senjata Rudrarohastra. Muncul raksasa-raksasa kerdil namun sangat ganas yang jika dilukai justru bertambah banyak. Kresna mengutus Nakula supaya meminta dibunuh Salya saat itu juga. Nakula pun berangkat dan akhirnya tiba di hadapan Salya. Tentu saja Salya tidak tega membunuh keponakannya tersebut. Ia sadar kalau itu semua hanyalah siasat Kresna. Salya pun dengan jujur mengatakan, Rudrarohastra hanya bisa ditaklukkan dengan jiwa yang suci.

Kresna pun meminta Yudistira yang terkenal berhati suci untuk maju menghadapi Salya. Rudrarohastra berhasil dilumpuhkannya. Ia kemudian melepaskan pusaka Kalimahosaddha ke arah Salya. Pusaka berupa kitab itu kemudian berubah menjadi tombak yang melesat menembus dada Salya.

Dalam versi pewayangan Jawa, Rudrarohastra disebut dengan nama Candabirawa. Ilmu ini bisa dilumpuhkan oleh Yudistira dengan cara mengheningkan cipta. Bahkan, sejak itu Candabirawa justru berbalik mengabdi kepada Yudistira, yang merupakan reinkarnasi dari Resi Bagaspati, pemilik sebenarnya.

Yudistira kemudian melepaskan pusaka Jamus Kalimasada yang berhasil menewaskan Salya.

Baik versi Bharatayuddha ataupun versi pewayangan Jawa mengisahkan setelah Salya tewas, istrinya yaitu Setyawati datang menyusul ke medan pertempuran untuk melakukan bela pati. Setyawati dan pembantunya yang bernama Sugandika kemudian bunuh diri menggunakan keris. (Artikel dan gambar ini diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Salya).



