RADEN KARTAMARMA 1

08.49 Edit This 0 Comments »

RADEN KARTAMARMA

Raden Kartamarma adalah putra Prabu Destarasta dan merupakan salah satu Kurawa yang terpilih bersemayam di Banyutinalang. Ia juga merupakan kesatria dari pihak Kurawa yang terkemuka.
Dalam perang Baratayudha Kartamarma selalu menang dalam perangnya, hingga habis perang Kartamarma masih memimpin sisa tentara Hastinapura dengan bergeriIya. Waktu Aswatama akan membunuh kerabat Pandawa, sehabis perang Baratayudha, Kartamarma mengikuti, tetapi setelah Aswatama tewas, Kartamarma melarikan diri, namun kemudian bertemu dengan Bima dan akhirnya tewas ditangan Bima.
Dalam riwayat diterangkan’, bahwa sukma Kartamarma menjelma berupa binatang kecil bernama brengkutis (kumbang keciI), yaitu serangga yang mengerumuni kotoran.

BENTUK WAYANG

Kartamarma bermata kedondongan putih, hidung dempak. Berjamang dengan garuda membelakang besar. Bersunting, bentuk sekar kluwih. Berpraba. Berkalung ulur-ulur, bergelang, berpontoh dan berkeroncong. Berkain kerajaan lengkap.

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.

(Artikel ini diambil dari http://wayangku.wordpress.com/2009/01/04/raden-kartamarma/).

CITRAKSI

08.52 Edit This 0 Comments »


Citraksi

Citraksi adalah seorang tokoh dari wiracarita Mahabharata. Ia merupakan salah satu Korawa. Dalam versi pewayangan Jawa, ia sering terlihat bersama-sama dengan dua saudaranya yang lain, yaitu Citraksa dan Durmagati. (http://id.wikipedia.org/wiki/Citraksi).CIC

ITRAKCITRAKSI adalah salah seorang dari 100 (seratus) anak Kurawa, putra Prabu Drestarasta, raja negara Astina dengan permaisuri Dewi Gandari, putri Prabu Gandara dengan Dewi Gandini dari negara Gandaradesa. Diantaranya saudara-saudaranya yang dikenal dalam pedalangan adalah ; Duryudana (raja negara Astina), Bogadatta (raja negara Turilaya), Bomawikata, Wikataboma, Citraksa, Citraboma, Citrayuda, Carucitra, Dursasana (Adipati Banjarjumut), Durmuka, Durmagati, Durgempo, Gardapati (raja negara Bukasapta), Gardapura, Kartamarma (raja negara Banyutinalang), Kartadenta, Surtayu, Surtayuda, Windandini (raja negara Purantara) dan Dewi Dursilawati.

Citraksi mempunyai sifat dan perwatakan ; cerdik, pandai, congkak dan keras hati. Sayang kalau bicara gagap (tersendat-sendat) membuat orang tidak sabar mendengarnya. Sebagai murid Resi Drona, ia juga mahir dalam olah keprajuritan, khususnya mempermainkan senjata gada dan trisula.

Ketika berlangsungnya perang Bharatayuda, Citraksi tampil memimpin pasukan balatentara Kurawa di bawah komando senapati perang, Prabu Salya raja negara Mandaraka. Citraksi bersama - sama dengan lima orang saudaranya yaitu; Adityaketu, Bimarata, Bimawega, Halayuda dan Jalasuma, tewas dalam peperangan melawan Arya Utara, senapati perang Pandawa, putra Prabu Matswapati dari negara Wirata. (http://sudarjanto.multiply.com/journal/item/11810/Citraksi_).

SI

BERBAGAI GAMBAR CITRAKSA

05.10 Edit This 0 Comments »
Saudara kembar Citraksa (Citraksa) sedang membawa Gada, diambil dari http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/4/41/Citraksi-kl.jpg/275px-Cit





CITRAKSA

18.08 Edit This 0 Comments »
Citraksa, gambar diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Citraksa-kl.jpg

Citraksa

Citraksa adalah seorang tokoh dari wiracarita Mahabharata yang berada di pihak Kurawa. Citraksa adalah adik Duryudana dan mempunyai saudara kembar, yaitu Citraksi. Sering dikisahkan dalam cerita pedalangan, Citraksa dan Citraksi mempunyai sifat dan karakter yang sama, seperti gagap dalam berbicara sehingga sering menjadi bahan ejekan bagi Patih Sengkuni, serta tindakannya yang dinilai grusa-grusu. Dalam peperangan di luar Bharatayuddha, Citraksa dan Citraksi sering menjadi bulan-bulanan anak-anak Pandawa seperti Antareja, Antasena, Gatotkaca, Abimanyu dan lain-lain.

