ALUR KEHIDUPAN

17.03 Edit This 0 Comments »



ALUR KEHIDUPAN
Media: Kertas, cat kayu & kuas
Teknik: Melukis di atas air
          Alunan cat di atas air, ditarik dengan menggunakan kuas ke berbagai penjuru air. Memadukan warna dari cat kayu yang ada memberikan makna tersendiri  dalam estetika. Indahnya begitu terasa di jiwa penghayatnya. Terasa lebih menyejukkan hati dan memberikan ketenangan dalam rasa. Walaupun keindahan itu sangat terasa subjektivitasnya. Memang tak dapat  dipungkiri, karya seni kontemporer terlihat sangat condong pada penilaian tiap orang yang sangat berbeda. Perbedaan yang tergantung dari tingkat kemampuan seni, tingkat pemahaman, selera dan juga sudut pandang yang berbeda dalam menangkap makna suatu karya seni.
         Pemahaman akan sangat mempengaruhi akan tingkat dan selera para penikmat seni. Seniman kontemporer memang tidak harus menuruti selera pasar. Menuruti selera khalayak atau menyesuaikan  karya-karya yang sedang “in”pada masanya. Apalagi disesuaikan dengan keinginan para penikmat seni. Karya seni kontemporer memang bersifat egois, pribadi dan pengungkapan perasaan yang terjadi pada saat sipencipta seni menciptakan karya tersebut.
        Penikmat seni tidak dapat mengendalikan para pencipta seni  dalam berkarya seni kontemporer maupun karya seni abstrak. Penikmat seni hanya bisa memberikan apresiasi dari hasil karya yang sudah jadi atau karya yang sudah siap saji. Penikmat seni menilai karya setelah karya telah jadi. Karya yang telah jadi ini, tinggal diberikan apresiasi, saran maupun kritik dari para penikmat seni. Baru disinilah para penikmat seni bebas untuk memberikan penilaian dan kritikankarya seni akan akan dijadikan ajang penilaiannya. Penikmat seni bebas untuk memberikan penghargaan, pemahaman, penilaian ataupun masukan  terhadap karya kontemporer yang telah tersaji.
         Alur kehidupan yang tampak dalam karya seni tersebut adalah perpaduan warna yang ada. Perpaduan berbagai warna yang ada merupakan simbol kehidupan yang sangat komplek. Warna biru, kuning,  merah, coklat dan hitam dibiarkan bebas memenuhi bidang gambar yang tersaji. Warna tersebut merupakan simbol kehidupanyang ada dalam kehidupan manusia didunia ini. Warna-warni kehidupan manusia yang sangat berbeda, ada rasa gembira, histeria, sedih, galau atau keresahan yang bisa menghinggapi semua manusia.
          Simbol warna kuning yang bermakna akan keceriaan, biru adanya rasa suka, cinta dan asmara. Simbol merah bisa berarti keberanian, semangat danpantang menyerah dalam menghadapi tantangan kehidupan. Warna kelam bisa memberikan makna akan kegelapan,kesedihan maupun sikap-sikap yang kurang benar. Dan banyak lagi berbagai warna yang memberikan arti simbolis sesuai dengan situasi dan kondisi kehidupan  manusia.
           Alur kehidupan memang bisa diwakili dengan berbagai jenis warna yang ada. Hal tersebut disesuaikan dengan selera hati secara kolektif. Simbol yang dapat dipahami oleh khalayak adalah simbol yang telah umum diketahui atau adanya pemahaman bersama kan warna-warna yang ada. Walaupun demikian kadang secara individu manusia memberikan makna pada suatu warna disesuaikandengan kepentingan pribadinya. Hal ini yang sangat sulit untuk dipahami secara umum.
          Lepas dari pemberian makna simbol yang berbeda,, yang jelas karya seni kontemporer maupun abstrak merupakan karya seni yang sangat syarat dengan penilaian yang sangat subjektif. Penilaian yang berbeda antara individu satu dengan yang lainnya. Apalagi antara pencipta seni dengan para penikmat seni yang kurang paham tentang latar belakang pengungkapan rasa dalam berkarya seni tersebut.
Penulis : Eko Kimianto
Alumnus Pendidikan Seni Rupa IKIP Semarang (Unnes)