ULASAN UNIK TENTANG PARIKESIT MENJEMPUT MIMPI

06.34 Edit This 0 Comments »
Gambar Prabu Parikesit versi Solo, diambil dari http://www.ki-demang.com

Ulasan Unik Tentang Parikesit Menjemput Mimpi
Alkisah dalam sebuah cerita pasca Bharatayudha berakhir, Aswatama yang pengecut dan karena itu juga menjadi kejam, memasuki tenda dimana kubu Pandawa sedang lelap. Ia menikam orang-orang yang sedang tidur. Drestajumena, Srikandi dan Pancawala tidak bisa melihat matahari esok paginya. Sementara Utari terbangun dan menyelamatkan diri beserta bayi dalam kandungannya. Sang bayi ini lah yang dikenal dengan nama Parikesit nantinya, pewaris tahta Pandawa pengganti Pancawala yang mati. Tidak tanggung-tanggung, 2 kerajaan sekaligus hasil kemenangan Bharatayudha akan dipegang olehnya, Hastina dan Indraprastha.
Parikesit sebenarnya cucu dari Arjuna, bapaknya adalah Abimanyu, dengan asuhan kesaktian mahaguru Baladewa. Sebagai raja ala Pandawa yang adil dan budiman, segala kegelisahannya tentang rakyatnya selalu menjadi gundah hatinya. Goenawan Muhammad dalam Asmaradana menuliskan sebuah cerita renungan Parikesit terhadap rakyat-rakyatnya,
Jauh di bawah terpacak rakyatku menunggu. Mereka yang menyelamatkan dan juga menyiksa diriku. Mereka yang berdoa, sementara aku tiada berdoa. mereka yang punya angin-angin sendiri, hujan-hujan sendiri, dan duka cita yang sendiri. Mereka yang tahu kita tak bisa berbagi. Tapi siksa ini adalah siksa mereka, siksa mereka yang kuwakili di atas kelemahan tangan-tanganku
Mungkin itulah kenapa gelar Raja atau Sultan dalam berbagai kehidupan feodal zaman dahulu dianggap sangat tinggi, selain harus menjaga kestabilan, keamanan dan kenyamanan wilayah kekuasaannya, dia juga selalu dalam kondisi menanggung setiap derita rakyatnya.
Tapi tidak dipungkiri juga jika jabatan tersebut lahir karena warisan struktur sosial zaman dahulu, yang percaya Raja atau Sultan adalah perpanjangan tangan adikodrati penguasa Alam Semesta, seperti kata Arief Budiman dalam Teori Negara-nya.
Saya tidak pernah paham arti dari pemerintahan feodalisme seutuhnya. Karena sekian tahun hidup di Indonesia yang mengaku Presidensil, walau presidennya sendiri tidak bebas dari campur tangan legislatif aka partai politik. Tetapi selama berada di kota Yogya ini, saya berkesempatan menangkap sebuah kehidupan ala feodalisme dalam tatanan yang bisa saya terima dengan akal sehat dan nurani saya.
Tersebutlah seorang sultan di Yogyakarta ini. Dia bukan sembarang sultan dengan berbagai gelar keturunan membawa adikodrati leluhur-leluhurnya. Keberuntungan saya bertemu beliau langsung sebelum dengar gegap gempita tenar namanya seperti cerita gagahnya Sultan lain di Yogya ini. Dia cuma seorang sultan dengan “S” kecil buat saya, karena memang tidak ada rona kapital “S” dalam sudut pandang kacamatanya. Sebuah acara silaturahmi pertama saya dengan komunitas Yogya, justru langsung dihadiri sang sultan rendah hati ini.
Saat silaturahmi itu, penampilannya sama sekali membunuh kepecayaan saya tentang arti feodalisme selama ini. Selama ini saya melihat Sultan-Sultan di komunitas lain, selalu berwibawa, selalu menjaga bicara, selalu berusaha terlihat berada pada posisi di atas bawahannya. Tetapi sultan satu ini hadir di situ hanya bermodal baju kaos yang terlihat cukup bau, dengan celana gombrong berwarna kuning ngejreng. Biasanya segala sesuatu atribut di kepala seorang Sultan diletakkan proporsional nan wibawa. Lha ini ndak sama sekali. Topi jelek yang dipakai sultan satu ini cuma sekedar hinggap seenak nya saja, entah miring kiri atau kanan, tergantung seenaknya dia berpose kapan sempat di depan kamera.
Seorang punggawa memperkenalkannya (bukan dia yang memperkenalkan dirinya) sebagai sultan-nya komunitas Bloger kota Yogyakarta. Zam namanya.
Tidak ada yang istimewa sebenarnya tentang lelaki ini. Saya cuma merasakan kedekatan yang juga tidak bisa dibilang dekat. Dikata saya jauh, juga tidak. Tetapi melihat segala atensi-nya dan perjuangannya dalam mengelola sebuah negara kecil yang berisi bloger-bloger dengan berbagai kepala, idealisme dan ide cerita, justru membuat saya percaya beliau adalah orang yang paham akan kekuasaan sultan ala Parikesit. Dia menghormati orang tua, tetapi dia juga tidak melupakan kodratnya sebagai anak muda dengan muka tua, seperti candi-candi tua yang selalu berusaha dikenalkannya dalam blog dengan bahasa-bahasa berjiwa muda.
Zam sadar kalau bersikap sopan adalah mutlak, tetapi dia juga tahu kapan harus menjadi gila. Perpaduan yang unik bagi saya, tidak heran komunitas Cahandong yang dipimpinnya ini bisa tetap survive walau laju Andong dan Kuda semakin liar dan kencang ke depannya. Soal kuda dan andong yang semakin kencang jalannya ini, saya pernah mengungkapkan kepada beliau. Dan jawabnya sederhana “Kita harus siap mengikuti era keemasan ini, segala popularitas ini. Resiko yang harus dijawab Cahandong saat ini. Tetapi kita tidak bisa pungkiri, semua itu ada masanya. Pergunakan sebaik-baiknya masa yang gemilang ini”, kira-kira begitu sabdanya jika dibahasakan secara bijak. Karena bahasa aslinya sangat khas ala Zam yang penuh pisuhan, gaya ngeselin dan dagelan kere.
Mimpi adalah kejaran. Setiap kesempatan adalah pilihan yang bisa diambil atau tidak. Dan seorang sultan juga manusia biasa, demikian Zam menyadari takdir adikodrati versi dirinya. Tuntutan meraih kesempatan yang akhirnya membawanya harus melanglang buana tapabrata ngelmu di negeri tetangga. Tentunya saya yakin ngelmu untuk menjadi pribadi lebih baik, tidak suka misuh-misuh sembarangan lagi, rajin mandi dan belajar mengelola duit jutaan di rekeningnya nanti.
Lalu kenapa dia menjadi penting di Warung Kapucino saya? Karena saya cuma merasa dekat dengannya, saya senang berjalan-jalan ke berbagai candi dan heritage bersamanya. Dia semacam teman diskusi soal sejarah yang hebat bagi saya. Jelas saya kehilangan, seperti menemukan seorang teman baru yang ngesoul, tetapi keburu berpisah. Tetapi begitulah hidup bukan? Seperti yang selalu saya alami dengan sahabat-sahabat saya lainnya, kita tidak pernah tahu kapan mimpi malah menjemput kita.
Saya jadi teringat frame terakhir cerita Parikesit. Dia memang dikutuk mati dipatuk ular Taksaka karena sumpah anak pendeta Samiti. Dalam penungguan di ujung menara kekuasaan, dia menyadari belum sempat mengerti arti kekuasaan Raja atau Sultan sesungguhnya. Sayangnya dia hanya terdiam dalam renungan berujung kematian, kesepian dalam kursi kekuasaan tanpa pencapaian hidupnya sendiri,
Bukan kegelisahan dahsyat yang hendakkan semua itu. Bukan siksa menunggu yang menyuruhku. Tapi kurindukan kemenangan-kemenangan, kemenangan yang mengalahkan kecut hatiku. Karena memang kutakutkan selamat tinggal yang kekal. Seperti bila dari tingkap ini kuhembuskan nafasku dan tak kembali tanpa burung-burung, tanpa redup sore di pohon-pohon tanpa musim..
(Pariksit – dalam Goenawan Muhammad, Asmaradana, jakarta: Grasindo, 1992, hal 18-21)
Artikel ini diambil dari http://www.kapucino.org/2008/04/28/parikesit-menjemput-mimpi/