(Artikel ini diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Citraksa).

Raden Citraksa putra Prabu Destarastra di Hastinapura, seorang Kurawa, saudara Sri Duryudana. Citraksa berbicara gagap, beradat congkak. la seorang Kurawa yang. terpilih. Dalam perang Baratayudha Citraksa tewas oleh Arjuna pada waktu Arjuna mengamuk dalam perang itu, sesudah Angkawijaya meninggal.

BENTUK WAYANG

Citraksa bermata kedondongan, hidung menganggul (Jawa: njengat). Rambut terurai bentuk gimbal (bergumpal-gumpal). Berjamang dengan garuda membelakang, bergelang, berpontoh, dan berkeroncong. Berkain batik parang rusak barong, dan bercelana cindai.
Cat muka berwarna hijau tanda seorang penakut. Dalam cerita Ki Dalang ia berbicara gagap namun selalu menyombongkan diri dengan congkak bahwa ia seorang Pangeran, dan sering memaki dalam berkata-kata. (Artikel ini diambil dari
http://wayangku.wordpress.com/2008/10/21/raden-citraksa/).


GAMBAR CARUCITRA DAN RIWAYAT KURAWA

05.06 Edit This 0 Comments »


Kurawa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Korawa atau Kaurawa (Sansekerta: कौरव; kaurava) adalah kelompok antagonis dalam wiracarita Mahabharata. Nama Korawa secara umum berarti “keturunan Kuru”.Kuru adalah nama seorang Maharaja yang merupakan keturunan Bharata, dan menurunkan tokoh-tokoh besar dalam wiracarita Mahabharata. Korawa adalah musuh bebuyutan para Pandawa. Jumlah mereka adalah seratus dan merupakan putra prabu Dretarastra yang buta dan permaisurinya, Dewi Gandari.

Pengertian

Istilah Korawa yang digunakan dalam Mahabharata memiliki dua pengertian:

Arti luas: Korawa merujuk kepada seluruh keturunan Kuru. Dalam pengertian ini,Pandawa juga termasuk Korawa, dan kadangkala disebut demikian dalamMahabharata, khususnya pada beberapa bagian awal.

Arti sempit: Korawa merujuk kepada garis keturunan Kuru yang lebih tua. Istilah ini hanya terbatas untuk anak-anak Dretarastra, sebab ia merupakan keturunan yang tertua dalam garis keturunan Kuru. Istilah ini tidak mencakup anak-anak Pandu, yang mendirikan garis keturunan baru, yaitu para Pandawa.

Riwayat singkat

Dalam Mahabharata diceritakan bahwa Gandari, istri Dretarastra, menginginkan seratus putera. Kemudian Gandari memohon kepada Byasa, seorang pertapa sakti, dan beliau mengabulkannya. Gandari menjadi hamil, namun setelah lama ia mengandung, puteranya belum juga lahir. Ia menjadi cemburu kepada Kunti yang sudah memberikan Pandu tiga orang putera. Gandari menjadi frustasi kemudian memukul-mukul kandungannya. Setelah melalui masa persalinan, yang lahir dari rahimnya hanyalah segumpal daging. Byasa kemudian memotong-motong daging tersebut menjadi seratus bagian dan memasukkannya ke dalam guci, yang kemudian ditanam ke dalam tanah selama satu tahun. Setelah satu tahun, guci tersebut dibuka kembali dan dari dalam setiap guci, munculah bayi laki-laki. Yang pertama muncul adalah Duryodana, diiringi oleh Dursasana, dan saudaranya yang lain.

Seluruh putera-putera Dretarastra tumbuh menjadi pria yang gagah-gagah. Mereka memiliki saudara bernama Pandawa, yaitu kelima putera Pandu, saudara tiri ayah mereka. Meskipun mereka bersaudara, Duryodana yang merupakan saudara tertua para Korawa, selalu merasa cemburu terhadap Pandawa, terutama Yudistira yang hendak dicalonkan menjadi raja di Hastinapura. Perselisihan pun timbul dan memuncak pada sebuah pertempuran akbar di Kurukshetra.

Setelah pertarungan ganas berlangsung selama delapan belas hari, seratus putera Dretarastra gugur, termasuk cucu-cucunya, kecuali Yuyutsu, putera Dretarastra yang lahir dari seorang dayang-dayang. Yang terakhir gugur dalam pertempuran tersebut adalah Duryodana, saudara tertua para Korawa. Sebelumnya, adiknya yang bernamaDursasana yang gugur di tangan Bima. Yuyutsu adalah satu-satunya putera Dretarastra yang selamat dari pertarungan ganas di Kurukshetra karena memihak para Pandawa dan ia melanjutkan garis keturunan ayahnya, serta membuatkan upacara bagi para leluhurnya.