MOTIVASI PENDIDIKAN MELUKIS YANG TEPAT UNTUK ANAK USIA DINI

14.21 Edit This 0 Comments »
MOTIVASI PENDIDIKAN MELUKIS YANG TEPAT UNTUK ANAK USIA DINI
Oleh : Eko Kimianto, S.Pd
         “Angel-angel gampang, golek aten-atenne bocah cilik” itu yang terucap dengan bahasa Jawa medhok dari seorang pendidik yang sedang menelateni anak-anak kecil. Memang tidak gampang untuk mendidik dan membuat anak-anak kecil itu berminat dan senang menekuni sesuatu yang ada dihadapannya. Itulah sebenarnya kendala utama pendidikan yang ditujukan untuk anak-anak usia dini, yaitu anak usia TK dan SD.
          Mereka mudah untuk patah semangat dan tidak mau belajar kembali, ketika sesuatu yang dipelajarinya itu dirasa sangat sulit untuk dikerjakan atau diterima sesuai dengan daya pemikiran dan angan-angan anak-anak tersebut. Mereka bisa tidak mau mencoba kembali dan meninggalkan begitu saja, apa yang seharusnya dikerjakan sebagai suatu mata pelajaran atau tugas-tugas tertentu yang ditujukan untuknya. Mereka mudah frustasi, mereka mudah muthung (bahasa Jawa), mudah menghentikan kegiatannya, mudah jengkel dan mudah benci dengan sesuatu yang membuatnya kesulitan.
           Hal ini berlaku juga untuk pendidikan seni rupa, khususnya untuk pendidikan melukis bagi anak-anak usia dini dengan batasan usia TK dan SD. Perlu kiat-kiat tertentu untuk supaya tidak salah langkah dalam menangani pendidikan melukisnya. Jika salah dalam menanganinya berarti akan mematikan minat dan hobinya dalam melukis, tetapi sebaliknya akan membuat anak-anak itu teramat senang dan akan bertambah suka jika penanganannya tepat sasaran sesuai dengan keinginan psikologis anak.
          Anak usia dini ini memang tidak seperti robot yang bisa kita jalankan sesuai dengan kehendak kita. Dia punya hati, dia punya keinginan, dia punya hasrat, dia punya keingintahuan dan dia juga punya kecuekan tersendiri yang kadang sulit dimengerti oleh daya nalar orang dewasa. Segala sesuatu yang dipunyainya tersebut harus bisa kita dekati dengan menyesuaikan daya nalar pemikiran mereka. Kita harus bisa mendalami jiwanya terlebih dahulu, apa yang diinginkannya dan apa yang dijadikan harapannya. Semua harus diselaraskan terlebih dahulu, sebelum kita melangkah lebih jauh untuk memberikan penanganan pendidikan melukisnya.
          Menyelaraskan jiwa mereka dengan materi pendidikan yang bisa disenanginya, harus yang pertama dilakukan terlebih dahulu. Hal ini akan mempermudah langkah-langkah berikutnya. Anak usia dini begitu menyukai sesuatu hal, dia akan lebih mudah untuk mau menuruti dan melakukan sesuatu tindakan yang akan diarahkan dan diinginkan oleh seorang pendidik. Begitu mereka berminat dan tumbuh rasa hobinya, dia akan menuruti segala perintah yang diberikan untuknya. Sehingga teknik-teknik pendidikan melukisnya juga akan mudah diterima dan dipahami serta kemudian melakukannya dalam bentuk praktik berkarya seni lukis.
          Ketika anak-anak ini mulai melakukan praktik berkarya, berikan bermacam-macam support yang bisa menggugah dan meningkatkan kualitas minat dan hobinya, sehingga apa yang dikerjakannya tersebut akan dengan senang hati dilakukan, dikerjakan dan diselesaikannya. Jangan sekali-kali ketika mereka berkarya, pendidik terlalu mendikte dan mengguruinya dengan apa yang sedang mereka kerjakan. Biarkan terlebih dulu mereka mencipta, membentuk objek, berkreasi dan memadu warna sesuka hatinya. Biarkan mereka berimprovisasi sesuai dengan tingkatan pemikiran imajinasinya, sehingga mereka merasa nyaman, merasa bebas dan merasa tidak terganggu. Anak-anak ini punya naluri untuk berimajinasi dan berekspresi secara naluri dan alamiah. Mereka akan merasa senang dengan berbagai uji coba yang tengah dilakukannya. Terlepas dari segi bentuk yang diselesaikannya. Apapun hasilnya itulah yang terbaik yang telah dilakukannya dalam berkreasi seni lukis.
        Kebebasan dalam melakukan kegiatan berkarya seni inilah, seorang anak kecil akan merasa mampu dan bisa untuk menciptakan karya lukis yang sedang digelutinya. Perasaan bisa dan mampu ini akan membawa minat yang berlebih untuk mencoba berkarya dan menghasilkan suatu lukisan-lukisan berikutnya. Dia akan senang mencoba kembali dan berkarya lebih banyak lagi karena didasari rasa senang yang tinggi. Dia akan semakin mood (situasi yang selalu siap berkarya) untuk menghasilkan karya yang lebih banyak lagi. Semakin banyak dia mencoba akan semakin tinggi pula perkembangan kemampuan melukisnya.
         Usahakan kondisi yang menyenangkan seperti ini, tetap bisa dipertahankan. Tidak sekedar dipertahankan, tetapi sebisa mungkin untuk selalu lebih meningkatkan dari kondisi yang ada menuju kemajuan yang signifikan. Kondisi dalam arah peningkatan kemampuan ini, seorang pendidik harus tetap bisa memberikan masukan yang bermakna. Masukan yang berupa motivasi yang dipandang perlu dalam bentuk meningkatkan kemampuan berkreasi seni lukis.
        Membangkitkan motivasi diri pada anak usia dini sangatlah penting, karena dengan kita memberikan motivasi kepada anak didik, di harapkan nantinya anak tersebut akan mempunyai rasa percaya diri untuk bisa bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya, bisa bersosialisasi dengan teman sebayanya. Dengan menumbuhkan motivasi diri pada anak usia dini kita telah membantu untuk mewujudkan adanya tumbuh kembang siswa kita menjadi anak yang sehat, cerdas dan ceria.
        Terbentuknya motivasi diri pada anak usia dini berasal dari dua jenis motivasi yaitu: 1. Motivasi yang berasal dari dalam diri anak didik kita, yang disebut dengan Internal Motivation. Motivasi ini muncul dari dalam diri anak tanpa adanya faktor luar yang mempengaruhinya. 2. Motivasi yang keluar karena adanya dorongan dari luar anak, misalnya seperti adanya imbalan, tambahan uang jajan, reward, hadiah atau penghargaan. Motivasi inilah yang disebut Eksternal Motivation atau motivasi eksternal.
         Memotivasi anak usia dini dalam berkarya seni lukis ini bisa dilakukan dengan dua cara tersebut, yaitu dengan usaha memaksimalkan pertumbuhan motivasi dari dalam (motivasi internal) maupun dengan menumbuhkan motivasi yang berasal dari luar diri sianak (motivasi eksternal). Menumbuhkan motivasi internalnya dengan cara kita memberikan kebebasan yang terarah agar anak usia dini tersebut mau bersosialisasi dengan teman sebaya dilingkungan sekitarnya. kebebasan yang kita berikan tetap saja merupakan suatu bentuk kebebasan yang masih tetap kita arahkan.