ULASAN LAIN TENTANG PARIKESIT

05.56 Edit This 0 Comments »
Gambar Parikesit ini diambil dari http://wayangku.files.wordpress.com/2008/06/raden-parikesit.jpg


RADEN PARIKESIT

Oktober 28, 2008 pada 8:02 pm (Tokoh wayang)
Raden Parikesit adalah putera Raden Angkawijaya dengan Dewi Utari. Parikesit dilahirkan setelah perang Baratayudha. Sangat disayangi oleh kelima Pandawa. Selagi ia masih bayi senantiasa dicari oleh Aswatarna, seorang Hastinapura, akan dibunuh karena ia’ yang kemudian hari akan menguasai negeri Hastinapura. Tetapi dengan tak sengaja, Parikesit menendang panah yang ditaruh buat penjaganya dan mengenai Aswatama hingga sampai pada ajalnya. Kemudian, Parikesit bertahta sebagai raja di Hastinapura, bernama Prabu Kresnadipayana, seperti nama buyut, Prabu Kresnadipayana (Abyasa). Tokoh Parikesit terhitung wayang penutup dalam wayang Purwa. Setelah itu disambung zaman Madya, juga bernama wayang Madya, dan Parikesit permulaan ceritanya. Mulai wayang Parikesit sebenarnya, masuk bagian wayang Madya, karena untuk wayang Purwa mewayangkan Parikesit sudah terhitung penghabisan cerita wayang Purwa, hanya sedikit sekali memainkannya.

BENTUK WAYANG

Parikesit bermata jaitan, hidung mancung. Berjamang dengan garuda membelakang besar, bersunting. sekar kluwih, rambut terurai udalan. Berkalung putran bulan sabit. Bergelang, berpontoh dan berkeroncong. Kain katongan.