Para Korawa

Berikut ini nama-nama seratus Korawa yang dibedakan menjadi dua versi, versi India dan versi Indonesia. Kedua Korawa utama yaitu Suyodana alias Duryodana dan Dursasana disebut lebih dahulu. Kemudian yang lain disebut menurut urutan abjad.

Versi India

  1. Duryodana (Duryodhana)
  2. Dursasana (Dussāsana)
  3. Abaya (Abhaya)
  4. Adityaketu (Ādithyakethu)
  5. Alalupa (Alolupa)
  6. Amapramadi (Amapramādhy)
  7. Anadrusya (Anādhrushya)
  8. Antudara (Anthudara)
  9. Anuwinda (Anuvindha)
  10. Aparajita (Aparājitha)
  11. Ayubahu (Ayobāhu)
  12. Bahwasi (Bahwāsy)
  13. Bilawardana (Belavardhana)
  14. Bimabala (Bhīmabela)
  15. Bimawiga (Bhīmavega)
  16. Bimawikra (Bhīmavikra)
  17. Carucitra (Chāruchithra)
  18. Citra (Chithra)
  19. Citrabana (Chithrabāna)
  20. Citraksa (Chithrāksha)
  21. Citrakundala (Chithrakundala)
  22. Citrakundhala (Chithrakundhala)
  23. Citranga (Chithrāmga)
  24. Citrawarma (Chithravarma)
  25. Citrayuda (Chithrāyudha)
  26. Danurdara (Dhanurdhara)
  27. Dirkabahu (Dhīrkhabāhu)
  28. Dirkaroma (Dīrkharoma)
  29. Dredahasta (Dridhahastha)
  30. Dredakarmawu (Dhridhakarmāvu)
  31. Dredaksatra (Dridhakshathra)
  32. Dredaratasyara (Dhridharathāsraya)
  33. Dredasanda (Dridhasandha)
  34. Dredawarma (Dridhavarma)
  35. Duradara (Durādhara)
  36. Durdarsa (Durdharsha)
  37. Durmada (Durmada)
  38. Durmarsana (Durmarshana)
  39. Durmuka (Durmukha)
  40. Dursaha (Dussaha)
  41. Dursala (Dussala)
  42. Durwigaha (Durvigāha)
  43. Durwimuca (Durvimocha)
  44. Duskarna (Dushkarna)
  45. Dusparaja (Dushparāja)
  46. Duspradarsa (Dushpradharsha)
  47. Jalaganda (Jalagandha)
  48. Jarasanda (Jarāsandha)
  49. Kancanadwaja (Kānchanadhwaja)
  50. Karna (Karna)
  51. Kawaci (Kavachy)
  52. Kradana (Kradhana)
  53. Kundabedi (Kundhabhedy)
  54. Kundadara (Kundhādhara)
  55. Kundase (Kundhasāi)
  56. Kundasi (Kundhāsy)
  57. Kundi (Kundhy)
  58. Mahabahu (Mahabāhu)
  59. Mahodara (Mahodara)
  60. Nagadata (Nāgadatha)
  61. Nanda (Nanda)
  62. Nisamgi (Nishamgy)
  63. Pasi (Pāsy)
  64. Pramada (Pramadha)
  65. Sadasuwaka (Sadāsuvāk)
  66. Saha (Saha)
  67. Sala (Sala)
  68. Sama (Sama)
  69. Sarasana (Sarāsana)
  70. Satwa (Sathwa)
  71. Satyasanda (Sathyasandha)
  72. Senani (Senāny)
  73. Somakirti (Somakīrthy)
  74. Subahu (Subāhu)
  75. Suhasta (Suhastha)
  76. Sujata (Sujātha)
  77. Sulocana (Sulochana)
  78. Sunaba (Sunābha)
  79. Susena (Sushena)
  80. Suwarca (Suvarcha)
  81. Suwarma (Suvarma)
  82. Suwiryaba (Suvīryavā)
  83. Ugrase (Ugrasāi)
  84. Ugrasena (Ugrasena)
  85. Ugrasrawas (Ugrasravas)
  86. Ugrayuda (Ugrāyudha)
  87. Upacitra (Upachithra)
  88. Upananda (Upananda)
  89. Urnanaba (Ūrnanābha)
  90. Walaki (Vālaky)
  91. Watawiga (Vāthavega)
  92. Wikarna (Vikarna)
  93. Wikatinanda (Vikatinanda)
  94. Winda (Vindha)
  95. Wirabahu (Vīrabāhu)
  96. Wirajasa (Virajass)
  97. Wirawi (Virāvy)
  98. Wisalaksa (Visālāksha)
  99. Wiwitsu (Vivilsu)
  100. Wrendaraka (Vrindāraka)
  101. Yuyutsu (Yuyulssu) *
  102. Dursala (Dussala) *