         Menumbuhkan motivasi eksternalnya dengan cara kita mengumpulkan teman-teman sebayanya dalam satu tempat dan kita ajak mereka bersama-sama menciptakan suatu karya yang memerlukan kerjasama dalam satu team. Bisa kita lakukan dengan melukis menyusun objek gambar ataupun menyusun gambar balok menjadi satu bentuk tertentu. Dengan adanya kebersamaan diantara mereka, maka akan ada komunikasi yang terjalin sehingga diantara anak didik kita mempunyai rasa percaya diri telah mampu untuk berkarya lukis secara bersama-sama dengan lingkungan sekitarnya.
          Pada dasarnya komunikasi adalah salah satu kunci pokok agar motivasi diri pada diri anak usia dini dapat terus berkembang. Motivasi dalam diri anak usia dini bisa kita berikan pula melalui sanjungan dan pemberian kata-kata baik yang “NGALEMBANA” sehingga dapat meningkatkan kemampuan yang mengarah pada pemberian dorongan, semangat dan arahan. Sehingga perkembangan melukis pada   anak usia dini ini lebih meningkat lagi  menjadi anak yang sehat, cerdas dan ceria.
          Berdasarkan paparan diatas dapat disimpulkan bahwa pemberian motivasi pendidikan melukis yang tepat untuk anak usia dini adalah dengan memberikan kebebasan pada anak tanpa adanya aturan-aturan yang terlalu membatasi anak untuk bebas berkarya seni, terlepas dari aturan bentuk objek gambar yang ada. Kemudian hasil karya cipta anak dalam bentuk lukisan tersebut harus mendapatkan apresiasi positif yang sifatnya menyanjung dan mengungkapkan tentang segi-segi kelebihan yang ada pada karya lukis yang telah dihasilkannya tersebut. Sehingga akhirnya anak akan suka dan berminat untuk berkarya seni lukis. Anak akan merasa mampu dan percaya diri akan hasil karya cipta lukisannya. Hal tersebut berimbas pada perkembangan yang optimal dalam kemampuan melukisnya dan berpengaruh pula terhadap tingkat psikologis anak yang dapat menjadikan anak bertambah percaya diri, menjadi anak sehat, cerdas dan selalu ceria.

Penulis : Eko Kimianto, S.Pd
Pendidik di SMP Negeri 2 Gemuh, bidang studi Seni Budaya.