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.

Artikel ini diambil dari http://wayangku.wordpress.com/2008/10/28/raden-parikesit/..

PARIKESIT

15.04 Edit This 0 Comments »

Raja parikesit mengalungkan bangkai ular di leher Bagawan Samiti, gambar ini diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Parikesit

Gambar Parikesit diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Parikesit

Parikesit

Parikesit (Sanskerta: परीक्षित, ;parikṣita; parikṣit) atau Pariksita adalah seorang tokoh dari wiracarita Mahabharata. Ia adalah raja Kerajaan Kuru dan cucu Arjuna. Ayahnya adalah Abimanyu sedangkan putranya adalah Janamejaya.

Dalam kitab Adiparwa, akhir riwayatnya diceritakan bahwa Prabu Parikesit meninggal karena digigit Naga Taksaka yang bersembunyi di dalam buah jambu, sesuai dengan kutukan Brahmana Srenggi yang merasa sakit hati karena Prabu Parikesit telah mengkalungkan bangkai ular hitam di leher ayahnya, Bagawan Samiti.

Parikesit tewas digigit oleh Naga Taksaka, setelah beliau diramalkan akan dibunuh oleh seekor ular. Maka beliaupun menyuruh untuk mengadakan upacara sarpayadnya untuk mengusir semua ular. Tetapi karena sudah takdirnya, beliau pun digigit sampai wafat.

Peristiwa sebelum kelahiran

Saat Maharaja Parikesit masih berada dalam kandungan, ayahnya yang bernama Abimanyu, turut serta bersama Arjuna dalam sebuah pertempuran besar di daratan Kurukshetra. Dalam pertempuran tersebut, Abimanyu gugur dalam serangan musuh yang dilakukan secara curang. Abimanyu meninggalkan ibu Parikesit yang bernama Utara karena gugur dalam perang.

Pada pertempuran di akhir hari kedelapan belas, Aswatama bertarung dengan Arjuna. Aswatama dan Arjuna sama-sama sakti dan sama-sama mengeluarkan senjata Brahmāstra. Karena dicegah oleh Resi Byasa, Aswatama dianjurkan untuk mengarahkan senjata tersebut kepada objek lain. Maka Aswatama memilih agar senjata tersebut diarahkan ke kandungan Utara. Senjata tersebut pun membunuh Parikesit yang maish berada dalam kandungan. Atas pertolongan dari Kresna, Parikesit dihidupkan kembali. Aswatama kemudian dikutuk agar mengembara di dunia selamanya.

Ramalan kehidupan

Resi Dhomya memprediksikan kepada Yudistira setelah Parikesit lahir bahwa ia akan menjadi pemuja setia Dewa Wisnu, dan semenjak ia diselamatkan oleh Bhatara Kresna, ia akan dikenal sebagai Vishnurata (Orang yang selalu dilindungi oleh Sang Dewa).

Resi Dhomya memprediksikan bahwa Parikesit akan selamanya mencurahkan kebajikan, ajaran agama dan kebenaran, dan akan menjadi pemimpin yang bijaksana, tepatnya seperti Ikswaku dan Rama dari Ayodhya. Ia akan menjadi ksatria panutan seperti Arjuna, yaitu kakeknya sendiri, dan akan membawa kemahsyuran bagi keluarganya.

Raja Hastinapura

Saat dimulainya zaman Kali Yuga, yaitu zaman kegelapan, dan mangkatnya Kresna Awatara dari dunia fana, lima Pandawa bersaudara pensiun dari pemerintahan. Parikesit sudah layak diangkat menjadi raja, dengan Krepa sebagai penasihatnya. Ia menyelenggarakan Aswameddha Yajña tiga kali di bawah bimibingan Krepa.