Versi Indonesia

  1. Duryodana (Suyodana)
  2. Dursasana (Duhsasana)
  3. Abaswa
  4. Adityaketu
  5. Alobha
  6. Anadhresya (Hanyadresya)
  7. Anudhara (Hanudhara)
  8. Anuradha
  9. Anuwinda (Anuwenda)
  10. Aparajita
  11. Aswaketu
  12. Bahwasi (Balaki)
  13. Balawardana
  14. Bhagadatta (Bogadenta)
  15. Bima
  16. Bimabala
  17. Bimadewa
  18. Bimarata (Bimaratha)
  19. Carucitra
  20. Citradharma
  21. Citrakala
  22. Citraksa
  23. Citrakunda
  24. Citralaksya
  25. Citrangga
  26. Citrasanda
  27. Citrasraya
  28. Citrawarman
  29. Dharpasandha
  30. Dhreksetra
  31. Dirgaroma
  32. Dirghabahu
  33. Dirghacitra
  34. Dredhahasta
  35. Dredhawarman
  36. Dredhayuda
  37. Dretapara
  38. Duhpradharsana
  39. Duhsa
  40. Duhsah
  41. Durbalaki
  42. Durbharata
  43. Durdharsa
  44. Durmada
  45. Durmarsana
  46. Durmukha
  47. Durwimocana
  48. Duskarna
  49. Dusparajaya
  50. Duspramana
  51. Hayabahu
  52. Jalasandha
  53. Jarasanda
  54. Jayawikata
  55. Kanakadhwaja
  56. Kanakayu
  57. Karna
  58. Kawacin
  59. Krathana (Kratana)
  60. Kundabhedi
  61. Kundadhara
  62. Mahabahu
  63. Mahacitra
  64. Nandaka
  65. Pandikunda
  66. Prabhata
  67. Pramathi
  68. Rodrakarma (Rudrakarman)
  69. Sala
  70. Sama
  71. Satwa
  72. Satyasanda
  73. Senani
  74. Sokarti
  75. Subahu
  76. Sudatra
  77. Suddha (Korawa)
  78. Sugrama
  79. Suhasta
  80. Sukasananda
  81. Sulokacitra
  82. Surasakti
  83. Tandasraya
  84. Ugra
  85. Ugrasena
  86. Ugrasrayi
  87. Ugrayudha
  88. Upacitra
  89. Upanandaka
  90. Urnanaba
  91. Wedha
  92. Wicitrihatana
  93. Wikala
  94. Wikatanana
  95. Winda
  96. Wirabahu
  97. Wirada
  98. Wisakti
  99. Wiwitsu (Yuyutsu)
  100. Wyudoru (Wiyudarus)

Istimewa:

Yuyutsu adalah putra Dretarastra dari seorang dayang-dayang.

Dursala adalah adik perempuan Korawa. Ia satu-satunya wanita di antara para Korawa.

Korawa lainnya

Para Korawa (putera Dretarastra) yang utama berjumlah seratus, namun mereka masih mempunyai saudara dan saudari pula. Yaitu Yuyutsu, yaitu anak Dretarastra tetapi lain ibu, ibunya seorang wanita waisya. Kemudian dari Dewi Gandari, lahir seorang putra lagi bernama Duskampana dan seorang putri bernama Dursala (atauDuççala atau Dussala).

Referensi

Nama-nama tokoh para Korawa versi Indonesia diambil dari:

I Gusti Putu Phalgunadi, 1900, Âdi Parva. The First Book. New Delhi: International Academy of Indian Culture and Aditya Prakashan, halaman 186-189. (Phalgunadi menerbitkan ulang teks Jawa Kuna Adiparwa yang pernah diterbitkan, namun kali ini disertai dengan terjemahan dalam bahasa Inggris. Nama-nama tokoh Korawa di dalam naskah yang digunakan Phalgunadi tidak lengkap, dan kadang-kadang berbeda dengan nama dalam Mahabharata dari India yang memakai bahasa Sansekerta. Kemudian oleh Phalgunadi dilengkapi dengan nama-nama yang ia dapatkan dari Mahabharata versi Sansekerta)

Artikel diambil dari http://wayangprabu.com/galeri-wayang/kurawa/.