KREASI SENI RUPA DI ERA TEKNOLOGI INFORMATIKA BAGI PELAJAR

07.29 Edit This 0 Comments »
KREASI SENI RUPA DI ERA TEKNOLOGI INFORMATIKA  BAGI PELAJAR
Oleh : Eko Kimianto, S.Pd.

Gambar terkait
        
      Seni rupa memang sesuatu yang lain, baik bagi pelaku seni, penikmat seni maupun orang awam seni sekalipun. Seni rupa memang berbeda, dari segi wujud maupun kreasinya. Memang hasil kreasi seni rupa berbeda dibandingkan dengan bidang lainnya. Seni rupa juga berbeda dibandingkan dengan sesama seni yang lainnya.
         Mengapa seni rupa harus beda? Ataukah memang berbeda dari hasil kreasinya? Seni Rupa memang istimewa bagi orang yang tahu dan mendalami seluk beluk seni visual tersebut. Rasa istimewa tersebut yang menyebabkan terasa spesifik, khusus dan berbeda. Walaupun sebenarnya seni rupa tidak ingin membedakan diri. Berbeda hanya karena hasil dan bentuk perwujudan karyanya yang harus kreatif, eksentrik, bombastis dan juga tidak lupa harus punya nilai estetika.
         Seni rupa berkembang dari tahun ke tahun mengikuti kemajuan daya pikir manusia. Semakin maju dan berkembang pola pikir manusia, berkembang dan semakin maju pula hasil kreasi seni rupa. Untuk itu, pendidikan seni rupa juga harus selalu berkembang mengikuti kemajuan zamannya. Kemajuan zaman di era sekarang ini memang melaju dengan cepatnya. Bagaikan bola salju yang menggelinding diatas gunung es yang dengan cepatnya melaju ke menuju dasar gunung tersebut. Semakin ke bawah semakin besar dan punya kekuatan yang luar biasa untuk menghancurkan sekelilingnya.
         Perumpamaan itu berlaku untuk perkembangan sains yang begitu cepat disaat ini, yang juga dibarengi bertambah canggih dan kreatif pula hasil karya seni rupa di era teknologi informatika ini. Pendidikan Seni Budaya khususnya Seni Rupa akan semakin tertinggal jauh apabila tidak selaras dan sejalan dengan teknologi modern saat ini. Setiap saat dan setiap waktu akan berubah menuju suatu kemajuan yang luar biasa.
         Sesuai dengan perkembangan yang sangat pesat dalam dunia teknologi elektronik dan informasi. Pendidikan seni budaya harus lebih di fokuskan pada keberlanjutkan seni rupa yang berbasis teknologi informasi. Peranan teknologi informasi bukan saja sebagai media baru tetapi lebih jauh mempunyai misi dan visi dalam pengembangan seni rupa sebagai estetika maupun seni rupa sebagai suatu pendidikan. Sebagai alat informasi ’multi media interaktif’, pada prinsipnya, semua orang yang terlibat dalam kegiatan membangun pendidikan seni rupa melalui jaringan elektronik berupaya mengimbangi kemajuan teknologi informatika tersebut. Keberadaannya memungkinkan untuk dapat menampung dan meningkatkan wawasan masyarakat terhadap konsepsi filosofi yang tercermin secara hakiki dalam setiap aktivitas dan programnya. Bagi para guru seni budaya, kecanggihan teknologi informasi itu sangatlah penting dan bermanfaat bagi pengembangan keilmuannya yang telah menjadi bagian dari kehidupan profesinya.
          Kebutuhan kreasi seni rupa bagi pelajar, di era dunia maya (teknologi informatika) sangatlah penting sekali. Pelajar harus peka terhadap perubahan ke arah kemajuan seni rupa dalam teknologi informatika ini. Mereka membutuhkan ilmu untuk bisa menambah wawasan dan keterampilannya sesuai yang dibutuhkan dalam kecanggihan “Dunia Maya” saat ini. Kreasi seni rupa sekarang tidak hanya sekedar mencipta langsung lewat keterampilan tangannya, tetapi harus bisa memadukan dengan kecanggihan teknologi yang ada. Mengkolaborasikan bakat alam dengan sarana yang telah tersedia dalam teknologi informasi tersebut.
            Pelajar harus paham tentang dunia maya, anak muda harus terampil dengan teknologi komputer yang ada. Pelajar harus mahir mengkoneksikan berbagai media teknologi universal yang telah tersedia. Dengan koneksi seperti internet, mendorong interaksi dengan dunia tanpa mengenal jarak dan batas geografi dinisbikan, sikap kepedulian sosial dan keyakinan tentang kehidupan modern yang dapat menjadi indikator pencagaran sumber daya manusia.