Kutukan Sang Srenggi

Pada suatu hari, Raja Parikesit pergi berburu ke tengah hutan. Ia kepayahan menangkap seekor buruan, lalu berhenti untuk beristirahat. Akhirnya ia sampai di sebuah tempat pertapaan. Di pertapaan tersebut, tinggalah Bagawan Samiti. Ia sedang duduk bertapa dan membisu. Ketika Sang Raja bertanya kemana buruannya pergi, Bagawan Samiti hanya diam membisu karena pantang berkata-kata saat sedang bertapa. Karena pertanyaannya tidak dijawab, Raja Parikesit marah dan mengambil bangkai ular dengan anak panahnya, lalu mengalungkannya ke leher Bagawan Samiti. Kemudian Sang Kresa menceritakan kejadian tersebut kepada putera Bagawan Samiti yang bernama Sang Srenggi yang bersifat mudah marah.

Saat Sang Srenggi pulang, ia melihat bangkai ular melilit leher ayahnya. Kemudian Sang Srenggi mengucapkan kutukan bahwa Raja Parikesit akan mati digigit ular setelah tujuh hari sejak kutukan tersebut diucapkan. Bagawan Samiti kecewa terhadap perbuatan puteranya tersebut, yang mengutuk raja yang telah memberikan mereka tempat berlindung. Akhirnya Bagawan Samiti berjanji akan mengakhiri kutukan tersebut. ia mengutus muridnya untuk memberitahu Sang Raja, namun Sang Raja merasa malu untuk mengakhiri kutukan tersebut dan memilih untuk berlindung.

Kemudian Naga Taksaka pergi ke Hastinapura untuk melaksanakan perintah Sang Srenggi untuk menggigit Sang Raja. Penjagaan di Hastinapura sangat ketat. Sang Raja berada dalam menara tinggi dan dikelilingi oleh prajurit, brahmana, dan ahli bisa. Untuk dapat membunuh Sang Raja, Naga Taksaka menyamar menjadi ulat dalam buah jambu. Kemudian jambu tersebut diduguhkan kepada Sang Raja. Kutukan tersebut menjadi kenyataan. Raja Parikesit wafat setelah digigit Naga Taksaka yang menyamar menjadi ulat dalam buah jambu.

Keturunan Raja Parikesit

Parikesit menikahi Madrawati, dan memiliki seorang putera bernama Janamejaya. Janamejaya diangkat menjadi raja pada usia yang masih muda. Janamejaya menikahi Wapushtama, dan memiliki dua putera bernama Satanika dan Sankukarna. Satanika diangkat sebagai raja menggantikan ayahnya dan menikahi puteri dari Kerajaan Wideha, kemudian memiliki seorang putra bernama Aswamedhadatta.

Para keturunan Raja Parikesit tersebut merupakan raja legendaris yang memimpin Kerajaan Kuru, namun riwayatnya tidak muncul dalam Mahabharata.

Parikesit dalam pewayangan Jawa

Parikesit adalah putera Abimanyu alias Angkawijaya, kesatria Plangkawati dengan permaisuri Dewi Utari, puteri Prabu Matsyapati dengan Dewi Ni Yustinawati dari Kerajaan Wirata. Ia seorang anak yatim, karena ketika ayahnya gugur di medan perang Bharatayuddha, ia masih dalam kandungan ibunya. Parikesit lahir di istana Hastinapura setelah keluarga Pandawa boyong dari Amarta ke Hastinapura.

Parikesit naik tahta negara Hastinapura menggantikan kakeknya Prabu Karimataya, nama gelar Prabu Yudistira setelah menjadi raja negara Hastinapura. Ia berwatak bijaksana, jujur dan adil.

Prabu Parikesit mempunyai 5 (lima) orang permasuri dan 8 (delapan) orang putera, yaitu:

  1. Dewi Puyangan, berputera Ramayana dan Pramasata
  2. Dewi Gentang, berputera Dewi Tamioyi
  3. Dewi Satapi alias Dewi Tapen, berputera Yudayana dan Dewi Pramasti
  4. Dewi Impun, berputera Dewi Niyedi
  5. Dewi Dangan, berputera Ramaprawa dan Basanta.

Artikel ini diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Parikesit