           Pelajar memang harus bisa mengikuti perubahan kearah kemajuan yang ada. Paling tidak seorang pelajar terampil dalam teknologi seni budaya dalam lingkup kecil (mikro). Kepahaman seni rupa pelajar dalam skala mikro, misalnya usaha pencagaran dan perlindungan terhadap seni budaya dan kebiasaan tradisional yang terus di amalkan dalam masyarakat modern diera globalisasi ini. Pengetahuan tentang jagat, seperti diungkapkan oleh konsep penciptaan dalam mitologi, tampaknya tidak hanya tentang dunia nyata tetapi juga dunia abstrak, kehidupan mendatang.
           Pentingnya kecerdasan anak-anak muda ini sangat dibutuhkan, agar pendidikan seni rupa di lingkungan kita tidak tertinggal dengan kemajuan yang telah diraih oleh anak-anak bangsa yang lain. Pendidikan memang bergerak terus menuju suatu kemajuan yang tak terhingga. Kemajuan yang semakin lama semakin abstrak adanya. Kemajuan yang semakin lama akan semakin sulit dipahami oleh pelajar, apabila segala komponen pendidikan tidak turut serta dalam merubah dunia keilmuan seni rupa modern ini.
          Dalam kenyataannya kini pendidikan seni rupa khususnya, tidak dapat dipisahkan dari penggunaan teknologi jaringan internet sebagai bagian dari program dan alat penyampai informasi atau pesan. Hal ini jelas bisa memperkaya dunia pendidikan seni rupa, pencipta seni, pengamat seni maupun pelajar seni itu sendiri. Dengan kecanggihan dan kemudahan perangkat ini melibatkan pendidik dan pelajar seni sebagai pengguna, penggagas dan ikut berpartisipasi dalam memainkan imej bergerak.
          Selain itu juga pelajar dapat memanfaatkan teknologi media interaktif yang akrab dengan pemirsa atau penikmat seni rupa khususnya. ’Media’, sebuah paradigma baru kecanggihan Teknologi Informasi (TI), dapat merubah perilaku pelajar menjadi pelaku, penggagas, sutradara, penulis skrip sekaligus produser dalam sebuah kerja kolaboratif- partisipasi dalam sebuah karya seni rupa yang monumental. Pemanfaatan teknologi informatika sebuah perangkat alat promosi masa kini dan masa depan. Sudah pada waktunya pelajar seni budaya (khususnya seni rupa) diajak untuk menggunakan segala fasilitasnya termasuk imaji, perasaan dan gagasan di dalam membangun kebudayaan yang non material atau non fisik.
          Bagi pelajar penguasaan teknologi informatika akan mempermudah bagi dirinya untuk berkarya seni rupa sesuai dengan perkembangan zamannya. Sesuai dengan kemajuan zamannya, tidak buta dan gagap dengan teknologi yang berkembang saat ini. Sehingga karya-karya yang dihasilkannnya merupakan karya yang dapat bersaing dan berdaya jual tinggi dalam era globalisasi ini. Karya yang berkualitas tinggi dengan memadukan kreasi, imajinasi, kecerdasan dan penguasaan teknologi masa kini dalam suatu karya istimewa yang dapat bersaing dalam hasil dan juga nilai jualnya.
          Lepas dari itu semua, tak dapat dipungkiri bahwa seni rupa mempunyai karakter yang harus diterima secara mendasar. Nilai karakter sebuah karya seni juga dapat dilihat dari faktor tampil eksistensi fisiknya baik itu yang bersifat karya seni yang diciptakan untuk ‘meruang’ (spatial arts) maupun yang ‘mewaktu’ (timely arts). Ataupun karya seni yang merupakan kombinasi keduanya yang dalam kehadirannya memerlukan ruang dan waktu. Dalam hal ini karakter karya seninya terindikasikan dari sisi bentuk yang terukur karena standar ukuran yang digunakan (sizes, volumes) maupun kondisi dan durasi waktu tampil yang diperlukan. Dengan demikian dapat juga diamati karakter karya seni yang berbeda tidak saja karena ruang yang diperlukan untuk keberadaannya itu berbeda, tetapi juga karena waktu yang diperlukannya juga berbeda durasinya. Di samping itu, boleh juga dikatakan bahwa karakter karya seni bisa dibedakan antara kehadiran fisiknya yang sudah jadi  dengan yang terdapat perbedaan jenis atau genrenya.
            Paparan di atas dapat ditarik garis tegas untuk suatu kreasi seni rupa yang berkolaborasi dengan teknologi informatika yaitu bahwa seni rupa akan berkembang dengan pesat dan tidak ketinggalan zaman jika tetap kreatif dan peka terhadap perkembangan zamannya. Pelajar sebagai anak muda harus dapat berkreatifitas seni dengan meningkatkan kemampuannya dalam teknologi informatika sebagai sarana pengembangan karya seni rupa yang dihasilkannya. Tetapi perpaduan tersebut tidak dapat menghilangkan kekhasan dan karakter seni rupa sebagai sifat dasarnya.

Penulis : Eko Kimianto, S.Pd (Alumni Jurusan Pend. Seni Rupa UNNES/IKIP Semarang)
Pendidik: Seni Budaya SMP Negeri 2 Gemuh

GEMERICIK AIR

18.18 Edit This 0 Comments »


GEMERICIK AIR
Media : Kertas, Cat kayu
Teknik : Melukis di atas air
          Penuangan warna sesuai  dengan suasana hati. Warna biru dominan dengan diselingi berbagai warna lain, seperti warna merah, coklat dan putih. Simbol suasana hati yang terhampar dalam luapan cinta.  Cinta yang dihiasi dengan berbagai warna kehidupan. Kadang suka  dan berganti dengan suasana lain yang mengharu biru. Luapan warna merah pertanda bahwa cinta butuh adanya perjuangan.
          Perjuangan heroik yang menggambarkan betapa romansa cinta sangat amat berharga. Kadang harus diiringi dengan ketegasan dan diantaranya dibutuhkan juga dengan kekerasan untuk mempertahankan cinta. Walau kadang kecengengan cinta terlihat jelas dalam realita yang ada. Malah sering pula teriring dengan  tertumpahnya darah. Hingga tangispun keluar dari nurani terdalam hanya karena untuk merasakan pedihnya  gegap gempita warna-warna cinta.
          Warna merah diantara warna biru memberikan makna perjuangan cinta yang terkadang harus diiringi dengan darah yang harus ditumpahkannya. Tapi tidak semua cinta harus begitu kejam dan bengis. Tinggal sang pelaku cinta dalam mendalami makna cinta yang terkuak. Haruskah curahan jiwa dituangkan dalam bentuk emosional yang memerah, penuh kemarahan dan api cemburu yang begitu membara.
           Cinta halus murni juga sekian banyak ditemukan dalam kehidupan ini. Bagai sandiwara romantis yang penuh dengan keindahan dalam asmara. Hingga semesta serasa membiru menyambut keindahan akan estetika cinta. Hal ini yang membuat insan akan kecanduan  pada aroma cinta membara penuh dengan cumbu rayu nan mesra. Berjalan beriring sepanjang jalan, bergandeng tangan tangan  seakan tiada dapat terpisahkan. Meninggalkan memori yang takkan terhapus sepanjang masa.
          Karya kontemporer  dengan menggunakan media air untuk mengungkapkan warna yang tertempel pada suatu media kertas. Memang lebih terlihat ekspresif dengan alur warna yang lebih gemulai mengikuti gerakan air yang lebih lentur dan halus. Hal ini membuat karya-karya yang bergenre seperti ini lebih unggul dalam perpaduan alur warna yang dihasilkan. Karya ini memang lebih untuk mengungkap akan kelebihan yang ada pada karya yang diciptakan melalui kontoversi antara air dan minyak  sebagaipelarut warna-warna cat yang ada.
Penulis : Eko Kimianto, S.Pd
Alumni : Pendidikan Seni Rupa IKIP Semarang (UNNES)

PENDIDIKAN KARAKTER : SATU TELADAN LEBIH UTAMA DARI SERIBU NASEHAT

18.36 Edit This 0 Comments »
PENDIDIKAN KARAKTER : SATU TELADAN LEBIH UTAMA DARI SERIBU NASEHAT
         Pendidikan karakter terasa amat penting untuk saat ini. Disaat anak-anak bangsa ini mulai menjauh dari nilai-nilai moral dan religi. Seakan mereka telah lepas kendali dan semakin menjauh dari nilai-nilai luhur agama, budaya dan tata sosial yang dipegang teguh oleh bangsa ini. Mereka seakan sudah tak kenal lagi apa artinya sopan santun, adab pergaulan dan prinsip-prinsip pergaulan yang telah mendarah daging selama berabad-abad lamanya dalam diri bangsa Indonesia ini.
         Kekhawatiran akan semakin menjauhnya para tunas bangsa dari penanaman luhur norma budaya bangsa ini, perlu adanya solusi terbaik untuk lepas dari permasalahan ini. Di butuhkan adanya jalan keluar sehingga para pemuda mulai mencintai dan kembali pada jalan yang lebih mulia yaitu menerapkan kembali nilai moral agama dan budaya dalam kehidupan kesehariannya. Hal ini dibutuhkan pendidikan karakter yang lebih mengena pada sasarannya.
         Pendidikan karakter kiranya yang lebih tepat untuk diberikan pada anak-anak muda yang berkaitan dengan permasalahan moral tersebut.. Anak-anak muda ini tidak lain adalah anak-anak usia sekolah yang sedang menempuh pendidikannya di lembaga pendidikan formal maupun non formal. Baik yang berada dalam lingkup pendidikan yang berbasis agama maupun pendidikan yang bersifat umum. Penanaman pendidikan karakter terasa teramat penting dan mendesak untuk diberikan kepada mereka. Terlihat urgen dengan keadaan saat ini yang semakin menjauh dari nilai-nilai luhur budaya dan sosial.
         Pendidikan Karakter merupakan bentuk kegiatan manusia yang di dalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidik diperuntukkan bagi generasi selanjutnya. Tujuan pendidikan karakter adalah untuk membentuk penyempurnaan diri individu secara terus-menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju kearah hidup yang lebih baik. Aktivitas pendidikan sejak awal telah dijadikan sebagai cara bertindak dari masyarakat. Manusia mewariskan nilai moral yang menjadi bagian penting dari budaya masyarakat dimana tempat mereka hidup dan mewariskan nilai moral tersebut kepada generasi selanjutnya. Pendidikan memiliki peran penting karena pendidikan tidak hanya menentukan keberlangsungan masyarakat namun juga menguatkan identitas individu dalam sosial masyarakat yang berbudaya.
        Pendidikan karakter bukan hal baru dalam tradisi pendidikan di Indonesia. Beberapa tokoh pendidik Indonesia modern yang kita kenal seperti Ir.Soekarno telah mencoba menerapkan semangat pendidikan karakter sebagai pembentuk moral kepribadian dan identitas bangsa yang bertujuan menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berkarakter.
         Permasalahan pendidikan karakter di Indonesia sejauh ini menyangkut pendidikan moral dan dalam aplikasinya terlalu membentuk satu arah pembelajaran khusus sehingga melupakan mata pelajaran lainnya, dalam pembelajaran terlalu membentuk satu sudut kurikulum yang diringkas kedalam formula menu siap saji tanpa melihat hasil dari proses yang dijalani. Pendidik pun cenderung mengarahkan prinsip moral umum secara satu arah, tanpa melibatkan partisipasi siswa untuk bertanya dan mengajukan pengalaman empiriknya. Sejauh ini dalam proses pendidikan di Indonesia yang berorientasi pada pembentukan karakter individu belum dapat dikatakan tercapai karena dalam prosesnya pendidikan di Indonesia terlalu mengedepankan penilian pencapaian individu dengan tolak ukur tertentu terutama logik-matematik sebagai ukuran utama yang menempatkan seseorang menjadi yang terbaik. Dalam prosesnya pendidikan karakter yang berorientasi pada moral dikesampingkan dan akibatnya banyak kegagalan nyata pada dimensi pembentukan karakter individu.
        Pendidikan karakter merupakan aspek yang penting bagi generasi penerus. Seorang individu tidak cukup hanya diberi bekal pembelajaran dalam hal intelektual belaka tetapi juga harus diberi hal dalam segi moral dan spiritualnya, seharusnya pendidikan karakter harus diberi seiring dengan perkembangan intelektualnya yang dalam hal ini harus dimulai sejak dini khususnya di lembaga pendidikan. Pendidikan karakter di sekolah dapat dimulai dengan memberikan contoh yang dapat dijadikan teladan bagi murid dengan diiringi pemberian pembelajaran seperti keagamaan dan kewarganegaraan sehingga dapat membentuk individu yang berjiwa sosial, berpikir kritis, memiliki dan mengembangkan cita-cita luhur, mencintai dan menghormati orang lain, serta adil dalam segala hal.
         Lahirnya pendidikan karakter bisa dikatakan sebagai sebuah usaha untuk menghidupkan spiritual religius yang ideal. Foerster seorang ilmuan pernah mengatakan bahwa tujuan utama dari pendidikan adalah untuk membentuk karakter karena karakter merupakan suatu evaluasi seorang pribadi atau individu. Karakter individupun dapat memberi kesatuan atas kekuatan dalam mengambil sikap di setiap situasi.
         Pendidikan karakter pun dapat dijadikan sebagai strategi untuk mengatasi pengalaman yang selalu berubah sehingga mampu membentuk identitas yang kokoh dari setiap individu dalam hal ini dapat dilihat bahwa tujuan pendidikan karakter ialah untuk membentuk sikap yang dapat membawa kita kearah kemajuan tanpa harus bertentangan dengan norma yang berlaku.
         Pendidikan karakter pun dijadikan sebagai wahana sosialisasi budaya dan norma yang patut dimiliki setiap individu agar menjadikan mereka sebagai individu yang bermanfaat seluas-luasnya bagi lingkungan sekitar. Pendidikan karakter bagi individu bertujuan agar me]ngetahui berbagai karakter yang baik dari manusia, dapat mengartikan dan menunjukkan contoh prilaku berkarakter dalam kehidupan sehari-hari serta memahami sisi baik menjalankan prilaku berkarakter.
          Pendidikan karakter di sekolah harus lebih mengedepankan pada contoh.  Contoh yang dimaksud adalah adanya sesuatu yang dapat ditiru dalam penerapannya pada kehidupan sehari-hari secara nyata. Pendidikan karakter harus dimulai dengan adanya sosok yang dijadikan teladan nyata, bukan sekedar teoritis maupun ilustrasi belaka.
         Pendidikan berkarakter harus lebih mengutamakan pada penekanan kata bijak “SATU TELADAN LEBIH UTAMA DARIPADA SERIBU NASEHAT”. Memang terasa klise, tetapi makna yang terkandung sangat dalam sekali. Hal tersebut terutama ditujukan kepada pendidik dan pengambil kebijakan di dalam lingkungan proses pembelajaran tersebut. Mendidik memang tidak sekedar memberikan materi pelajaran. Mendidik bukan hanya mentransfer seperangkat ilmu. Tetapi lebih luas lagi yaitu memberikan wawasan yang lebih bermanfaat, memberikan bekal hidup berupa moral yang bermartabat disertai penguasaan ilmu yang lebih tinggi sejalan dengan perkembangan zaman.
          Satu teladan lebih baik daripada seribu nasihat, seperti itulah dalam memberikan suatu pendidikan. Kadang pendidik hanya sekedar memberikan nasihat saja, sementara perilaku yang baik sebagai cerminan dari seorang pendidik terkadang tidak diperlihatkan. Hal tersebut yang sangat disayangkan. Padahal anak didik sangat membutuhkan teladan dalam proses pendidikan yang sedang diikutinya.
            Dunia pendidikan memang tidak ada habisnya untuk dibahas. Selalu ada saja kisah unik dan menarik untuk dikupas secara ilmiah maupun hanya sekedar pembicaraan ringan saja. Banyak diantara para pendidik yang menuntut peserta didik agar nurut dan selayaknya “orang dewasa” yang tahu dan paham betul mana yang baik dan buruk. Pendidik melupakan bahwa apa yang di lihat oleh peserta didik didepan kelas merupakan figur yang layak di teladani, maka dari itu, mereka akan menirunya, bukan meniru apa yang telah dia ucapkan. Atau singkat kata dan dengan kalimat tegas bahwa perilaku anak didik adalah cerminan dari perilaku para pendidik saat berperilaku di depan kelas atau saat berada di lingkungan sekolah sebagai sarana proses pembelajaran mereka.
            Benar kata pepatah, 1 teladan lebih utama dari 1000 nasihat. Pendidik yang hanya banyak “suaranya” berharap si siswa takut dan respect, justru akan berbanding terbalik karna siswa tersebut akan semakin bandel dan kebal dengan suara nada-nada tinggi dan menjadikan siswa susah untuk dinasihati. Pendidik yang baik adalah seseorang yang dapat dicontoh dan dengan sadar memberikan teladan kebaikan yang ada pada dirinya. Kebaikan yang tercermin pada tingkah laku dan segala tindak tanduk dalam kehidupan kesehariannya. Apa yang dinasehatkan sesuai dengan apa yang dilakukan dalam kehidupan nyata, terutama yang dapat terlihat langsung oleh peserta didik dalam menyampaikan, menjalankan dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari dirinya.
          Memang setiap pendidik akan senang jika sesuatu yang ada disekitar dirinya terjadi sesuai keinginannya. Mereka menginginkan suatu perubahan pada sistem disekitarnya agar sesuai dengan keinginannya. Tapi sedikit sekali yang sadar bahwa perubahan suatu sistem itu harus dimulai dari diri kita  sendiri. Menginginkan sesuatu yang besar harus diawali dengan sesuatu yang kecil melalui sebuah proses. Orang bijak berkata bahwa "mengoreksi orang lain itu tidak istimewa, namun jika ada orang yang berani melihat kekurangan dirinya, bertanya tentang kekurangan itu secara sistematis, lalu membuat sistem untuk mengetahui kekurangan dirinya, ini baru orang yang istimewa". 
          Penekanan pendidikan berkarakter adalah pemberian figur yang dapat diandalkan sebagai teladan yang dapat dijadikan contoh dalam kehidupan keseharian para peserta didik. Teladan tersebut dapat diikuti atau ditiru dalam berbagai segi kehidupan, baik dibidang keilmuan maupun dibidang moral berupa norma agama, norma sosial maupun norma budaya yang ada dilingkungannya. Sehingga sesuailah jika pendidikan berkarakter adalah wujud nyata penerapan secara riil dari ungkapan “Satu Teladan Lebih Utama Daripada Seribu Nasehat”.

Penulis : Eko Kimianto, S.Pd
Alumnus Pendidikan Seni Rupa UNNES/IKIP Semarang
Pendidik di SMP Negeri 2 Gemuh, bidang studi Seni Budaya.